
Mobil itu melaju semakin tidak karuan melintasi jalan di depannya. Pada awalnya, Dimas masih bisa berupaya mengendalikan kemudi sekaligus mengendalikan kesadarannya dari rasa mabuk. Namun, jalan yang dilalui semakin menurun dan berliku membuat kendalinya berantakan. Mobil jadi semakin sulit di kendalikan. Dimas pun pasrah.
Pacar Dimas yang pertama kali sadar di depan ada tikungan jalan yang menurun itu ada sebuah jurang menganga.
"Dimaaaasssss, awaaasss.....!!"
Tapi terlambat, Dimas tetap tidak bisa mengendalikan setir. Mobil itu terus melaju tak terkendali, menuju jurang yang tadi di teriakan Pacarnya. Wira yang sedari tadi diam mulai mencari cara untuk menyelamatkan diri.
Akhirnya, mata Wira melihat jurang yang dikatakan tadi, mobil pun segera transit ke bawah sana... Tidak ada yang mampu menghentikannya. Dan
Duar... Duar.. Duar...
Mobil terus melaju dengan kecepatan tinggi ingin masuk ke dasar jurang. Wira nekat melepaskan handle pintu. Detik-detik menegangkan itu pun terlewati, Wira berhasil membuka pintu mobil itu didorong oleh tubuhnya sekita terhempas keluar. Sementara mobil yang membawa semua teman-temannya terus melaju menuju jurang.
Dalam jatuhnya Wira yang cukup keras, kepalanya terbentur oleh batu, dia meraba belakang kepalanya. Ada darah! Kepala Wira semakin terasa berat dan kesadarannya pun hilang. Namun sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya, Wira mendengar suara ledakan dari dalam jurang.
...°°°°°°°°°°°°...
__ADS_1
Wira tidak tahu berapa jam, berapa hari, atau berapa tahun dia terbaring di atas rerumputan itu. Namun, ketika dia membuka mata kembali, dia mendapati dirinya ada di sebuah ruangan asing. Suasana asing, bahkan seperti kehidupan yang asing. Dia melihat beberapa alat aneh ada di dekatnya. Alat-alat asing, tempat asing. Wira merasakan kepalanya sakit, dia pun kembali tidak sadarkan diri.
Beberapa jam, beberapa hari kemudian. Wira kembali terbangun dari ketidaksadaran nya. Matanya kembali terbuka. Sekali kali, dia masih ada di ruangan asing dan suatu kehidupan yang asing.... Tidak lama muncul seseorang berpakaian putih. Dia menghampiri Wira, merasakan ada kehadiran orang asing itu Wira pun bertanya-tanya.
Siapa dia? Dimanakah aku? Tempat apa ini?
Wira sempat membayangkan kehidupannya. Kematiannya. Apakah dia ada disurga? Atau neraka?
Dan, siapakah sosok yang kini mendekatinya itu? Tempat apa ini sebenarnya. Dimana aku? Siapa kah orang itu? Namun.... Yang paling penting..
Wira merasakan ingatannya telah hilang. Memorinya lenyap. Otaknya meleleh, dan ketika pintu ruangan itu terbuka kembali, Wira melihat sosok wajah asing yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Wajah itu tampak tersenyum ke arahnya.
Siapa dia? Wajah siapa itu? Apa itu malaikat maut? Wira sama sekali tidak ingat.
Dan wajah itu adalah wajah Jessie Wibowo.
...°°°°°°°°°°°...
__ADS_1
Jessie Wibowo turun dari villa tidak lama setelah kepergian Wira dan teman-temannya waktu itu. Dia juga telah dikabari tentang meninggalnya Dodi. Teman kampus mereka. Dia pun meninggalkan villa menjelang subuh juga, karena pemakaman akan dilakukan pagi harinya.
Karena kabut dan keadaan yang masih gelap, Jessie Wibowo meminta supirnya untuk berhati-hati dan tidak melaju dengan cepat. Lebih dari itu dia ingin menikmati perjalanannya. Pesta ulang tahunnya berjalan sukses, dia merasa sangat bahagia. Sekaligus merasakan dirinya semakin bersinar. Dia sangat menikmati semuanya.
Jessie wibowo duduk sambil larut dalam pikirannya sendiri. Merencanakan banyak hak untuk kehidupannya kedepan. Hingga tanpa sengaja, dia melihat sosok tubuh yang tengah terbaring di pinggir jalan, di atas rerumputan .
Dika? Apa yang terjadi dengannya.. Batinnya
Jessie pun meminta supir menghentikan mobilnya. Perempuan itu turun dan langsung mendekati sosok tubuh yang tengah terbaring itu. Jantung Jessie berdetak tidak karuan mendapati sosok yang terbaring pingsan dengan kepala berdarah adalah Dika. Salah satu cowok populer di kampus dan tentu saja kesayangannya.
Mengapa dia seperti ini?
Dibantu supirnya, Jessie pun memasukan tubuh Dika ke dalam mobil. Setelah itu dia mengamati sekitar, dan di saat itulah dia menyadari ada asap hitam yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Jessie tahu ada sebuah jurang di sisi tikungan itu. Otaknya pun menyimpulkan apa yang telah terjadi.
Jessie pun masuk ke dalam mobil. Memerintahkan supirnya untuk kembali berjalan. Tapi, bukan ke kota, namun kembali ke villanya.
...•••••••••••••••••••...
__ADS_1