
...Kenapa harus mengingat yang sudah hilang, tetapi tidak melihat yang ada di depan mata. ...
...Kenapa masih meratapi yang tidak bisa kamu miliki, sedangkan kamu bisa mensyukuri apa yang kamu punya. ...
...Ingat! ...
...Semua terlahir spesial dibumi...
...Awan dengan langitnya ...
...Planet dengan bulannya...
...Kamu dengan ku, dengan segala kekurangan ku ...
...••••••••••••••• 🕶️🕶️🕶️🕶️🕶️ •••••••••••••...
Malam ini, setelah menjemput Ercilia dari tempat kerjanya. Dika mengajak Ercilia ke rumah makan yang cukup mewah dan romantis. Di sana, mereka menikmati makan malam dengan suasana hening, tidak ada percakapan antara keduanya.
"Tidak biasanya kita ketempat seperti ini?" ujar Ercilia membuka suara setelah selesai makan.
"Sesekali aku sedang ingin menikmati suasana yang hening seperti ini bersamamu." jawab Dika. Mereka duduk berhadapan hanya dipisahkan oleh meja.
Dika tidak tahu, harus memulainya dari mana. Ya, hari ini Dika ingin mengungkapkan isi hatinya pada Ercilia.
Bagaimana sekarang?
Dia sungguh bingung, walaupun dia biasa mengencani teman-teman wanitanya. Tapi untuk ini berbeda. Jarum jam terus berputar namun belum ada satu kalimat pun keluar dari bibir Dika. Dika hanya menatap wajah Ercilia.
"Apakah terjadi sesuatu?" tanya Ercilia karena dia merasa suasana semakin hening.
"Iya." jawab Dika.
"Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu." lanjutnya kemudian.
"Tentang?"
"Tentang hatiku." jawab Dika sambil terus menatap wajah Ercilia.
Ercilia seketika menundukkan wajahnya.
"Cil.... " panggil Dika perlahan.
"Aku merasa.... Aku harus menyatakan kepadamu, aku mencintaimu Cil... "
__ADS_1
Ercilia mengangkat wajahnya. Sejenak dia membalas tatapan Dika. Kemudian dia menundukkan wajahnya kembali.
Dika berkata kembali.
"Aku tahu mungkin aku tidak layak mengungkapkan ini kepadamu, karena kamu kekasih Wira. Aku tahu, Sosok Wira telah menyita semua ruang di hatimu. Tapi, maukah kamu menyisihkan sebagian ruang itu untukku?"
"Dik, aku merasa tidak mungkin mengantikan Wira dengan orang lain." kata Ercilia lembut.
"Namun, aku pun menyadari, sebesar apa pun aku mencintai Wira, dia telah berlalu..... "
"Cil, bolehkah aku menetap di tempat yang dulu milik Wira di hatimu?" tanya Dika penuh harap.
"Bukan sebagai penggantinya, tapi sebagai Cinta yang baru?"
Ercilia merasakan debaran jantung yang bergemuruh sebelum pada akhirnya dia menganggukkan kepala.
°°°°
°°°°
°°°°
Semenjak malam itu, malam di mana Dika jujur mengungkapkan isi hatinya. Kebersamaan Dika dengan Ercilia pun mengalami banyak perubahan. Mereka bukan lagi sekedar dekat, namun juga mesra. Kedekatan itu pun tercium oleh Rebecca dan orang tua Dika.
"Dika, Bunda lihat kamu sepertinya makin dekat dengan Ercilia." kata Mawar
"Kami sudah jadian Bun."
Mawar jelas kaget.
"Kamu serius?" tanya Mawar, seolah tidak percaya dengan apa yang dia dengar."
Dika mengangguk yakin.
"Kamu tidak sedang bermain-main seperti dulu kan?"
"Bun, aku tidak ada niat untuk mempermainkan Ercilia." jawab Dika dengan sungguh-sungguh.
"Lalu bagaimana dengan Rebecca?" tanya Bunda Mawar seolah mengingatkan Dika.
"Ada apa dengan dia?"
"Dia bukan pacarmu?" tanya Bunda Mawar lagi.
__ADS_1
Dika tertawa kecil.
"Bun, Dika pun baru mengenalnya. Dika hanya berteman dengan dia."
"Tapi kamu sudah bikin anak orang berharap. Apa bahasa gaulnya anak jama. Now itu Dik?"
"Baper? Ya salah dia sendiri."
Plak.. Plak..
Mawar memukul lengan Dika keras.
"Sakit Bun.... " teriak Dika.
"Rasakan. Makanya jangan seenaknya main-main sama perasaan wanita. Ingat Dika Bunda ini juga Wanita. Ingat kamu lahir dari rahim seorang wanita." omel Bundanya.
"Iya Bunda ku sayang. Dika sangat paham, sangat tahu itu."
"Lalu mengapa kamu seperti itu."
"Seperti apa si Bunda. Dengar ya Bun, Dika tidak pernah melakukan atau menyatakan Cinta pada Rebecca. Kalau dia baper karena kebaikan Dika. Artinya dia yang tidak tahu menempatkan hatinya." jelas Dika.
Benar saja, tidak harus menyalahkan orang lain atas apa yang mereka lakukan. Terlebih mereka melakukan hal-hal normal. Kerusakan hatimu bukan salah orang lain, tapi salah dirimu sendiri yang tidak bisa menjaga hatimu yang ingin lebih.
"Jadi kamu benar-benar serius pada Ercilia?" tanya Bunda Mawar serius.
"Bunda bisa pegang janji Dika." jawab Dika tidak kalah serius.
Dika benar-benar menepati janjinya. Yakin bahwa Ercilia adalah Cinta sejatinya. Dika meminta keluarganya untuk melamar Ercilia. Itu hanya berselang beberapa bulan dari dia mengatakan cintanya pada Ercilia. Namun, mereka memutuskan untuk bertunangan dahulu, selang dua bulan kemudian keduanya sepakat akan membicarakan waktu perkawinan keduanya.
...••••••••••• ...
Ercilia
Mahardika
Rebecca
__ADS_1