
Dika dan Wira segera bangkit dari duduknya dan langsung melesat keluar. Bunda Mawar baru menyadari kesalahannya, namun kedua saudara kembar itu sudah terdengar ribut di garasi. Bunda Mawar hanya bisa membuang kasar nafasnya. Lalu kembali masuk melihat keadaan Ercilia.
"Ibu sangat tahu masalah ini sangat membebani pikiranmu." Ujar Bunda Mawar prihatin. "Ibu juga tahu ini sangat berat untukmu."
Ercilia tidak menjawab. Dia masih sibuk dengan rasa sakit di kepalanya. Bunda Mawar kemudian kembali mengambil minyak telon dan memberikannya pada Ercilia.
"Mungkin ini bisa meredakan sakit kepalamu."
Ercilia menerima minyak itu dan mulai membalurkannya di pelipis yang terasa tertusuk ribuan duri. Minyak itu pun terasa hangat mulai meresap ke pori-pori kepalanya. Tapi rasa sakit di kepalanya masih terasa.
(Minyak telonnya anggap hangat ya. Soalnya othor kaga suka bau minyak-minyak lain ,mual) 😅
Beberapa saat kemudian . Dika serta Wira sudah berdiri di sana. Saling menatap galak dan di tangan mereka pun sama-sama membawa bungkusan. Bunda Mawar bangkit dan mengambil bungkusan di tangan anak-anaknya tanpa berkata apa-apa. Lalu memberikan kode menyuruh mereka keluar lagi.
"Makan lah ini dulu, agar badanmu tidak terlalu lemas." katanya
Ercilia kembali mencoba mengangkat tubuh nya dari tempat tidurnya. Dibantu Bunda Mawar, Ercilia pun duduk menyandarkan tubuhnya di sofaa.
"Ini ada nasi dan roti, kamu mau apa?"
"Ini saja." tunjuk Ercilia saat melihat Roti. "Mulut saya terasa pahit Bu."
"Tidak apa-apa. Setidaknya kamu bisa memulihkan tenagamu."
Ercilia memakan roti yang entah di bawah siapa. Sementara Bunda Mawar menyiapkan minuman hangat untuk Ercilia.
__ADS_1
"Kamu beruntung Cil, kedua anak itu sangat penuh perhatian kepadamu."
Ercilia hanya tersenyum lemah. Bunda Mawar melanjutkan kalimatnya.
"Ya, seharusnya kamu beruntung dalam keadaan ini saja, tidak dalam keadaan yang lain. Tapi sekarang? Kamu tentunya kesulitan untuk bisa menentukan salah satu di antara mereka bukan?"
Ercilia pun menjawab pelan. "Saya bukan hanya bingung menentukan hal itu, Bu. Saya bahkan tidak tahu mana Dika dan mana Wira."
Bunda Mawar menyentuh tangan Ercilia dan berkata dengan lembut.
"Apakah kamu masih mencintai Wira Cil?"
"Tentu saya sangat mencintai dia Bu, dia cinta pertama saya..." jawab Ercilia membalas tatapan Bunda Mawar.
"Dan Dika bagaimana?" tanyanya lagi dengan senyum lembut nya.
"Saya juga..... Saya juga mencintainya Bu..."
Huuffttttt.......
(terus yang mencintai othor siapa?)
...•••••••••••...
Sejak kepulangan Wira, jadwal harian Dika untuk mengantar jemput Ercilia di tempat kerja pun dihentikan. Kedua orang tuanya dengan tegas melarang Dika maupun Wira untuk mendekati Ercilia.
__ADS_1
"Bun tidak bisa seperti itu dong, Ercilia tunangan ku." ujar Dika.
"Kapan aku pergi mengizinkannya, Dika Ercilia itu masih pacarku." bentak Wira tidak mau kalah.
"Stop kalian berdua!" hardik Ayah Putra.
"Biarkan dia sendiri dulu untuk menenangkan dan menjernihkan pikirannya nak. Urusan kalian berdua membuat Ercilia syock dan bingung pasti." kata Bunda Mawae Bijak.
"Bun, ini sungguh tidak adil! Sejak Wira pulang kerumah, saya sama sekali belum pernah berbicara berdua dengan Ercilia. Padahal dia pacarku." protes Wira.
Dika langsung ikut berbicara dan menatap tajam ke arah Wira, saudara kembarnya.
"Gara-gara kamu Ercilia jadi terlantar! Seharusnya aku tetap bisa mengantar jemput dia."
"Dia pacarku DIKA!"
"kamu harus selalu ingat kata-kata ku Wir. ERCILIA ADALAH TU-NA-GAN-KU!!!!!
Bug bug BUG BUG
...•••••••••••••••...
...Jalan Tuhan memang bukan yang tercepat dan termudah, namun jalan Tuhan pastilah yang terbaik, , ...
...Suatu saat rasa kecewa mu akan berganti bahagia, ,...
__ADS_1
...Bahkan akan ada rada syukur yang tidak terhingga, , ...