
Dika menatap lekat wajah Ercilia.
"Kamu tidak bermaksud mengatakan kalau kamu menyesali semua yang terjadi pada kita kan?"
Ercilia tersenyum letih. "Dik, aku tidak pernah menyesali apa yang telah terjadi pada kita, sebagaimana aku pun tidak pernah menyesal mencintaimu... Tapi entahlah, aku merasa begitu lelah dengan semuanya...., semua yang terjadi!"
Ercilia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Menutupi wajah ya tertekan dan kebingungan. Lalu, Dika bangkit mengambil tempat di dekat Ercilia. "Aku tahu kamu pasti sangat tertekan dengan semua yang tengah terjadi ini.... "
Ercilia mengangguk lemah.
"Aku pun tahu kamu juga merasakan perasaan yang sama, Dik" katanya kemudian.
"Aku sungguh mencintaimu Cil," bisik Dika.
"Aku mencintai mu, aku pun tidak merebutmu dari siapa pun, termasuk dari Wira..... "
Dika menghela napas, kemudian melanjutkan kalimatnya. "Tapi sekarang aku harus bersaing dengan saudara ku sendiri untuk tetap mempertahankan hubungan kita.. Aku menyadari Wira yang duluan hadir dalam hidupmu, tapi aku juga menyadari jika aku tidak rela harus kehilangan dirimu. Tidak bisa merelakan dirimu kepada siapapun itu. Termasuk pada saudaraku sendiri. Bahkan kini aku menyadari, aku mencintaimu lebih besar dari semula yang kubayangkan.... Terlebih kita telah........ "
Ercilia menatap wajah Dika yang tampak tertekan dan tersiksa. "Takdir memang sedang mempermainkan kita, dia bekerja dengan cara misterius." potong Ercilia.
"Ya, dan kita seperti tidak berdaya di tangannya... Aku harap kamu mau berjuang bersamaku Cil..... " harapan Dika.
__ADS_1
...°°°°°°°°...
Siang itu di rumah si kembar. Dika melihat Wira menyelinap ke garasi. Mengambil sepeda motor yang biasa digunakannya. Dika buru-buru keluar.
"Kamu mau ke mana?" tanyanya dengan galak.
Wira menjawab tidak kalah galaknya. "Bukan urusanmu!"
"Tentu saja itu jadi urusan ku jika kamu berniat menemui Ercilia." kata Dika ketus.
"Siapa juga yang ingin menemuinya." balas Wira lebih ketus.
Dika terus menatap Wira dengan tatapan curiga sampai punggung Wira semakin menjauh.
...°°°°°°°°° ...
Hari terus berlalu, semakin hari Dika dan Wira semakin ribut, seperti terus menerus mengibarkan bendera perang. Setiap kali Dika ataupun Wira keluar rumah pasti salah satu dari mereka akan curiga. Melihat itu, orang tua si kembar semakin pusing. Suasana seperti ini tentu saja tidak bisa dibiarkan terus menerus, harus ada langkah penyelesaiannya. Bagaimana pun caranya.
Maka seperti pagi ini, Bunda Mawar memutuskan untuk menemui Ercilia secara langsung ke rumahnya. Untuk membicarakan semua ini dengannya. Bunda Mawar berharap mereka bisa menemukan cara untuk menghentikan peperangan yang semakin memanas ini untuk didinginkan.
"Assalamualaikum, "
__ADS_1
Ercilia membukakan pintu untuk Bunda Mawar dengan expresi terkejut. Ercilia tidak menyangka akan dikunjungi kembali. Ercilia mencium tangan Bunda Mawar, lalu mempersilakan masuk. Bunda mawar duduk di ruang tamu, sedangkan Ercilia masuk ke dalam membuatkan minuman.
"Maaf jika kedatangan Ibu mengejutkan mu Cil," kata Bunda Mawar setelah Ercilia duduk dihadapannya.
"Tidak apa-apa Bu," jawab Ercilia ramah.
"Ibu harus menemuimu karena kondisi rumah semakin memanas, bahkan seperti akan ada perang besar ."
Ercilia mengangguk mengerti, membayangkan apa yang terjadi pada Dika dan Wira. "Maafkan saya Bu, saya merasa sangat bersalah. " katanya. "Saya yang menyebabkan semua ini terjadi." lanjutnya.
"Kamu tidak sepenuhnya bersalag Cil," ujar Bunda Mawar.
"Siapa yang akan menyangka kalau semuanya akan berakhir seperti ini? Ibu malah kemarin sempat bersyukur kamu mau menerima Dika. Karena Ibu sangat ingin punya menantu sepertimu."
Ercilia tersipu. Bunda Mawa melanjutkan kata-katanya.
"Namun sekarang semuanya jadi tidak karuan. Wira merasa lebih berhak atas diri mu, karena hubungan kalian tidak pernah ada kata putus, dan Wira sangat mencintaimu. Sementara Dika juga merasa memiliki hak penuh atas dirimu karena kamu tunangannya....."
"Ercilia memahami persoalan ini. Tentunya memang harus segera diselesaikan agar tidak terus berlarut-larut. Saya sangat mengerti Dika dan Wira tentunya sama-sama merasa tersiksa dengan apa yang terjadi sekarang. Sebagaimana saya pun merasakan hal yang sama."
Mereka sama-sama terdiam sesaat. Sebelum Ercilia melanjutkan.....
__ADS_1
"Saya menyadari, jika saya tidak bisa untuk memilih salah satu dari mereka, Bu bagaimana jika saya sama sekali tidak memilih satu pun di antara mereka????"
...•••••••••••• ...