
Siang itu Ercilia kembali ke aktifitasnya kembali. Karena tidak ada yang menjemput untuk mengantarkannya pulang pergi dari tempat kerja, Ercilia akhirnya kembali memesan ojek langganannya untuk ketempat kerja saat pergi dan akan pulang. Hal itu justru membuat Ercilia merasa tenang karena dia tidak merasa merepotkan seseorang. Namun, ojek langganannya pun itu tidak bisa selalu standby karena kondisi kesehatan yang mulai menurun. Wajar saja ojek langganan Ercilia adalah lelaki tua yang kadang sakit. Jadi jika Ojek langganannya tidak bisa jemput terpaksa Ercilia harus mencari ojek umum seperti yang terjadi sekarang, dia harus mencari lagi ojek yang bisa mengantarnya bekerja.
Ercilia sedang sibuk mencari ojek, sambil tersenyum getir Ercilia membayang kan Saat-saat seperti inilah mengingatkan diri nya atas Wira. Saat di mana ojek langganannya tidak bisa mengantar sosok Wira lah yang hadir untuknya. Dan sejak saat itulah Wira selalu mengantar jemput dirinya. Ercilia mengenang momen-momen manis yang pernah dilalui nya bersama Wira, kini seperti kenangan yang berubah menjadi sembilu.
Tidak lama Ercilia merasakan kepalanya kembali berdenyut-denyut. Ini bukan yang pertama kali. Beberapa waktu lalu pun dia pernah merasakan hal ini, namun sudah lama hilang dan kini kembali lagi.
Apakah karena masalah yang akhir-akhir ini terjadi? Batinnya.
Dan, kini kepalanya semakin berat. Ercilia pun duduk merapat pada sandaran sofa.
Apakah aku menderita anemia seperti yang pernah Dika katakan dulu. Pikirnya lagi.
Memang Ercilia tidak pernah mengeceknya di rumah sakit. Karena sakit kepala yang sering dia rasa kan suka tiba-tiba datang lalu tiba-tiba hilang dengan sendirinya. Mungkin besok-besok jika jatah liburnya dia akan memeriksakan diri ke rumah sakit.
...°°°°°°°° ...
__ADS_1
Beberapa kilo meter dari tempat Ercilia terduduk kesakitan. Dika dan Rebecca sedang menikmati makan siangnya di warung makan padang. Tempat di mana mereka janjian bertemu saat semalam Rebecca menelponnya.
"Terima kasih Dik, untuk makan siangnya dan sudah mau memaafkan ku atas khilaf ku dulu." kata Becca dengan manis. "Aku sangat menyesal Dik." lanjutnya.
Dika tersenyum. "Iya tidak apa-apa. Semua juga sudah berlalu. Asal kamu tidak melakukan hal-hal yang bisa membuat ku semakin marah padamu."
Setelah makan siang tersebut mereka berpisah menuju mobil masing-masing dan tujuan berbeda pula.
Rebecca terus melajukan mobilnya, melewati jalanan yang basah oleh air hujan yang mulai turun membasahi kaca mobilnya. Senyum manis belum luntur dari bibirnya. Dia tahu cepat atau lambat, Dika pasti akan jatuh dalam pelukan nya. Dan Rebecca percaya itu, dia akan menikmati momen itu nanti. Terlebih Wira telah kembali.
Hujan semakin deras, halilintar pun menggelegar. Spontan Rebecca memelankan laju mobilnya. Jalan yang licin dan hujan yang deras membuatnya harus berhati-hati menjalankan laju kendaraan. Di saat itulah, tanpa sengaja dia melintas ke arah rumah Ercilia, dan melihat pintu rumah Ercilia terbuka padahal hujan sangatlah deras.
Mengapa rumah itu terbuka lebar ya? Tanyanya dalam hati.
Apakah telah terjadi sesuatu? Pencurian? Perampokan?
__ADS_1
Rebecca merasakan perasaan tidak enak. Ini memang bukan urusan nya. Lebih dari itu, dia juga tidak mengenal perempuan itu. Justru hadirnya perempuan itulah yang membuat hubungan nya dengan Dika melambat. Namun, melihat sesuatu yang tidak beres terjadi, Rebecca merasakan sesuatu di hatinya. Perasaan tidak tega dan tidak tenang.
Bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk pada perempuan itu?
Tapi...............
...•••••••••••••• ...
^^^Selamat hari SENIN. ^^^
^^^Selamat berpuasa. ^^^
^^^Berbuka lah dengan beberapa cangkir kopi. ^^^
^^^Iya Kopi manis, semanis senyum kalian 😁^^^
__ADS_1