
Rebecca semakin bimbang, sementara mobil terus melaju pelan. Ketika jarak yang telah ditempuhnya semakin menjauh dari rumah Ercilia itu, perasaan Rebecca semakin mengusiknya. Ada seorang perempuan di rumah itu, di bawah hujan lebat seperti ini. Dan mungkin sedang butuh pertolongan.
Tidak perduli itu Ercilia atau bukan, semestinya tetap harus ditolong bukan?Perang batin Rebecca.
Maka Rebecca pun langsung memutar mobilnya kembali menuju ke arah rumah Ercilia. Jarak yang tidak terlalu jauh namun hujan yang semakin deras saja. Tidak berapa lama tibalah Rebecca di depan rumah Ercilia, masih sama, masih dengan pintu yang terbuka lebar. Rebecca turun, tanpa menghiraukan air hujan dia segera masuk ke dalam rumah Ercilia. Dia melihat sosok perempuan yang merintih sakit sambil memegangi kepalanya.
"Ya Tuhan Cil, kamu kenapa?" meski sempat berfikir Ercilia dalam bahaya. Tapi dia tetap terkejut saat melihat perempuan itu merintih sakit. "Apa yang terjadi denganmu?" tanyanya lagi.
Ercilia yang menyadari kehadiran seseorang di dekatnya pun seketika membuka matanya. Melihat sosok perempuan yang pernah membuatnya cemburu,
Rebecca? Tanyanya dalam hati.
Ercilia belum mengucapkan apa-apa, sakit di kepalanya masih mengacaukan semuanya.
"Cil, kamu kenapa?" tanya Rebecca untuk ketiga kalinya. "Apakah kepalamu sakit?"
Ercilia belum bisa menjawab, dia hanya menganggukkan kepala sambil terus memegangi kepalanya.
"Kenapa tidak menelepon Dika? Wira?"
Rebecca melihat kostum Ercilia, Rebecca bisa menebak jika perempuan ini ingin bekerja, tapi mengapa tidak ada yang menjemput nya? Kemana Wira? Dika? Ah sudahlah......
Rebecca yang melihat Ercilia kesakitan segera mengambil keputusan.
__ADS_1
"Sebaiknya aku antar kamu ke rumah sakit ya? Kamu perlu di periksa."
Ercilia merasa ragu-ragu dengan tawaran itu.
Apakah dia masih monster seperti yang dulu? Masih perempuan angkuh itu?
"Terima kasih, tapi sepertinya tidak perlu. Aku baik-baik saja." jawab Ercilia kemudian.
"Tapi kamu seperti kesakitan sekali."
"Ak...aku tidak ap..apa-apa." Ercilia masih memegangi kepalanya.
"Apa kamu takut aku culik? Terus aku siksa?" goda Rebecca sambil tersenyum. Rebecca seperti tahu apa yang Ercilia pikirkan. "Tidak usah khawatir dan berfikir yang berlebihan. Aku tidak sehoror yang kamu bayangkan." lanjutnya.
Aneh, mengapa perempuan ini bisa tiba-tiba muncul di rumahnya?
"Sudah tidak usah ragu, aku hanya ingin menolong mu. Ayo kita ke rumah sakit." bujuk Rebecca setengah memaksa.
Akhirnya, Ercilia mau ikut setelah melihat wajah tulus perempuan itu.
"Tapi apakah aku tidak merepotkan mu?" tanyanya lagi dengan lemah.
"Sebenarnya sedikit merepotkan," goda Rebecca sambil masih tersenyum. "Tapi tidak apa-apa kok. Ayo aku bantu kamu berdiri."
__ADS_1
Ercilia bangkit dari duduknya. Saat itulah Rebecca baru menyadari betapa menderitanya sosok perempuan yang ada di hadapannya itu. Ercilia terlihat sempoyongan saat akan mengangkat tubuhnya sendiri. Rebecca pun segera membantu. Di papahnya Ercilia menuju mobil. Tubuh mereka basah tertimpa air hujan. Rebecca membukakan pintu, lalu membantu Ercilia masuk. Kemudian menutup pintu kembali. Dia pun mengitari depan mobil, masuk ke dalam dan duduk disebelah Ercilia. Rebecca melihat Ercilia sedikit menggigil.
"Dingin? Masih sakit?" tanya Rebecca saat menghidupkan mesin mobil.
"Tidak apa-apa, sudah biasa kok." sahut Ercilia lirih.
"Ah? Sudah biasa?" tanya Rebecca terkejut. "Maksudmu sakit kepalamu sudah biasa? Atau mandi hujannya?"
"Aku sudah sering tiba-tiba sakit kepala seperti ini. Kata Dika mungkin aku terkena anemia,"
"Kamu sangat sering mengalami sakit seperti ini?" tanya Rebecca lagi.
Ercilia menganggu lemah. Kini mereka sudah melaju menembus guyuran hujan.
"Ya sakitnya terkadang suka muncul. Tapi belum pernah sesakit ini." Jawab Ercilia.
"Ya Tuhan. Pasti kamu merasakan kesakitan sekali."
Ercilia tidak menjawab lagi apa perkataan Rebecca. Mobil terus menaju, Rebecca sesekali melihat wajah Ercilia yang duduk di sampingnya. Seketika dia terkejut melihat wajah Ercilia
...Ya Tuhan! ...
...•••••••••••••••...
__ADS_1