Perjuangan Cinta Arsyad

Perjuangan Cinta Arsyad
Bab. 38


__ADS_3

"Richard, tolong kirim proposal kerjasama kita kepada perusahaan Yordan Ltd Cooperation, apapun permintaannya dalam kontrak kerjasama kita penuhi semua persyaratan mereka dan atur pertemuan aku dengan direktur utamanya Bu Sarah Helens Daud Yordan," perintahnya Tuan Adam.


"Baik Tuan Besar,"


Arsyad membuat Pratiwi Andien berfikir sejenak memikirkan tentang apa persyaratan yang diajukan oleh Arsyad.


"Baik Abang akan penuhi apa yang kamu minta dan inginkan tapi, ada syaratnya," tuturnya Arsyad.


"Syarat!" Beonya Tiwi.


"Iya syaratnya mudah dan sangat gampang jadi, tidak perlu tampangnya seperti ini juga kali," Arsyad menoel hidung mancung nan bangirnya Tiwi.


"Tuan Muda Arsyad Shafiyyur Rahmany , bisakah tidak usah main tebak-tebakan deh, saya sedang dalam mode males main teka-teki," ketusnya Priska.


Arsyad malah tertawa mendengar perkataan ketusnya Tiwi, ia kemudian menangkupkan kedua tangannya di dagunya Tiwi," Pratiwi Andien Utomo persyaratannya Abang itu cukup mudah kamu hanya perlu mengecup bibirku saja jadi, kamu bisa pulang ke rumahku untuk tinggal bersama dengan Mama Sania dengan adikku yang cantik itu Arsyila Ardila Daud Yordan dan ada lagi orang yang sudah menunggu kedatanganmu di rumahku loh," imbuhnya Arsyad.

__ADS_1


Tiwi cukup terkejut dengan permintaan dari Arsyad, tapi diluar dugaan Arsyad Tiwi untuk pertama kalinya Ia mencium bibir seorang pria. Biasanya dulu Tiwi hanya mengecup pipinya sekilas jika mereka bertemu itupun kalau Arsyad memintanya terlebih dahulu. Tiwi tidak pernah meminta ataupun berinisiatif duluan.


Tiwi memegang tengkuk lehernya Arsyad lalu menariknya hingga bibir mereka saling bertemu. Kedua matanya Arsyad terbelalak melihat reaksinya Twi yang terbilang cukup berani.


Sudut bibirnya Arsyad  tertarik ke atas menanggapi sikapnya Tiwi, ia pun melingkarkan tangannya di pinggannya Priksa Oktaviani lalu mengeratkan pelukannya-pelukannya itu.


Tiwi entah apa yang terjadi padanya hingga tidak menolak apa yang dilakukan oleh Arsyad tersebut. Ciuman yang awalnya hanya sekedar biasa saja dan penuh kelembutan lambat laung semakin menuntut. 


Karena pasokan udara di dalam rongga hidung hingga ke pangkal tenggorokannya itu membuat keduanya segera mengakhiri ciumannya itu. Arsyad sekilas mengecup puncak bibirnya Tiwi yang terdapat sisa saliva mereka saling bertukar tadi. Priska segera menundukkan kepalanya karena malu dengan apa yang sudah ia lakukan itu.


"Abang sangat suka melihat wajahmu yang merona memerah itu, makasih banyak sudah ijinkan aku jadi orang yang pertama melakukannya, tapi ngomong-ngomong kamu sudah ijinkan Abang jadi mulai detik ini apapun yang kamu inginkan Abang akan penuhi jadi sebut saja apa yang kamu inginkan," ujarnya Arsyad.


"Tidak perlu ragu ataupun bimbang untuk mengatakan apa yang kamu inginkan ataupun pikirkan, kita ini calon suami istri loh kenapa meski segan seperti itu juga," tuturnya Arsyad.


"Apa saya utarakan saja keinginan yang selama ini aku pendam dan tempat itu selalu muncul di dalam mimpiku, tapi kalau pak Arsyad enggak bisa kan sama saja aku kecewa, karena mengingat Anang Arsyad itu cukup sibuk di perusahaan dan juga mama da papanya pak Arsyad apa tidak keberatan dengan permintaanku itu," Tiwi membatin seraya memelintir ujung hijabnya itu.

__ADS_1


"Tiwi, please jangan seperti ini, ingat Abang akan penuhi dan kabulkan apapun itu yang kamu inginkan, walupun kamu minta ke ujung dunia pun aku akan jabanin apalagi hanya di sekitar Indonesia tercinta saja," ungkap Arsyad yang kembali memegang dagunya Tiwi.


"Abang saya ingin pergi ke pantai Pangandaran Jawa," lirihnya Tiwi yang tidak berani memandang ke arah wajahnya Arsyad langsung.


"Kenapa kamu ingin pergi ke sana?" Tanyanya Arsyad.


"Sebenarnya, dari sejak dulu saya pengen ke sana tapi, karena tidak punya biaya yang cukup sehingga dengan terpaksa saya menunda keberangkatan ke sana, juga tempat itu selalu hadir di dalam mimpiku, aku seolah sudah pernah menginjakkan kaki di sana dengan seorang tapi, aku tidak tahu dia siapa," terangnya Tiwi yang berusaha untuk mengingat kejadian itu.


"Stop, jangan dipaksakan untuk mengetahui siapa orangnya, kondisi kamu belum pulih dan stabil total, jadi jangan sekali-kali berusaha untuk memaksakan dirimu untuk mengingatnya," cegahnya Arsyad.


Tiwi segera menyentuh tangannya Arsyad," Abang apa aku boleh ke sana? Apa Abang boleh antarin saya ke sana?" Rengeknya Tiwi.


Arsyad terdiam sesaat dan seolah sedang berfikir berat. Arsyad duduk di hadapan Pratiwi Andien sedang Tiwi duduk di ujung ranjang dengan kakinya berselonjor dengan mengayunkan kedua kakinya sembari menunggu keputusan dari Arsyad.


"Apa mimpi itu tentang kenangan yang pernah kami lalui bersama, tandanya ini adalah kemajuan yang cukup bagus, semoga kedepannya akan lebih mudah untuk mendapatkan kembali kepingan memory ingatannya yang hilang," 

__ADS_1


Tiwi mengernyitkan dahinya melihat sikapnya Arsyad yang terdiam seribu bahasa, "Abang jangan bilang Abang punya syarat lagi!" Dengusnya Tiwi sembari mendelikkan matanya.


Tiwi kembali tersentak kaget karena Arsyad tiba-tiba tertawa terbahak-bahak mendengar perkataannya Tiwi calon istrinya itu.


__ADS_2