
"Alhamdulillah terbuka juga,"
Arsyila cukup heran dengan suasana keadaan apartemennya Vero yang sedikit berantakan, banyak botol minuman kaleng dingin yang berserakan tidak seperti biasanya itu.
"Apa petugas kebersihan belum datang apa yang terjadi di dalam sini," tanyanya yang tidak pernah melihat kondisi seperti ini yang biasanya rapi.
Impian dan angan-angan yang sudah terlintas dibenaknya Arsyila Ardilla Daud Yordan berubah menjadi duka yang mendalam bagi perempuan berusia dua puluh tiga tahun itu.
Arsyila melupakan sejenak keadaan tersebut,ia menaiki undakan tangga satu persatu dengan tatapan matanya yang berbinar cerah saking bahagianya akan bertemu dengan Vero.
Handel pintu itu ia buka dengan penuh keyakinan, hingga mata dan telinganya sangat terkejut melihat apa yang terjadi di depannya itu. Saking tidak percayanya dengan penglihatannya sendiri hingga ia berulang kali mengucek matanya itu.
"Abang Vero Arlando Juno!!" teriaknya Arsyila yang mengeratkan genggaman tangannya itu.
Perempuan yang berada di atas tubuhnya segera turun dari atas sana dan buru-buru meraih bedcover yang tergeletak di atas lantai keramik. Vero terkejut dan wajahnya langsung pucat pasi ketakutan dan panik, karena apa yang dia lakukan ketahuan oleh calon istrinya itu.
Arsyila maju beberapa langkah dan tanpa basa-basi langsung menampar pipi perempuan itu hingga perempuan itu terhuyung ke belakang.
"Ini tamparan untuk perempuan lucknut sepertimu, kamu memang tidak pantas jadi sahabatku, andaikan bisa aku berdoa sama Allah SWT semoga besok dan seterusnya aku tidak akan punya lagi teman sepertimu yang merebut tunangan sahabatnya sendiri dengan cara kotor dan licik," sarkasnya Arsyila dengan menunjuk ke arah wajahnya Aura yang sama sekali tidak merasa bersalah sedikitpun telah merebut dan menjadi perusak pertunangan orang lain.
Tatapan membunuhnya sekarang terarah ke wajahnya Vero dengan jari telunjuknya yang berpindah itu, "Dan kamu jangan sekali-kali menyentuh tubuhku ini dengan tangan busukmu itu, aku sangat jijik disentuh oleh tangan yang sudah dipakai untuk menyentuh perempuan muuu raaa haan itu!" geram Arsyila.
Vero selalu ingin membuka mulutnya untuk berbicara tapi, sebelum berbicara sudah dicegah oleh Arsyila dan mendapat tatapan memelasnya Aura.
Aura tersenyum penuh maksud ke arahnya Arsyila sambil memeluk tangannya Vero hal itu bertujuan agar Vero tidak bergerak sedikitpun untuk membujuk Arsyila dan meminta maaf, "Abang aku akui aku memang yang salah, tapi Aku sangat mencintai Abang sejak pertama kali kita bertemu dan aku juga sudah hamil anak Abang, bagaimana dengan nasibku," ratapnya Aura yang sudah menangis tersedu-sedu meratapi nasib malangnya di depan Arsyila yang sengaja membuka kebenaran hal itu.
Vero sama sekali tidak bergeming sesuai dengan harapan dari Aura, Arsyila juga memberikan tamparan yang cukup keras diwajahnya Vero. Arsyila segera melepas cincin yang satu bulan lalu ia pakai itu dengan sekuat tenaga karena sedikit kesulitan untuk melepas dari jari manisnya itu.
__ADS_1
Arsyila melempar cincin pertunangannya ke arah badannya Vero dengan tatapan sinisnya dengan penuh amarah, "Ini cincin pertunangan kita, maaf mulai detik ini jangan pernah sekalipun muncul di hadapanku lagi apapun yang terjadi karena aku Arsyila Ardila Daud Yordan ha ram kan diriku untukmu lagi, ingat itu baik-baik!" Geramnya Arsyila yang berusaha untuk menahan air matanya itu.
"Satu hal yang perlu kalian ketahui aku bersumpah kalian tidak akan pernah bahagia jika, kalian menyakiti orang lain, karena apapun yang kita lakukan di dunia ini pasti akan mendapatkan balasan yang setimpal, ingat itu baik-baik dan silahkan nikmati kebahagiaan kalian diatas penderitaanku!" ketus Arsyila.
Arsyila kemudian berlari menuruni tangga apartemennya Vero hingga ia tidak berniat untuk menghadap ke arah belakang lagi. Arsyila terus berlari dan masuk ke dalam lift. Air matanya menetes membasahi pipinya itu hingga penampilannya berantakan karena kondisinya yang sudah tidak dalam kondisi yang baik-baik saja. Arsyila berlari ke arah jalan raya yang melupakan keberadaan mobilnya yang dipakainya itu.
"Aaaahhhh tidak!!" Teriakannya Arsyila kembali menggema di seantero kawasan elit apartemen tersebut.
Matanya terbuka dengan lebar melihat kenyataan yang begitu memilukan. Mata kepalanya sendiri yang menjadi saksi perselingkuhan calon suaminya itu. Pria yang begitu gigih berjuang untuk mendapatkan kasih sayangnya, pria yang sudah ia cintai setulus hatinya dan menerima pinangannya.
Tetapi,apa daya perjuangan untuk hidup bersama harus pupus dan kandas di tengah jalan. Setelah Vero dengan terang-terangan berselingkuh di depan matanya di dalam apartemennya dengan perempuan yang bekerja di perusahaan papanya sebagai sekretaris salah satu menejer di kantornya Arsyad Abangnya itu.
"Arsyila sayang, tunggu aku mohon dengarkan Abang!" Teriak Vero Arlando Juno yang meraih celana boxernya secepat kilat untuk mengejar Arsyila tunangannya itu.
Wanita yang sangat ia sayangi, tapi tidak mampu menahan keinginannya dan mengontrol dirinya ketika seorang perempuan rekan kerjanya itu terus menggodanya dengan bertubi-tubi. Perempuan itu bernama Aura Auliani Satria.
Aura menarik tangannya Vero untuk segera berhenti, "Vero stop! Percuma kamu kejar Nona Arsyila, dia sudah pergi dari sini dan saya yakin apa yang kamu lakukan akan percuma saja, ingat hubungan yang kita lakukan ini bukan sekali atau dua kali tapi seringkali sudah dan perlu kamu ketahui jika saya sudah hamil satu bulan calon anakmu, jadi aku minta kamu bertanggung karena ayah dan mamaku sudah tahu semua mengenai hubungan kita ini,"
Vero langsung menghentikan langkahnya, karena menurutnya apapun yang dia lakukan dengan kondisi dari emosi Arsyila yang meletup-letup dan siap meledak itu.
"Benar sekali apa yang kau katakan, Arsyila itu orangnya keras dan kuat pada pendiriannya jika, sudah ngomong a tidak bakal berubah apa pun yang terjadi," timpalnya Vero.
Aura tersenyum penuh kemenangan," akhirnya aku bisa menundukkanmu, aku berhasil membuatmu gagal menikah dengan Arsyila, cukup sudah keberuntungan dan kebahagiaan yang selama ini selalu ia peroleh sedangkan aku selalu menjadi bayang-bayangnya saja," batinnya Aura Auliani Satria.
Vero kembali melanjutkan apa yang sudah terjadi sebelumnya dengan mereka berdua. Vero sama sekali tidak peduli dengan terjadi pada Arsyila perempuan yang katanya sangat ia cintai itu karena, rayuan dan sentuhan dari Aura mampu membuatnya lupa daratan.
Aura hanya tersenyum penuh arti melihat sikapnya Vero yang tidak seperti biasanya yang tunduk dan patuh dengan perkataan dan masukan dari mulut berbisanya Aura.
__ADS_1
Sedangkan masih dialokasi area yang sama, terjadi kecelakaan maut antara pengendara mobil minibus berwarna hitam dengan seorang perempuan yang cantik.
"Aaaahhhh tidak!!" Teriakannya Arsyila kembali menggema di seantero kawasan elit apartemen tersebut.
Tabrakan itu tak terelakkan lagi karena, Arsyila yang berlari kencang tanpa memperhatikan dengan baik laju mobil dari arah barat sedangkan ia keluar dari area apartemen.
Arsyila terkapar di atas aspal dengan kondisinya yang cukup memprihatinkan karena, tubuhnya terlempar sekitar satu meter dari tempat berhentinya mobil.
"Tolong, ada kecelakaan!" Teriak seorang warga masyarakat yang melihat kejadian tepat di depan matanya yang secepatnya berlari untuk menolong korban.
Beberapa orang lainnya ikut berhamburan dan bergegas menuju ke depan mobil tersebut agar pengemudi supir mobil itu tidak kabur dari tanggung jawabnya.
"Telpon mobil ambulans, cepat!" Pinta pria itu.
"Cepat Pak bawa mobil ke sini, tidak perlu menelpon ambulans karena pasti membutuhkan waktu yang lama," ucapnya seorang Bapak yang sudah berniat untuk menghentikan mobil yang kebetulan melewati daerah itu.
Afrizal yang baru saja pulang dari joging melihat banyaknya orang yang berkerumun segera mendatangi orang-orang yang sedang berkumpul itu karena kepo dan penasaran dengan apa yang terjadi.
"Apa yang terjadi Pak, kenapa kalian?" Ucapannya terhenti ketika matanya melihat wajah perempuan yang sudah berlumuran darah akibat benturan keras kepalanya dengan aspal.
"Arsyila!" Pekiknya Afrizal Rayanza Dirgantara.
"Veri cepat bawa mobil ke sini!" Perintahnya yang menggeser beberapa orang yang menghalangi jalannya tanpa ragu dan aba-aba segera mengangkat tubuhnya Arsyila yang beberapa bagian pakaiannya sudah terkena noda darah segar.
Pria yang disapa Veri itu segera berlari kearah mobilnya yang kebetulan berada tidak jauh dari tempat kejadian kecelakaan maut itu.
Arsyila sudah dibaringkan di atas pangkuannya Afrizal dan Veri yang menyetir mobilnya. Arsyila dilarikan segera ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan yang tepat dan intensif dari tenaga medis.
__ADS_1
Sedang Aura dengan Vero Arlando Juno tidak ada hentinya saling membahagiakan dan meee muuuaas kaan dirinya masing-masing tanpa peduli dengan akibat dari ulah mereka sendiri. Penyesalan datangnya dibelakang Pak Vero yang terhidang.