Permainan Anak Kembar

Permainan Anak Kembar
Kembar 47


__ADS_3

Keadaan Dika sudah seratus persen pulih. Kedatangan Ercilia menjadi suatu semangat baru untuknya. Seperti hari ini Dika yang merasa tubuhnya sudah baik-baik saja. Dia datang ke tempat bekerja Ercilia untuk menjemput Ercilia seperti biasa. Namun, hari ini jatahnya Ercilia libur. Dika tidak tahu jika Ercilia libur, semalam gadis itu tidak memberitahukannya. Tempat bekerja Ercilia memang selalu buka, tidak ada hari libur, kecuali ada hari-hari besar. Karenanya mereka diberi hari libur masing-masing secara bergilir. Bisa di tentukan oleh mereka sendiri berdasarkan kesepakatan setiap minggunya.


Akhirnya Dika melaju ke rumah Ercilia. Ketika dia sampai, Dika melihat Ercilia sedang sibuk dengan tanamannya.


"Aku tadi ke tokomu, tapi kata mereka kamu mengambil libur hari ini." kata Dika ketika bertemu Ercilia


"Maaf Dik, semalam aku lupa memberi tahu kalau hari ini aku libur."


"Tidak apa-apa," jawab Dika sambil duduk di teras rumah Ercilia.


"Jadi kamu hari ini tidak bekerja kan?" tanya Dika lagi.


Ercilia hanya menggeleng.


"Kamu ada acara lain?"


"Acaraku sudah selesai semua."


"Wow anda sibuk sekali Nona," goda Dika.


"Jadi kamu punya acara apa?"


"Bermacam-macam." jawab Ercilia sambil tersenyum.


"Seperti?"


"Nyuci baju, nyuci piring, nyapu, ngepel, masak, urus tanaman, dan beberapa hal lainnya."


Dika pun tertawa.


"Sangat sibuk. Hahhahaaa"


"Tidak ada acara keluar rumah?" tanya Dika.


Ercilia kembali menggeleng.


"Tidak keberatan kalau aku mengajakmu ke luar?"


"Mau kemana? " tanya Ercilia.


"Kamu mau kemana?"


"Loh kok jadi aku? Bukankah kamu yang punya rencana?"

__ADS_1


Dika berpikir


"Hmmm... Mungkin kita bisa makan siang? Sudah lewat ya. Atau kita ngemil bakso?"


"Bakso itu cemilan? Berat juga cemilanmu."


Mereka pun tertawa.


"Baiklah aku siap-siap dulu Dik."


Tidak berapa lama, mereka pun berangkat.


°°°°


°°°°


°°°°


suasana di kedai bakso agak sepi, mungkin karena sudah melewati jam makan siang. Dika sangat menikmati kebersamaannya dengan Ercilia.


"Sepertinya kamu sudah sering ke sini Dik?" ujar Ercilia.


"Tidak juga, dulu Wira yang sering mengajakku ke tempat ini."


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk mengingatkanmu padanya......."


Ercilia menggeleng dan menjawab.


"Tidak apa-apa Dik."


Pesanan mereka pun datang. Dua porsi bakso dengan dua es jeruk.


Mereka menikmati nya sambil berbincang-bincang.


"Dik,"kata Ercilia sambil menyedot minumannya. Setelahnya. . .


"Sejujurnya aku merasa tidak enak denganmu.. Jikaaa......"


"Kenapa?" potong Dika sambil mengangkat wajahnya dan menatap Ercilia.


"Seperti yang pernah aku katakan dulu, seharusnya kamu tidak perlu mengantar dan menjemput ku dari tempat kerja."


"Apakah kamu keberatan?"

__ADS_1


Ercilia menggeleng.


"Aku hanya merasa tidak enak jika terus-terusan merepotkan dirimu." kata Ercilia.


Dika menyedot minumannya, kemudian dia berkata dengan lembut.


"Jadi maksudmu, itu semua hanya kewajiban Wira seorang? Sama sekali bukan kewajibanku?"


Ercilia terdiam beberapa saat. Kemudian menjawab .


"Bukan seperti itu."


"Aku tidak ingin kamu terlalu memaksakan diri, aku tidak mau aku menjadi beban untukmu. Semua sudah berlalu.... Aku pun sudah tidak mempermasalahkan semua itu. Jadi berhentilah...."


Aku tidak ingin semua yang kamu lakukan itu, karena rasa bersalah mu pada Wira. Batin Ercilia


"Ercilia, percayalah... Aku sungguh senang melakukannya untukmu."


Mereka pun terdiam dengan segala pikiran masing-masing. Mangko mereka pun telah kosong. Sekelompok anak SMA tampak memenuhi meja-meja di sekitar mereka. Dan banyak pasang mata yang melirik ke arah Dika.


(Resiko cowok tampan 😅)


"Mereka pasti mencoba mencari perhatian mu." kata Ercilia sambil tersenyum.


Dika tertawa.


"Wajarlah jika pesonaku bagi magnet untuk mereka. Biasaalah anak SMA lihat yang cakep sedikit auto meleleh." ujar Dika narsis


"Dasar Om-om kelewat PD." ejek Ercilia sambil tertawa.


"Cil," panggil Dika dengan wajah serius.


"Apa kamu benar-benar telah merelakan kepergian Wira?"


Ercilia menunduk. Terdiam beberapa saat. Sampai akhirnya menjawab dengan pelan.


"Kamu tahu bagaimana beratnya aku melakukan ini. Tapi..... Ya aku sudah mulai ikhlas. Aku tidak mau Wira di sana bersedih melihat aku masih menjadi hal terberat untuknya."


"Maafkan aku....." ujarf Dika lirih


...•••••••••• ...


..." Waktu bisa menyembuhkan segala LUKA dalam hidup, bersabarlah dan semuanya akan baik-baik saja." ...

__ADS_1


...•••••••••• ...


__ADS_2