Permainan Anak Kembar

Permainan Anak Kembar
Kembar 60


__ADS_3

Sore itu, saat Jessie Wibowo kembali mendatanginya. Wira sudah siap dengan peran yang akan di mainkannya. Dia akan mengaku sebagai Dika.


"Hallo Dik," sapa Jessie ketika sudah berada di hadapan Wira.


"Hay," jawab Wira singkat.


"Kamu sudah mengingat semuanya?"


"Sedikit,"


"Jadi nama mu siapa?" tanya Jessie.


"Dika! Mahardika."


Jessie tersenyum senang.


"Jes, kalau boleh tau berapa lama aku di sini?" tanya Wira penasaran.


"Tentu kau harus tahu." Jawab Jessie masih tampak bahagia karena kesadaran Dika telah kembali.


"Kamu di sini kurang lebih delapan bulanan."


"Delapan bulan!" pekik Wira.


"Ya, dan aku yang telah menyelamatkan mu."


"Jess, aku perlu menghubungi keluargaku."


"Pakailah, hubungi mereka. Mereka pasti senang mendengar kamu masih hidup." ujar Jessie memberikan handphone nya pada Dika.


Wira memandangi sederet angka itu. Dia ingat nomer ponselnya. Nomer yang pasti dipakai oleh Dika saat ini. Perlahan-lahan, dia pun menghubungi nomer itu. Dan Wira bersyukur Dika menerima telponnya. Dan, disinilah dia sekarang. Di rumah keluarganya.


Cerita yang dituturkan Wira pun selesai dan perlahan-lahan mengendap ke dalam kesadaran keluarganya. Bunda Mawar kembali menangis setelah menyadari bahwa dia tidak kehilangan putranya. Tidak kehilangan Wiranya. Kali ini, dia menangis dengan senyuman.


"Kita harus berterima kasih pada gadis itu Yah." ujar Bunda Mawar pada suaminya.

__ADS_1


"Iya. Nanti kita akan mengatakan padanya. Karena dia Wira sekarang bisa kembali bersama kita."


"Tapi kenapa dia tidak langsung mengabarkan kita saat itu." kata Dika.


"Mungkin karena berita yang terlalu heboh saat itu." ujar Ayah Putra.


"Tapi apapun itu, yang penting Wira sudah kembali."


"Nah," kata Wira kemudian sambil tersenyum menatap Dika."


"Apakah kamu menjaga pacarku dengan baik selama aku tidak ada?"


Dika dan orang tua nya terdiam. Mereka saling pandang dengan wajah kebingungan.


Apa kabar pacarku?


Kata Wira lagi......


...°°°°°°°°...


"Kamu tidak bisa melakukannya, Dik!" teriak Wira.


"Dia itu pacarku, dan kamu tahu itu!"


"Tapi saat itu kamu telah meninggal Wir." balas Dika sambil teriak juga.


"Aku mencintainya, dan kami juga sudah bertunangan dan akan menikah."


Bug bug


"Brengsek kamu. Pengkhianat" Wira menghajar Dika.


"Kami tidak mengkhianati mu." jawab Dika.


"Kamu mengkhianati kepercayaan ku DIKA!"

__ADS_1


"Sekarang kamu tahu aku belum mati!" Wira kembali membentak.


"Kamu tidak bisa menikahinya."


"Wir," Dika menurunkan suaranya."


"Aku mencintainya, dan dia sudah menerima ku. Kami telah bertunangan dan kami......."


"Kamu tidak bisa meneruskannya Dik!" potong Wira dengan marah. "Dia pacarku dan kami saling mencintai. Kami belum putus dan tidak akan pernah putus!!"


"Tapi dia sudah menerima lamaranku Wir."


"Itu karena kamu tidak tahu malu merebut pacar saudaramu sendiri!" teriak Wira.


"Bagaimana aku tahu kalau kamu masih hidup?" balas Dika marah.


"Kamu bahkan lenyap hampir satu tahun. Satu tahun Wira! Siapa yang akan menyangka kamu masih hidup. Bahkan semua orang melihatnya."


"Tapi sekarang kamu lihat aku masih hidup. Dan aku minta pertunangan kalian di batalkan." ujar Wira masih dengan amarah nya.


"Wira kamu tidak bisa melakukan itu." Dika ikut meradang.


"Kamu sudah menjadi bagian masa lalunya, dan tidak layak memaksanya kembali padamu. Ercilia sudah menjadi milikku!"


"DIKA ERCILIA PACARKU!!!"


"tapi aku tunangannya Wir."


Bug bug bug


•••••••••••


...Tidak ada yang salah ketika kamu marah, toh semua orang punya sisi mereka masing-masing dan itu tidak selalu tentang kebaikan. Bukan membela siapa pun bahkan membela sesuatu yang salah. Tetapi terkadang kehidupan ini memang perlu keseimbangan. Tidak bisa dipungkiri bahwa keburukan itu selalu ada sampai kapan pun. Hanya saja kita selalu berusaha menghindari nya, tapi dia akan selalu ada di sekitar kita. ...


...Mari kita mulai dari diri sendiri untuk berbuat baik. ...

__ADS_1


__ADS_2