
...Jangan merasa sedih hanya karena kenangan masa lalu mu. ...
...Jangan sampai kelelahan hanya karena masa depanmu. ...
...Mari tersenyum dan berbahagia lah. ...
...Mereka mungkin menyebutnya sebuah perpisahan. ...
...Tapi, mungkin itu juga bisa di sebut CINTA ...
••••••••••••••• 🕶️🕶️🕶️🕶️🕶️ •••••••••••••
Makin hari, Dika merasakan perasaan semacam perasaan semakin kuat dan kian menguat. Suatu perasaan baru yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Ada kedamaian, ketulusan, dan ketenangan. Di sisi Ercilia Dika tidak ingin lagi menjalin hubungan dengan perempuan lain. Naluri petualangannya lengkap sudah. Dia selalu ingin bersama Ercilia. Menghabiskan masa muda hingga tua bersama. Bahkan ketika Rebecca kemarin menelepon nya. Dika menolak bertemu wanita itu. Saat itu dia berkata.
Aku harus menjemput pacarku. Jawabnya tegas.
Selama hidupnya di kota. Dika tidak pernah merasakan perasaan seperti sekarang ini. Di kota dengan segala pesona dan kepopuleran yang dia punya, dia tidak perlu repot untuk mencari teman kencan. Wanita-wanita di sanalah yang menawarkan diri untuk nya. Tapi, Dika tidak pernah merasakan getaran perasaan seperti yang dia rasakan ketika bersama Ercilia. Suatu debaran yang menenangkan dan membahagiakan saat memeluk wanita itu, Ercilia.
Ya. Dika sekarang berani memeluknya. Saat pertama kali melakukan itu. Dia merasa mengkhianati Wira, saudara kembarnya. Tetapi kejadian seperti itu sering kali berulang. Tanpa pernah dapat dicegah. Seolah nalurinya tiba-tiba bekerja dengan sendirinya. Muncul tanpa pernah di bayangkannya. Ketika semua itu terjadi tidak akan kekuatan atau akal sehat yang mampu mencegahnya.
Apakah aku jatuh Cinta pada Ercilia?
Dika mencoba menanyakan itu pada hatinya. Pada dirinya sendiri berhari-hari. Tapi dia pun belum menemukan jawabannya. Dia sangat ingin tahu. Mengapa setiap kali bertemu Ercilia. Dia merasa sangat bahagia.
Mengapa setiap kali kehilangan perempuan itu, dia merasa sangat khawatir?
Mengapa ketika berada di pelukannya, merasa seolah tenang dan damai?
Mengapa saat melihat matanya, saling beradu pandang. Seolah ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan dalam perut mengitari hati ini.
__ADS_1
Aku sangat ingin tahu.....
Perasaan ini sangat menyiksa.
Ya. Menyiksa ketika aku menyadari, aku telah jatuh.. Sejatuh-jatuhnya pada kekasih saudara kembarku
••••••••••••••••••••
Seperti biasa Dika selalu membantu Ayahnya di perkebunan. Orang tua Dika tidak terlalu mempermasalahkan dirinya yang keluar dari kampus. Itu juga tidak ada gunanya seandainya Dika tetap berkuliah di kampus itu. Karena identitas yang tercatat pada kampus itu adalah nama MAHAWIRA. sekarang Wira sudah tidak ada lagi.
Keluarga Dika sudah membicarakan semuanya, prihal Dika yang harus jujur pada pihak keluarga Ercilia. Mau tidak mau, cepat atau lambat Dika harus memakai identitas nya sendiri. Agar Dika bisa melanjutkan hidupnya dengan identitas dirinya sendiri.
Malam hari itu, Dika duduk di ruang TV dengan kedua orang tuanya. Mereka mulai membicarakan kembali soal permainan konyol dan bodoh anak-anak nya. Kalau masih dipikirkan rasanya Ayah Putra ingin sekali marah. Tapi inilah, permainan takdir , mereka hanya bisa menerima dan menjalani semuanya.
Ayah nya yang pertama kali membuka suara.
"Dika, sekarang sudah lebih dari lima bulan setelah kepergian saudaramu. Dan selama lima bulan ini, Ercilia juga belum menyadari kalau kamu bukan Wira."
Ayah Putra melanjutkan.
"Sejujurnya kami tidak masalah, mau kamu Wira atau pun Dika. Toh kalian sama-sama anak kami. Tapi Dik, Ercilia perlu tau kebenarannya. Dia tidak pantas di perlakukan seperti ini. Dibohongi dengan kelakuan kalian."
"Dia harus tahu, bahwa yang berada di sisinya bukanlah kekasihnya. Wira sudah..... "
"Saya merasa sangat berat melakukan itu Yah." jawab Dika pada akhirnya.
"Ayah tahu itu berat. Jelas sangat berat. Tetapi, semakin lama kamu menahan kebenaran ini, kamu semakin akan membuat Ercilia terluka. Sosok yang Ercilia Cinta itu Wira Dik. Bayangkan bagaimana perasaannya yang kehilangan kekasihnya. Kemudian menyadari jika selama ini kalian telah membohongi dan di permainkan..." ujar Ayah Putra lagi.
Sementara Bunda Mawar yang telah reda dari kesedihannya ikut menyambung.
__ADS_1
"Dika, Bunda sendiri juga bisa merasakan bagaimana hancurnya hati ini, ketika kehilangan orang yang kita cintai. Kamu pun pasti bisa merasakan kehilangan sosok saudara yang kamu sayangi. Bunda pikir memang sebaiknya Ercilia harus tahu kebenarannya. Seperti yang Ayahmu katakan, dia akan semakin merasa terluka jika kamu semakin menahan untuk tidak mengatakan yang sebenarnya."
"Tapi Dika merasa benar-benar tidak sanggup." keluh Dika.
Ayah kembali menasehati.
"Mau sampai kapan kamu seperti ini Dik. Semakin kamu menyembunyikan ini semua. Itu sama saja dengan kamu memperdalam luka yang Ercilia rasakan."
Dika menatap kedua orang tuanya bergantian.
"Menurut Ayah dan Bunda, apa yang harus Dika katakan.. Dika harus memulainya dari mana agar tidak terlalu melukai perasaannya."
Bunda Mawar menanggapi.
"Katakan saja sejujurnya apa yang telah kamu dan Wira lakukan. Seberat apa pun, Bunda yakin Ercilia tentu akan mengerti dan bisa memahami bahwa kalian tidak pernah merencanakan kalau akhirnya akan menjadi seperti ini."
Dika menganggukkan kepalanya dengan ragu.
Lalu, Ayah Putra menambahkan
"Pokoknya Dik, apa pun yang kelak terjadi pada diri Ercilia setelah kamu menyampaikan kebenaran ini. Kamu tetap harus menghadapinya. Karena Wira sudah tidak ada, maka semua resiko permainan kalian kamu yang akan menghadapinya."
"Baik Ayah, Bunda." kata Dika lirih.
Mampu kah aku melakukannya?
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
Jangan lupa RATE, LIKE, COMENT, ❤️
__ADS_1
Terimakasih semua ☕😎