
...Hujan tidak selalu tentang mendung dan petir. Tetapi terkadang ada juga pelangi setelahnya....
...Begitu juga dengan perjuangan....
...Tidak hanya tentang lelah dan pahitnya. Tetapi ada juga bahagia setelahnya....
...••••••••••••••• 🕶️🕶️🕶️🕶️🕶️ •••••••••••••...
Di warung makan itu, Dika buru-buru memesan dua gelas (plastik) teh hangat. Serta mengambil beberapa perkedel dan tahu goreng yang kebetulan ada di meja. Buru-buru juga dia kembali ke tempat Ercilia berada. Dika dengan hati-hati berlari, membawa bungkusan yang baru saja dia beli. Sesampainya di hadapan Ercilia, Dika membuka sedotan ke dalamnya. Lalu menyodorkannya pada Ercilia.
"Minumlah ini, agar tidak terlalu kedinginan." ujar Dika.
Ercilia ingin menerima bungkusan teh hangat itu. Namun, tangannya sangat lemah. Dika membantu memeganginya. Ercilia kemudian meneguk teh hangat itu dengan sedotannya.
Ercilia menjauhkan teh dari mulutnya. Melihat itu, Dika menyodorkan perkedel dan tahu yang tadi dia sempat beli juga. Ercilia mengambil dan memakannya beberapa. Dika menatap Ercilia yang sedang mengunyah gorengannya. Hatinya menatap Ercilia khawatir, melihat keadaan gadis yang di cintainya itu. Setelah Ercilia selesai makan, Dika kembali mendekatkan teh hangat pada Ercilia. Kali ini Ercilia mampu memegangnya sendiri. Dika pun lega melihatnya. Wajah Ercilia tidak sepucat tadi, Dika menyodorkan gorengan lagi tapi Ercilia menggeleng .
"Sudah lebih baik?' tanya Dika prihatin.
Ercilia mengangguk.
"Mungkin kamu kekurangan darah Cil. Apa kamu telat makan tadi?"
"Besok periksalah tekanan darahmu." kata Dika lagi.
__ADS_1
Ercilia menatap Dika. Tubuh pria itu basah kuyup. Dan Ercilia baru menyadari jika dia dan Dika sedang bermusuhan, lebih tepatnya dia yang sedang tidak ingin melihat Dika. Tapi, rasanya semua itu sulit untuk dilanjutkan setelah semua yang terjadi ini. Meski tadi terjadi di luar kesadarannya.
Akhirnya Ercilia berkata.
"Kamu basah sekali Dik."
"Tidak apa-apa." jawab Dika.
Kemudian keduanya terdiam. Hujan lebat masih turun.
"Kamu masih pusing?" tanya Dika.
"Agak berkurang." jawab Ercilia lalu menatap Dika.
Hening....
Dika memperhatikan Ercilia.
"Aku tidak membawa jas hujan. Aku akan menunggu hingga hujan sedikit reda."
"Aku antar pulang ya?"
Ercilia pun mengangguk.
__ADS_1
Di bawah hujan deras dan langit gelap. Dika menyaksikan malam dan cahaya terang. Dika tersenyum dalam hati. Tawaran untuk mengantar Ercilia pulang tidak di tolak.
Apakah ini pertanda jika kau sudah memaafkan ku Cil?
...••••••••••••••...
semalam mereka pulang sekitar jam sebelas malam. Hujan turun masih sangat deras, mereka terpaksa menerobos. Karena mungkin saja hujan tidak akan reda menjelang pagi. Sampai di rumah Ercilia, kedua orang tua Ercilia segera membukakan pintu. Wajah kedua orang tua itu cemas. Tapi, ketika melihat Dika bersama anaknya. Mereka pun terlihat lega.
"Bapak pikir Ercilia sendiri. Untung saja ada kamu nak." kata ibu Ercilia.
Dika menjawab dengan sopan.
"Kebetulan saya pas lewat di sana Bu."
Sementara Ercilia sudah masuk ke dalam rumah. Bapak Ercilia melihat pakaian Dika yang basah, dan meminta sang istri mengambilkan handuk bersih. Namun, Dika menolak secara sopan. Dia ingin langsung pulang saja.
Dika nampak lega. Karena kejadian ini setidaknya Ercilia sudah mau berbicara dengannya. Meski terlihat masih kaku. Dika menyadari Ercilia tidak mungkin secepat itu melupakan Wira. Juga tidak mungkin secepat itu juga memaafkan dirinya. Dika sangat menyadari bahwa kesalahan yang telah di perbuatanya merupakan kesalahan besar. Walaupun dia juga tahu semua yang terjadi bukan sepenuhnya kesalahan dia semata.
•••••••••••••••••••••••••
Jangan lupa RATE, LIKE, COMENT, ❤️
Terimakasih semua
__ADS_1