
Setelah mempertimbangkan nasihat orang tuanya. Nyatanya Dika tidak memerlukan waktu lama untuk jujur kepada Ercilia. Ketika niat itu telah membulat, Dika pun akhirnya menemukan waktu yang dirasanya cukup tepat untuk mengatakan hal itu.
Pagi ini, Dika mengantarkan Ercilia ke kampus untuk mengurus beberapa hal. Dika menunggu di kantin. Hari ini, kampus tidaklah rame seperti biasanya. Aktivitas kuliah tengah libur selesai ujian. Kebanyakan yang masuk kampus hanyalah aktivis mahasiswa yang sedang mengurus berbagai acara. Kantin juga nampak sepi, beberapa kali dia di sapa teman-teman Wira. Sambil menunggu Ercilia, Dika membayangkan "mungkin seperti ini dulu perasaan Wira jika sedang menunggu kekasihnya"
Menunggu dengan hati senang, tanpa rasa jenuh. Meski waktu seperti berjalan merangkak. Begitu lambat.
Sekitar sejam kemudian, Dika masih Setia menunggu. Dia sudah menghabiskan beberapa donat seres dan kopi hitam. Tak lama Ercilia pun muncul.
"Maaf sayang, pasti lama sekali ya nungguin akunya." kata Ercilia sambil duduk di hadapan Dika.
"Tadi itu dosen lagi keluar. Jadi aku juga harus nunggu." keluh Ercilia.
"Tidak apa-apa." jawab Dika.
"Makan lah dulu." tawar Dika.
Ercilia pun pergi memesan teh hangat dan bakso. Dika memperhatikan Ercilia yang tampak segar, tidak sepucat biasanya. Saat inilah Dika merasa bahwa ini memang lah waktu yang tepat untuk Dika jujur pada Ercilia.
Bismillah. Aku harus menyampaikan kebenaran yang telah aku pendam selama ini. Batin Dika.
Ercilia kembali dengan menu pesanannya.
"Kamu sudah makan?" tanya Ercilia. Dia mulai meneguk teh hangat dalam gelas.
__ADS_1
"Makanlah. Aku sudah makan banyak donat tadi."
Dika menarik nafas, lalu memulai percakapan.
"Cil.." panggil Dika.
"Ya?"
"Kamu pernah membayangkan kalau aku bukanlah Wira?" tanya Dika perlahan .
Ercilia tersenyum dan menatap wajah Dika.
"Kamu jangan bercanda! Kamu Wira dan aku tidak pernah membayangkan hal-hal konyol seperti itu." jawab Ercilia.
"Bagaimana kalau aku benar-benar bukan Wira?" tanya Dika serius.
"Wir... Ada apa denganmu?" tanya Ercilia
Lalu Ercilia tersenyum.
"Kamu Mahawira. Jelas kamu Wira, memangnya kamu membayangkan jadi siapa?"
Dika merasa kesulitan setengah mati untuk mengatakannya. Sekali lagi, dia merasa bibirnya tertutup rapat. Lidahnya membeku. Begitu lah yang dirasakan Dika setiap kali ingin mengatakan kebenarannya. Tetapi, kali ini Dika telah bertekad bahwa inilah waktu yang tepat.
__ADS_1
Dika menatap Ercilia dalam. Kemudian berkata dengan sungguh-sungguh.
"Maafkan aku Cil. Ak...akuuu sebenarnya. Aku bukanlah Wira. Aku Dika!"
"Kau apa?" Ercilia menatap wajah Dika dengan sejuta tanda tanya di kepalanya.
Dika mengatakannya kembali dengan perlahan.
"Aku bukanlah Wira seperti yang selama ini kau kira. Aku Dika Cil."
Dika menguatkan hatinya. Dia menceritakan semua yang telah dia dan Wira lakukan sejak kedatangannya ke sini. Tentang rencana yang muncul secara spontan. Lalu, permainan tukar tempat yang mereka lakukan. Kemudian, Wira lah yang berangkat ke kota menggantikan posisinya. Kemudian terjadi peristiwa itu, kecelakaan yang terjadi pada Wira. Kebingungan yang dia rasakan. Kekalutan yang dia alami beberapa bulan ini. Hingga kejujurannya saat ini.....
"Maafkan aku Cil..." kata Dika lirih setelah menceritakan segalanya dan menyampaikan semua kebenaran itu.
Ercilia diam tidak menjawab atau mengatakan apa-apa. Dia juga tidak menangis.
Tetapi Ercilia langsung pingsan!
•••••••••••••••••••
...Terkadang kejujuran memanglah sangat menyakitkan. Tetapi orang terkadang lupa sebuah kebohongan itu lebih menyakitkan ...
Kaum KECE Sedikit dulu ya, Shift nya enggak enak buat mikir. Tubuh butuh tidur. Hati butuh kata manis hhaahhahaaaa
__ADS_1
Tapi Kalau LIKE DAN KOMENTAR banyak Nanti malam saya lanjutkan ☕
SALAM KECE 😎