Permainan Anak Kembar

Permainan Anak Kembar
Kembar 25


__ADS_3

...I know it may sounds cheesy. Be grateful for what you have now is simply the key to happiness 😊...


...•••••••••••••••••••••• ...


Penyelesaian 🔥


Saat menerima gaji bulan ini, Ercilia terkejut. Jumlah uangnya tidaklah berkurang sama sekali. Ercilia masih ingat, dia harus bertanggung jawab untuk mengganti ponsel yang tidak sengaja dia senggol dan terjatuh. Ercilia pun sudah menyetujui untuk menggantinya dengan cara mencicil dari uang gajinya.


Pasti ada yang salah!


Apakah boss keliru menghitungnya?


Tidak mungkin beliau lupa kan?


Berbagai macam pikiran yang mampir di benaknya. Akhirnya dia mendatangi bos nya. Dia pun menghampiri meja kasir.


"Permisi bu." kata Ercilia memulai percakapan.


"Mungkin ada yang salah dengan gajiku bulan ini. Kemarin aku diminta untuk mengganti ponsel yang terjatuh itu, dan tentunya mulai bulan ini gajiku sudah mulai di potong."


Ibu pemilik toko baju itu tersenyum, lalu menjawab.


"Sudahlah. Saya pikir masalah itu sudah selesai dan tidak usah kamu pikirkan. Dan prihal gajimu. Saya rasa kamu lebih membutuhkannya. Jadi tidak perlu di potong."


"Sudah selesai? Maksudnya bagaimana?" Ercilia masih tidak paham."


Lagi-lagi wanita pemilik toko itu tersenyum.


"Yang harus kamu lakukan hanya, bekerja lebih giat dan berhati-hati lah."


"Terima kasih bu. Saya permisi."


Ercilia jadi semakin bingung.


Apakah Wira yang telah menyelesaikan semua ini? Seperti dia menyelesaikan pinjaman beasiswa ku dulu?


Didorong rasa penasaran, Ercilia pun berencana akan membicarakan hal ini pada Wira.


Ercilia pun yakin......


°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°

__ADS_1


Malam hari, saat Dika menjemput. Ercilia tidak langsung menyinggung persoalan itu. Tapi, ketika mereka sampai di warung nasi goreng untuk makan malam, Ercilia berpikir mulai membicarakannya. Malam ini warung makannya cukup sepi karena bukan hari libur.


"Wir." kata Ercilia,


"Aku selaluu.... Membuatmu repot dan susah. Maafkan aku Wir."


"Oh ya?" Dika menjawab sambil tersenyum ada Ercilia yang duduk di sebelahnya.


"Aku tidak pernah menyadari itu. Dan, sepertinya kamu malah tidak pernah meminta aku untuk direpotkan."


"Wir.. Seharusnya kamu tidak perlu melakukan itu. Itu tanggung jawabku."wq kata Ercilia kemudian.


"Memangnya aku melakukan apa?" Dika benar-benar telah melupakan apa yang telah dia lakukan.


"Ka..kamu tidak perlu mengganti ponsel itu."


"Oh. Soal itu." sahut Dika santai.


"Aku sudah berjanji pada bosku untuk mencicilnya dengan gajiku." jelas Ercilia lagi.


"Kamu tidak perlu melakukan itu." ujar Dika dengan lembut.


"Kamu yang jangan melakukan itu. kamu sudah sering kali membantuku, aku banyak membuat kamu susah. Aku....."


"Lupakan saja." katanya sambil mencium kening Ercilia singkat.


Dika tidak tahu bahwa apa yang dia lakukan adalah hal yang sering Wira lakukan untuk menenangkan hati kekasihnya itu.


••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••


Siang itu, Dika baru saja memarkirkan sepeda motornya di kampus Wira dan langsung berjalan bersama Ercilia memasuki kelas kampus. Agung mendatanginya dengan terburu-buru.


"Wiraaaa, gawat!" kata Agung pada Dika.


"Mereka melakukan taktik licik."


Jantung Dika berdetak cepat. Urusan apa lagi ini? Dika tidak berani dan menjawab apa-apa karena tidak paham sama sekali dengan apa yang di katakan Agung. Karenanya, Dika hanya menatap Agung dengan pandangan seolah meminta penjelasan. Berharap Agung melanjutkan maksudnya.


"Rektorat berencana hanya memecatmu, Wir." lanjut Agung.


"Mengapa?" tanya Dika spontan.

__ADS_1


"MENGAPAAA??" Agung setengah berteriak mengulanginya.


"Astagaaaa Wira.. Ya karena majalah kita. Memangnya apa lagi pikirmu?"


Dika baru paham.


"Oh sorry. Aku lagi banyak pikiran. Jadi tidak langsung paham apa maksudmu." kata Dika kemudian.


Agung pun tersadar.


"Maaf, aku juga lupa kamu baru kehilangan saudaramu. Aku benar-benar terkejut saat tadi mendengar berita itu."


Akhirnya mereka pun kemudian melangkah menuju ruangan Pers majalah dan memasukinya. Ercilia masih menemani Dika karena juga ingin tahu bagaimana kelanjutan masalah itu.


Di ruangan itu. Beberapa mahasiswa yang lain sudah berkumpul. Mereka telah siap untuk membicarakan masalah itu. Tapi Dika yang tidak siap. Dia sama sekali tidak tahu harus bagaimana membicarakan masalah majalah itu. Dia belum memiliki gambaran yang jelas dan gamblang menyangkut kasus ini. Wira selalu mengatakan dengan yakin jika masalahnya ini tidak akan segawat ini. Dan Wira pun yakin Dika tidak akan diusik oleh kasus ini selama mereka saling bertukar tempat.


Tapi, dugaan Wira meleset. Sekarang, Wira telah meninggal. Dika jadi merasa idiot. Dika tahu para mahasiswa yang berkumpul ini tengah menunggu nya untuk berbicara. Namun, Dika tidak tahu harus bagaimana mana memulai rapat ini.


"Wir......," Agung mengingatkan.


"Ehmm....," Dika memulai dengan bingung.


"Ak...aku.. Aku. Sedang bingung saat ini. Bisakah kamu yang memulai rapat ini?" Dika mengarahkan tatapannya pada Agung.


Agung pun segera mengangguk dengan ekspresi memaklumi.


Mungkin Wira masih kalut atas kepergian saudara kembarnya. Dan, langsung dihantam berita ini. Pikir Agung.


Agung pun mulai membuka rapat itu. Dika pun memakai seluruh konsentrasi nya untuk memahami masalah ini.


"Masalah kita dengan dewan kampus menemui jalan buntu." kata Agung memulai rapat sambil mengedarkan pandangannya pada teman-temannya semua.


"Berita yang kita muat dalam majalah itu telah membuat masalah yang sangat serius. Dan rektorat pun menanggapinya secara sangat serius pula. Beberapa waktu yang lalu, kami dipanggil untuk membicarakan masalah ini. Namun negosiasi kami tidak menemukan jalan keluar. Dan para dewan kampus mengancam akan memecat kami dari kampus, jika permintaan itu tidak dipenuhi, dan Wira...." Agung mengarahkan pandangannya pada Dika.


••••••••••••••••••••••


Selamat hari SENIN KECE . . .


Vote Vote Vote 😎


Jangan lupa RATE, LIKE, COMENT, ❤️

__ADS_1


Terimakasih semua ☕😎


__ADS_2