
Pagi ini Dika tidak mencoba menjemput, karena sudah tidak ada lagi urusan per kampusan. Meski dia sangat ingin melakukannya, tapi gadis itu terlihat masih marah namun setidaknya Ercilia sudah mau berbicara dengannya sedikit. Sekitar jam sepuluh Dika memutuskan ke perkebunan Ayahnya. Membantu pekerjaan sang Ayah di sana. Beberapa jam berada di perkebunan, Dika merasa badannya tidak enak, dan hidung nya sedikit tersumbat, kepalanya berat, beberapa kali dia bersin-bersin.
Mungkin ini efek dari kehujanan semalam. Pikirnya.
Menjelang jam makan siang, Dika memutuskan ke rumah Ercilia. Dia ingin mengantar Ercilia bekerja. Sampai di sana rumah nampak sepi, Dika mengetuk pintu dan tak lama Ercilia membukakan pintu dengan pakaian yang sudah rapi. Sepertinya Ercilia sedang bersiap-siap berangkat kerja.
"Kok sepi sekali Cil?" tanya Dika
"Bapak dan Ibu sedang ke rumah saudara. Ada acara kawinan." jelas Ercilia datar.
Dika hanya ber-Oh ria. Lalu bertanya lagi.
"Sudah mau berangkat?"
"Sebentar lagi." Jawab Ercilia masih tanpa expresi.
Dika diam dan masih berdiri. Ercilia menatap sekilas lalu menyuruh Dika duduk.
"Silahkan duduk."
Dika pun langsung duduk. Seperti seorang anak kecil yang patuh ketika sedang dimarahi ibunya.
Mereka saling diam. Ercilia tampak cuek sibuk dengan ponsel genggamnya. Ini adalah saat-saat terkaku sekaligus janggal. Tadi malam Dika berpikir Ercilia sudah mau berubah sikap dalam menghadapinya. Dan, nyatanya memang Ercilia sedikit berubah. Tidak semarah dan sesinis kemarin. Meski sekarang gadis itu tidak banyak bicara, Dika tahu Ercilia sudah mampu merendam kesediaannya dan kemarahannya.
Dika mencoba mengulang kembali pertanyaannya yang beberapa kali Dika pernah tanyakan. Namun belum mendapatkan jawabannya.
"Cil, kamu masih marah padaku?"
Ercilia seketika menatap tajam Dika. Lalu memandang Dika penuh kemarahan.
"Bagaimana bisa kamu berpikir aku tidak marah padamu? Kamu telah mempermainkan aku, membohongi aku, dan membiarkan aku tertipu berbulan-bulan!"
Dika ingin mengatakan sesuatu, namun Ercilia lebih dulu melanjutkan kalimatnya.
"Kamu sengaja menutupi kematian Wira dariku. Dan kamu mempermainkan aku selama ini! Kamu tahu kan keberadaan Wira sangatlah penting dan berarti bagiku. Dan kamu dengan mudahnya membohongi ku habis-habisan. Kamu pikir permainan ini mengasikkan?"
"Maafkan aku Cil." ujar Dika pelan.
__ADS_1
"Kamu tidak akan pernah mengerti bagaimana hancurnya aku saat mengetahui Wira tidak ada lagi. Dan lebih parahnya, aku mengetahuinya setelah lima bulan kepergiannya. Ya Tuhan! Kamu sungguh keterlaluan! Dia kekasihku, tapi aku tidak tahu dia telah pergii.......!!! Suara Ercilia terdengar parau. Kini dia duduk dengan tubuh terguncang menahan isak tangis. Kedua tangannya menutup wajah.
Dika duduk terpaku. Tidak bisa berkata apa-apa, dia memandang sosok dihadapannya tampak sangat terguncang. Sekali lagi, rasa bersalah semakin menggunung di dalam dadanya
"Cil.... "
Ercilia mengangkat wajahnya yang penuh air mata. Dengan suara lemah bercampur tangisan dia bertanya.
"Mengapa kamu tidak langsung jujur padaku? Kenapa kamu tidak mengatakan jika yang meninggal itu Wira bukan kau?" dan tangisnya pecah kembali.
"Maafkan aku Cil.... "
"Kamu sungguh keterlaluan." teriak Ercilia.
"Kamu menganggap kematian Wira hanya bagian dari permainan bodohmu? Dan kamu anggap itu sama sekali tidak penting bagiku?? Begitu?.. Kaaaauu...."
"Aku tidak menganggapnya begitu Cil,.. " potong Dika.
"Kamu jelas menggangapnya seperti itu!" Ercilia masih menangis tersedu-sedu.
Dika menahan cairan yang ingin keluar dari hidungnya dan menyebarkan hatinya. Dia paham gadis di hadapannya sedang hancur. Dan Dika mengerti itu. Dika tahu akan ada saatnya dia harus menerima segala kemarahan Ercilia. Seperti saat ini, jika selama ini Ercilia hanya diam dan menghindarinya, sekarang gadis ini sedang menumpahkan segala kemarahannya. Itu lebih baik bukan? Dari pada dia di diamkan. Dika berpikir ada baiknya Ercilia menumpahkan segalanya agar kebencian dalam hatinya segera mencair. Maka, Dika siap menerima segala kemarahan itu. Dika pun yakin Ercilia akan kembali seperti dulu.
Dika merasakan meler di hidungnya. Dika bergegas keluar dan mengeluarkan semuanya di teras rumah. Rasa pusing yang sejak tadi dirasakannya pun semakin berat. Saat Dika masuk kembali ke dalam, Ercilia sudah menghentikan tangisnya. Dika duduk kembali di kursinya.
Ercilia melihat ke arah jam tangannya. Sudah pukul dua, dia masuk ke dalam kamarnya mengambil tas lalu keluar terburu-buru.
"Sudah mau berangkat sekarang?"
Ercilia hanya mengangguk. Dika pun keluar dan bersiap dengan sepeda motornya. Ercilia mengunci pintu rumah, lalu melangkah ke arah motor Dika yang telah duduk di atas motor.
"Seharusnya kamu tidak perlu melakukan hal ini lagi." ujar Ercilia dingin .
"Melakukan apa?" tanya Dika
"Mengantar ku bekerja seperti ini."
"Tidak apa-apa. Aku senang melakukannya." senyum Dika sambil menyalahkan motornya.
__ADS_1
"Aku harap kamu tidak keberatan Cil."
Ercilia hanya diam, seperti enggan berbicara pada Dika.
°°°°°°°°°
Malam hari, Dika akan menjemput Ercilia. Langit kembali gelap. Dika yakin malam ini pun akan turun hujan kembali. Maka, Dika mempersiapkan jas hujan di bawah jok motornya. Lalu berangkat ke tempat kerja Ercilia. Jarum jam sudah menunjukkan angka sepuluh malam. Artinya sudah jam pulang kerja Ercilia.
Karena pusing, Dika tidak berani melakukan motornya dengan cepat. Sampai di tempat kerja Ercilia, toko fashion itu baru saja di tutup. Ercilia tampak keluar dari sana bersama beberapa temannya. Dika pun mendekat.
Ercilia melihat Dika datang. Tapi dia mengalihkan pandangannya. Satu per satu teman-teman kerja Ercilia pergi bersama para jemputan mereka. Dika mendekatinya, Ercilia tetap tidak bergerak dari tempatnya berdiri, dia sama sekali tidak menghiraukan kehadiran Dika.
"Cil, Aku datang menjemputmu." kata Dika ketika sampai dihadapan Ercilia.
"Aku kan sudah bilang, kamu tidak perlu melakukan hal ini!"
"Aku juga sudah bilang, jika aku suka melakukannya, dan kuharap kamu tidak keberatan."
Ercilia masih diam. Dika terus menatap wajah Ercilia.
Aku mencintaimu Cil, batinnya.
Akhirnya dengan langkah ragu-ragu, Ercilia pun mendekat ke arah motor Dika. Dika pun tersenyum.
Hanya beberapa puluh meter dari toko. Tiba-tiba hujan turun, Dika menghentikan laju motornya di sebuah emperan toko-toko yang sudah tutup.
"Hujan lagi," kata Ercilia.
"Ini, Aku membawa jas hujan. Pakailah!"
"Mau langsung pulang atau di sini dulu."
"Langsung pulang." jawab Ercilia masam.
Dika pun melajukan kembali motornya. Menerobos malam di bawah dinginnya air hujan dan dinginnya sikap Ercilia.
•••••••••••••••••••
__ADS_1
Jangan lupa RATE, LIKE, COMENT, ❤️
Terimakasih semua