
Rebecca merasa di kalahkan. Dan, dia tidak terbiasa di kalahkan. Semenjak menyadari keindahan yang dimilikinya, Rebecca tahu bagaimana caranya untuk menang. Juga menjadi pemenang. Dia sangat tahu bagaimana caranya menaklukkan lelaki mana pun yang dia inginkan. Apalagi Dika yang terbiasa hidup di kota, dia sangat tahu bagaimana cara lelaki kota bersenang-senang.
Aku tidak bisa dikalahkan! Batinnya.
Apalagi, dikalahkan oleh seorang perempuan seperti Ercilia.
Dika benar-benar buta, pikirnya.
Bagaimana mungkin dia bisa menyisihkan dirinya dan lebih memilih perempuan kampungan macam itu. Terlebih itu perempuan bekas pacar saudaranya.
Selera Dika sangat buruk!
Semenjak sekolah, Rebecca tahu semua karakter laki-laki. Dia pun tahu cara menundukkan nya. Tetapi Dika seperti Benteng tidak tertembus. Ada kalahnya Rebecca merasa telah menyentuh inti kelemahan lelaki itu. Namun, ada kalanya pula dia merasa tidak yakin akan hal itu. Rebecca sangat tahu, kesulitan utamanya adalah kehadiran Ercilia yang seharusnya hilang seiring dengan hilangnya sosok Wira.
Dulu, saat pertama kali melihat Wira di rumah sakit, Rebecca benar-benar terkejut karena tidak tahu jika Wira memiliki saudara kembar. Dan dia sungguh jatuh hati pada sosok lelaki itu. Dia sekarang tidak perduli mau itu Wira ataupun Dika. Dia sangat menginginkannya. Dan, jika Rebecca menginginkannya, maka dia harus memperoleh nya.
Dan malam ini, Rebecca merasa adalah waktu yang tepat untuk menghubungi lelaki itu. Namun diluar dugaan. Dulu lelaki itu sangat merespon nya, bahkan langsung datang ke rumahnya untuk berkencan. Sekarang? Siapa sangka lelaki itu benar-benar mengacuhkannya?
Apa sebenarnya yang dimiliki perempuan itu?
Lalu, tidak lama dia mendengar berita yang amat mengejutkan. Seorang teman mengabarkan bahwa keluarga Dika telah datang melamar perempuan itu. Mereka kini telah bertunangan.
Jadi lelaki itu benar-benar BUTA!
__ADS_1
Namun, rebecca tidak perduli, Dika buta atau tidak, Rebecca semakin merasa kalah. Dan jika dia dikalahkan, dia pun tahu bagaimana cara membalas kekalahannya.
Jika Dika tidak bisa dihubungi , maka langkah yang tepat adalah mendatanginya.
Ya benar. Aku harus ke rumahnya.
°°
°°
°°
Keesokan harinya
"Becca? Ada apa." tanya Dika. Ketika keluar rumah dia mendapati Rebecca.
"Lama tidak bertemu, kamu apa kabar?"
"Duduklah." Ajak Dika. Mereka pun duduk di teras rumah Dika.
"Kamu sibuk banget ya, sampai telepon dan pesanku tidak di respon sama sekali." tanya Rebecca dengan wajah sedih.
"Maaf, aku ada sedikit urusan. Kadang tidak menyadari jika ada pesan atau telepon yang masuk."
__ADS_1
"Aku pikir kamu sengaja menghindari ku."
"Tidak seperti itu, beberapa hari ini aku memang sedang sangat sibuk mempersiapkan acara pertunangan ku." jawab Dika jujur. Dia berharap dengan mengetahui ini Rebecca akan berhenti.
"A...aappa kamu sudah bertunangan?" tanya Rebecca pura-pura terkejut.
"Iya," kata Dika sembari tersenyum.
"Selamat ya, kenapa kamu tidak mengundangku. Aku bisa membawakan mu durian yang banyak."
Tawa Dika pecah
"Kamu masih ingat saja soal durian itu."
"Dan jangan lupa kita belum memakannya. Bagaimana kalau nanti malam kita keluar mencari durian?" ajak Rebecca.
Dika sedikit ragu, namun dia berpikir tidak ada salahnya menuruti permintaan Rebecca. Anggap saja ini untuk terakhir kalinya mereka jalan berdua. Sekaligus menebus rasa tidak enaknya pada gadis didepannya ini. Sosok gadis yang jujur saja pesonanya sempat membuat Dika terbuai sebelum hilangnya sosok Wira.
"Baiklah. Nanti malam kita cari durian."
Yes!
Aku pastikan kamu akan jadi milik ku Mahardika.
__ADS_1
••••••••••••••••