
Saat membuka pintu untuk Wira, Ercilia tersenyum kaku. Betapa pun juga, mereka telah berpisah hampir satu tahun. Bahkan Ercilia benar-benar yakin jika Wira telah tiada.
"Hay Cil," sapa Wira dengan suara parau menahan perasaannya.
"Hay." Ercilia pun menjawab sapaan Wira dengan sama parau nya. Lalu Wira pun di persilahkan masuk. Mereka duduk berhadapan di ruang tamu.
"Kamu tahu siapa aku kan?" tanya Wira.
"Ya, kamu Wira." Ercilia mengangguk. "Ibu tadi sudah memberitahukan aku di telepon.
Wira merasakan suatu kepedihan dihatinya. Sikap dan sorot mata Ercilia bukanlah sambutan seorang kekasih lagi. Tidak ada ekspresi rindu. Tidak ada pula pelukan hangat seperti hari-hari kemarin. Kata 'ya kau Wira' yang diucapkan Ercilia tadi menggores luka baru. Hanya itukah yang wanita ini mampu katakan. Setelah sekian lama tidak berjumpa. Wira sangat merasakan hatinya sedih.
Seperti bisa membaca apa yang telah Wira rasakan dan pikirkan. Ercilia pun bangkit dari duduknya, lalu duduk di dekat Wira dan menggenggam tangannya.
"Wir," kata Ercilia pelan. "Aku minta maaf atas semua yang telah terjadi ini. Aku.... Aku sama sekali tidak tahu kamu.... Kalau kamu... "
__ADS_1
"Iya aku tahu." jawab Wira lembut, mencoba menghentikan kebingungan Ercilia. Wira membalas genggaman tangan Ercilia, merasakan kelembutan yang pernah mereka rasakan dahulu.
"Aku tidak pernah menyalahkan mu."
"Semua terjadi begitu cepat bagiku." kata Ercilia lagi. "Aku tidak mengerti kenapa semuanya menjadi seperti ini pada akhirnya." Ercilia tidak mampu melanjutkan ucapannya, karena butiran bening mengalir dari matanya. Dia tidak mampu menahan.
Wira semakin erat menggenggam tangan Ercilia. Dia pun diam tidak mampu berkata apa-apa, karena dia pun tersiksa dengan apa yang telah terjadi.
Andai, seandainya dia tidak melakukan permainan bodoh itu.
"Kamu tahu, aku sangat merindukan mu Cil," bisik Wira tertahan.
"Kamu juga tahu, bagaimana hatiku Wir." jawab Ercilia sambil terisak. "Aku... Aku tidak pernah sama sekali ingin menggantikan mu, dalam mimpi pun tidak. Namun aku..." tangisannya pun kembali pecah. Wira semakin memeluk erat kepala Ercilia. Dia tahu mereka sama-sama tidak mampu berpisah. Apalagi Wira, bagi nya Ercilia adalah cinta pertamanya, kekasih sejatinya. Dia sungguh tidak mampu untuk berpisah.
...°°°°°°°°°°°°°°°°...
__ADS_1
Seminggu berlalu, Dika yang sekarang datang mengetuk pintu rumah Ercilia. Ercilia pun sudah mampu mengendalikan diri dari pengaruh pertemuannya dengan Wira yang sangat emosional.
"Hey, apa kabar Cil?" sapa Dika dengan senyuman.
"Aku baik." Ercilia membawa Dika duduk di ruang tamu. Persis seperti yang dia lakukan pada Wira seminggu yang lalu. Berbeda dengan Wira, Dika lebih mampu mengendalikan dirinya. Dia duduk dengan tenang dan bisa berbicara lebih tenang dan santai.
"Maafkan kalau apa yang terjadi saat ini pasti sangat membebani pikiranmu."
"Aku mengerti." kata Ercilia. "Siapa yang akan menyangka jika akhirnya akan seperti ini kan?"
Dika membuang nafas pelan. Kemudian berkata seperti pada dirinya sendiri. "Apa yang telah aku lakukan pada Wira dulu memang sangat-sangat bodoh..."
"Dan mungkin juga dengan apa yang telah kita lakukan." sambung Ercilia lirih.
...••••••••••• ...
__ADS_1
...Berterima kasihlah pada dirimu sendiri. Karena sudah begitu hebat , menutup luka batin demi terlihat bahagia lahir dan batin ...