Permainan Anak Kembar

Permainan Anak Kembar
Kembar 64


__ADS_3

Setiap kali mendengar kata 'tunanganku' darah Wira langsung mendidih. Dika tahu bahwa senjata itulah yang selalu mampu membungkam mulut saudara kembarnya. Wira hanya sekedar pacarnya, sementara dialah yang lebih unggul. Dika sudah bertunangan dengan Ercilia.


Bug bug BUG BUG


Wira mendaratkan tinjuan nya pada wajah Dika.


"Akulah yang sejak dulu melakukan hal itu padanya. Itu urusanku Dika!" teriak Wira.


"Tapi itu telah menjadi urusanku sekarang!" balas Dika sambil memegangi pipinya yang terasa panas.


Sebelum perang terus berkobar, Bunda Mawar segera mengambil alih.


"Bunda tahu itu tidak adik buatmu Wir, tapi Ercilia butuh ketenangan saat ini...."


"Bun," potong Wira lagi. "Tolong beri aku kesempatan satu kali saja untuk bertemu dan berbicara dengan Ercilia. Bun, aku telah berpisah dengannya hampir satu tahun. Dan aku belum pernah berbicara dengannya." ekspresi wajah Wira tampak sangat nelangsa.


Bunda Mawar mendesah pelan, terlihat keletihan dari wajahnya. Sang Ayah yang sedari tadi diam pun angkat bicara.


"Baiklah, mungkin memang tidak adil dan sedikit keterlaluan jika kita tidak memberikan kesempatan Wira untuk menemui Ercilia. Bagaimana pun juga, Ercilia masih pacar Wira."


"Yah," Dika langsung melotot pada Ayahnya. "Tapi sekarang aku tunangan Ercilia Yah."

__ADS_1


"Dika! STOP megatakan kata itu." Wira kembali panas.


"Tapi memang itu kenyataannya Wir!"


Wira siap-siap maju untuk memukul Dika lagi. Tapi langsung di tahan oleh Ayahnya.


"Bisa tidak kalian ini berfikir secara dingin." suara Ayah Putra sudah meninggi.


"Dan kamu Dika, Ayah masih ingat kamu dan Ercilia sudah bertunangan, tapi coba kamu bayangkan perasaan Wira, dan tolong berikanlah dia sedikit pengertianmu untuk berbicara pada Ercilia."


"Tapi....."


"Tapi tetap saja itu tidak adil buat aku, Yah!." ujar Dika jengkel.


"Aku sudah menjadi tunangannya tapi tidak boleh bertemu, sedangkan dia boleh."


"Dika, hanya sekali. Wira juga perlu berbicara dengan Ercilia."


"Kalau begitu aku juga harus diizinkan bertemu dengannya."


"Kamu......" emosi Wira semakin menjadi jadi.

__ADS_1


Kedua orang tuanya pun akhirnya memutuskan untuk memberikan kesempatan satu kali untuk mereka masing-masing menemui Ercilia secara bergantian. Tapi dengan catatan penting dari Bunda Mawar.


"Oke, kalian boleh bertemu dengannya. Tapi ingat jangan melakukan apa-apa yang bisa semakin mengacaukan pikiran Ercilia. Beban pikirannya sudah berat, dan Bunda tidak ingin kalian tambah menyiksanya."


Kedua saudara kembar itu akhirnya menyetujui kesepakatan itu. Meski dengan berat hati. Dika mau pun Wira sepertinya masih belum terima, namun mereka sama-sama tahu jika keputusan itu sudah cukup baik dan bijak.


°°°°°°°°°


Seperti yang telah disepakati, malam ini Wira akan datang berkunjung ke rumah Ercilia. Ercilia pun sudah menelepon Ercilia dan memberitahu jika Wira akan datang malam ini. Dan, kebetulan Ercilia tidak masuk kerja karena sakit kepalanya belum juga sembuh.


Saat membuka pintu untuk Wira, Ercilia tersenyum kaku. Betapa pun juga, mereka telah berpisah hampir satu tahun. Bahkan Ercilia benar-benar yakin jika Wira telah tiada.


"Hay Cil," sapa Wira dengan suara parau menahan perasaannya.


"Hay." Ercilia pun menjawab sapaan Wira dengan sama parau nya. Lalu Wira pun di persilahkan masuk. Mereka duduk berhadapan di ruang tamu.


•••••••••••••••


...Di dunia ini semua sudah ada porsinya masing-masing. Sedih, bahagia, kegagalan, keberhasilan. ...


...Semua pas, tidak lebih tidak kurang! ...

__ADS_1


__ADS_2