Permainan Anak Kembar

Permainan Anak Kembar
Kembar 55


__ADS_3

...Sejauh apapun kita dipisahkan, ...


...Jika memang kita di takdir kan untuk bersama-sama maka masing-masing dari kita akan memiliki jalan untuk saling menemukan. ...


...••••••••••••••• 🕶️🕶️🕶️🕶️🕶️ •••••••••••••...


Siang hari, setelah mengantar Ercilia pulang ke rumahnya. Dika sedang tidur-tiduran di sofa ruang tengah rumahnya, Dika mendengar suara ponselnya berdering. Saat mengambilnya, Dika melihat sederet nomer yang tidak dia kenal di layar ponsel itu.


"Hallo," sapa Dika setelah membuka sambungan telpon.


"Hallo Dik," jawab suara di seberang sana.


Suara ini...


Deg


"I....iya," jawab Dika ragu-ragu.


Siapa yang tahu, jika Aku yang ada di kota ini. Tanya Dika dalam hati.


"Hmmmmm... Ini siapa ya?" tanyanya kemudian.


"Dika, kamu enggak ngenalin suara aku. Ini aku Wira."


Seketika Dika berdiri dari rebahannya.


"SIAPAAA????!" teriak Dika tanpa sadar.


"Wira Dik, saudara kembarmu!"


"Kamu jangan main-main ya. Bercanda mu tidak lucu." Dika sungguh jengkel.


"Ini siapa?"


"Ini aku Mahawira Dik! Masa kamu tidak mengenali suaraku?"

__ADS_1


Dika menajamkan pendengarannya.


"Tidak mungkin!"


"Dika, sekarang kamu panggilkan Bunda. Biar Bunda yang meyakinkanmu kalau aku benar-benar Wira asli!"


Sekarang Dika mulai mengenali pemilik suara itu. Suara yang mirip dengan suaranya sendiri.


"Tapi...., kamu... Wir... Kamu..." Dika jadi gugup tidak karuan.


Suara diseberang sana terdengar tertawa.


"Aku tahu, aku tahu. Kamu, Ayah, dan Bunda pasti mengira aku telah matikan?"


"Tapi kamu benar-benar mati Wir," kata Dika dengan bingung.


"Berita di televisi pun memberi....."


"Semua berita itu si Alan!" potong Wira penuh rasa marah.


"Tapi aku melihat sendiri jasadmu di kuburkan. Kami telah melihat itu semua."


"Kamu melihat wajahku?"


Dika nampak diam.


"Dika dengar, besok aku akan pulang. Aku sekarang menelponmu, hanya ingin memberitahu mu jika aku masih hidup." Kata Wira kemudian.


"Kamu akan.... Apa?" Dika seperti belum sadar dari kebingungannya.


"Besok aku akan pulang dan aku ingin mengakhiri permainan konyol kita Dik. Sekarang aku menyadari permainan yang kita lakukan ini adalah permainan paling bodoh di dunia."


Begitu meletakkan ponselnya, setelah sambungan terputus. Dika seperti orang linglung.


Apakah aku berhalusinasi?

__ADS_1


Apakah ini efek dari obat itu?


Atau kah aku sedang bermimpi?


Tapi..... Dika yakin yang baru saja didengarnya bukanlah halusinasi. Dika membuka ponsel kembali dan melihat record nomer-nomer yang telah menghubunginya. Dia melihat nomer Jakarta yang tadi menelponnya.


Wira?


Benarkah orang yang menelepon nya tadi adalah Wira?


Tetapi jika mendengar suaranya, nada bicaranya. Dika tahu itu adalah milik Wira. Itu suara tidak tergantikan.


Tapi Wira telah mati bukan?


Dika sendiri yang menyaksikan proses penguburannya. Dika masih sangat mengingat kedua orang tuanya yang berdiri terpaku saat jasad Wira di masukkan ke liang Lahat. Sementara, orang-orang yang melayat pun melihat itu semua. Dika juga masih ingat, bagaimana heboh nya berita ini.


Sekarang?


Wira menelpon nya dan mengatakan dia masih hidup?


Dika merasakan kepalanya berputar-putar. Pandangannya berkunang-kunang.


Ya Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi?


Saat Dika memejamkan matanya di atas sofa sambil memegangi kepala yang terasa berdenyut-denyut, Bunda Mawar lewat dan melihat Dika.


"Kenapa Dik?" tanya Bunda Mawar, dia khawatir kalau Dika sakit lagi.


Dika membuka matanya dan memandang wajah Bundanya.


"Bun, Wira masih hidup."


Bruk


••••••••••••••

__ADS_1


__ADS_2