Permainan Anak Kembar

Permainan Anak Kembar
Kembar 43


__ADS_3

...Mencoba berharap lebih adalah sebuah seni untuk menyakiti diri sendiri. ...


...••••••••••••••• 🕶️🕶️🕶️🕶️🕶️ •••••••••••••...


Dua hari setelah kedatangan Rebecca, kali ini dia datang kembali. Dia datang menjelang malam hari sambil membawa sekeranjang besar buah-buahan. Saat membukakan pintu untuknya, Bunda Mawar menyambut dengan senyum ramah.


"Assalamualaikum tante," sapa Rebecca sopan.


"Wa'alaikumsalam nak Becca," jawab Mawar.


Mawar langsung menuntun Rebecca ke kamar Dika. Wajah Dika masih nampak pucat dan lemah.


"Hei," sapa Rebecca dengan ceria.


"Kamu datang?" balas Dika dari tempat tidur.


"Apa kamu keberatan aku ke sini lagi?"


"Tidak. Aku hanya bercanda."


Mawar segera berlalu. Rebecca duduk di dekat Dika berbaring. Setelah menaruh keranjang besar yang si bawanya ke atas meja, Rebecca menjelaskan apa yang dia bawa. Masih seperti kemarin,


"Apel? Anggur? Pepaya? Mangga? Jeruk?"


"Kamu tidak membawa durian?" tanya Dika sambil tersenyum.


"Jadi kamu benar-benar ingin makan durian?" Rebecca tertawa.


"Jangan khawatir, jika kamu sudah sembuh aku akan mencarikan mu durian sebanyak-banyaknya!" goda Becca.


Dika selalu terhibur dengan gaya Rebecca yang ceria dan penuh senyuman.


"Aku jadi merasa sehat setelah melihatmu."


"Wah bahaya tuh, bisa bangkrut apotik jika orang sakit seperti mu." kata Rebecca sambil tersenyum


Dika pun tertawa.

__ADS_1


"Jadi kamu mau makan apa sekarang?" tanya Becca kembali menawarkan.


"Anggur saja."


°°°°


Saat Dika dan Rebecca asik bercanda. Di depan Ercilia datang. Dia datang membawa bungkusan di tangannya. Bunda Mawar yang masih duduk-duduk di ruang tamu melihatnya lalu membukakan pintu.


"Ercilia....," sapa Mawar dengan senyum ramah seperti biasa.


Ercilia mencium tangan Mawar, kemudian bertanya.


"Dika ada kan Bu?"


"Tentu saja," jawab Mawar dengan ramah.


"Dia ada di kamarnya. Badannya masih lemah. Ayo, ibu antar ke sana." ajak Mawar.


Mawar pun membawa Ercilia menuju kamar Dika. Sesampainya di depan pintu kamar yang terbuka lebar, langka Ercilia tertahan tiba-tiba melihat Dika tertawa dengan sesosok perempuan yang tidak dia kenal.


Siapa perempuan ini? Batinnya.


"Hei Cil..... " sambut Dika yang melihat kedatangan Ercilia.


Ercilia tersenyum pada Dika yang masih terbaring di atas tempat tidur. Kemudian Ercilia melangkah ke dalam kamar. Lalu meletakkan bungkusan yang dibawanya di atas meja, pas bersebelahan dengan keranjang besar yang sudah ada di sana lebih dulu.


"Sudah agak baikan?" tanyanya kemudian.


"Lumayan," jawab Dika.


Ercilia menarik kursi yang ada dibawah meja belajar Dika. Kemudian duduk. Tiba-tiba kamar itu menjadi sunyi dengan pikirannya masing-masing. Suasana nampak kikuk.


Rebecca berfikir, mungkin inilah pacarnya Wira. Sedangkan Ercilia sendiri berfikir, Apakah ini pacar Dika?


Rebecca masih duduk dipinggir kasur berdekatan dengan Dika. Tetapi, kemudian dia menyadari bahwa tempat yang diduduki nya sekarang lebih layak jika di duduki oleh Ercilia. Maka dari itu, Rebecca pun berdiri dan berkata.


"Aku pulang dulu ya."

__ADS_1


Bersamaan dengan Ercilia pun mengatakan hal yang sama. Mereka saling berpandangan, salah tingkah. Rebecca yang sadar terlebih dahulu lalu berkata


"Aku sudah dari tadi kok, aku duluan." ujarnya sambil keluar dari kamar Dika buru-buru. Meninggalkan Dika dan Ercilia berdua.


Ercilia tidak berpindah tempat, dia masih duduk di posisinya. Sekarang dia menatap ke arah Dika yang terbaring lemah.


"Terima kasih sudah menyempatkan diri mau datang." ujar Dika.


"Maafkan aku baru bisa datang sekarang." jawab Ercilia masih kikuk.


"Kamu pasti sakit karena sering kehujanan karena menjemputku." lanjutnya.


"Tidak juga." jawab Dika.


"Aku minta maaf, atas apa yang terjadi kemarin."


Dika menggelengkan kepala


"Kamu tidak perlu minta maaf untuk apa pun."


"Tapi aku banyak menyusahkanmu Dik."


Dika tersenyum. Untuk pertama kalinya Ercilia mau berbicara banyak padanya setelah 'permusuhan' kemaren.


"Aku pernah mengatakan padamu, jika aku senang melakukannya Cil."


"Tapi akibatnya sekarang kamu jatuh sakit Dik." sesalnya.


"Aku tidak apa-apa. Paling beberapa hari lagi aku sembuh." kata Dika menenangkan hati Ercilia.


Mereka terdiam. Ercilia teringat pada bungkusan yang dibawanya.


"Kamu sudah makan?" tanya Ercilia.


•••••••••••••••••••••••••


Jangan lupa RATE, LIKE, COMENT, ❤️

__ADS_1


Terimakasih semua


__ADS_2