
Baru sepersekian detik saja, Ibu Siska marah-marah dengan keputusan yang dipilih oleh putra tunggalnya itu, ia meremas baju bagian dadanya. Bu Nadia merasakan kesakitan yang sangat dan ia kesusahan bernafas hingga tubuhnya tidak mampu untuk menahan beban tersebut. Ibu Siska akhirnya terjatuh pingsan dan tubuh Bu Siska Nadia langsung ambruk ke atas lantai.
"Iya ayah kok hanya Tante jelek yang ada!" Dengus Nanda.
Baru saja Vero ingin menjawab pertanyaan dari salah satu anaknya itu, tiba-tiba sesuatu benda terjatuh berbunyi.
Bruk!!
"Nenek!!" Teriak Ninda dan Nanda.
"Nenek!" Teriak kedua cucu kembarnya itu.
Vero Arlando Juno segera berjalan cepat ke arah Bundanya yang sudah terkapar di atas lantai.
"Ninda sama Nanda sama Tante Aura saja dulu, Ayah akan antar nenek periksa di rumah sakit," perintahnya Vero yang segera memasukkan ke dalam tubuh perempuan yang disebut mama yang itu yang sangat kecewa, sedih dan hancur mendengar gagalnya pernikahan anak dan calon mantu idamannya itu.
"Ayah Ninda ikut bareng Papa!" Jeritnya Ninda yang langsung masuk ke dalam mobil bersamaan dengan adik kembarnya yang sudah berlutut di hadapan neneknya yang tubuhnya semakin dingin saja dan kaku.
__ADS_1
Aura pun ikut bersama mereka dan duduk di kursi depan. Berselang beberapa menit kemudian, sekitar mungkin lima menit lagi mobil mereka sudah sampai di depan loby rumah sakit. Nanda Ayuna Juno dan Ninda Ayuni Juno yang sedari tadi menggoyangkan tunuh neneknya agar segera bangun dan sadar dari pingsannya itu.
"Ayah! Kenapa tubuhnya Nenek kok enggak goyang?" Tanyanya Ninda.
"Iya tubuhnya Nenek juga semakin dingin padahal tadi tidak seperti ini kok," timpalnya Nanda.
Vero yang mendengar perkataan dari kedua putri kembarnya itu segera menolehkan kepalanya ke arah belakang. Vero segera mempercepat laju kecepatan kendaraannya. Vero nampak panik, takut dan cemas jika terjadi sesuatu padanya.
"Yes, kalau nenek tua itu meninggal dunia, aku jadi bebas untuk menguasai Mas Vero, kalau masalah anaknya nanti saya cari cara untuk masukkan ke asrama agar tidak ada pengganggu," batinnya Aura selingkuhannya Vero yang demi perempuan lucknut itu rela meninggalkan Arsyila Ardilla yang melebihi segalanya dari Aura.
Bu Siska sudah diruang UGD, sedang ditangani oleh tim dokter dan suster. Tapi, baru sekitar lima belas menit kemudian ditangani. Dokter langsung angkat tangan dan segera memerintahkan kepada perawat untuk mencatat waktu kematian Bu Siska. Dokter segera menemui Vero dengan yang lainnya.
"Dokter apa yang terjadi pada mamaku?" Tanyanya Vero yang sangat jelas terlihat ketakutan dan kecemasan yang berlebihan di mimik wajahnya itu.
"Dengan sangat,saya meminta maaf ya sebesar-besarnya kami sudah berusaha untuk menyelamatkan nyawa pasien,tapi Tuhan berkehendak lain mama Anda sudah meninggal dunia sekitar setengah jam yang lalu kemungkinannya beliau sudah menghembuskan nafas terakhirnya dalam perjalanan ke rumah sakit," jelasnya Pak dokter.
Tubuhnya Vero terhuyung beberapa langkah kebelakang, setelah mendengar perkataan dari Pak dokter. Air matanya langsung menetes membasahi pipinya, ia meremas dan mencengkram kuat rambutnya itu.
__ADS_1
"Ini tidak mungkin, tidak!!" Jeritnya Vero sambil bersandar di dinding tembok bercat putih gading itu.
"Nenek!! Jangan tinggalin kami nenek, siapa lagi yang akan rawat dan jagain kami jika nenek pergi tinggalin Nanda dan Ninda," keduanya menangis tersedu-sedu meratapi kepergian neneknya untuk selama-lamanya itu.
Aura tersenyum penuh kemenangan," syukur deh akhirnya nenek tua bangka itu sudah mampus, semoga Vero segera menikahiku setelah mamanya meninggal dunia," Aura membatin.
Vero tersungkur ke atas lantai, ia tidak menyangka jika ia melihat bundanya meninggal dunia dengan rasa sedih,kecewa dan hancur hatinya berkeping-keping yang mampu ia berikan untuk yang terakhir kalinya sebelum bundanya tutup usia.
"Ya Allah… astagfirullah aladzim maafkan aku ini semua gara-gara saya sehingga bunda harus meninggal dunia," ratapnya Vero penuh dengan penyesalan.
Suara tangisan ratapan Vero terdengar dengan jelas dari telinga semua pengunjung rumah sakit termasuk Bu Sania Marwah bersama dengan Farrel Lindan Winata berhenti sejenak untuk melihat keadaan apa yang sedang terjadi, tapi langkah kedua orang itu terhenti ketika melihat dengan jelas seorang pria berselonjor kakinya dengan kedua anak kembarnya menangis tersedu-sedu dengan seorang perempuan yang berdiri seolah tak punya hati nurani perasaan berbela sungkawa sedikitpun.
"Farel karma ia real,"cicitnya Bu Sarah Helen Daud Yordan.
"Betul sekali Nyonya Besar, padahal sebelum aku meninggalkan rumahnya Bu Siska masih sehat saja, walaupun sempat sih aku perhatikan raut wajahnya seperti sangat shock dan terpukul dengan fakta yang didengarnya itu," timpal Farel sang asisten pribadinya Bu Sania.
"Semoga saja di dunia ini hanya Vero Arlando Juno sebagai seorang anak satu-satunya di dunia ini yang menyebabkan perempuan yang penuh perjuangan mengorbankan nyawa dan hidupnya untuk melahirkan dan membesarkannya dengan susah payah," tuturnya Bu Sania.
__ADS_1