
...Terkadang kita merindukan yang seharusnya tidak kita rindukan. Dan melupakan seharusnya yang harus kita ingat. ...
...Seperti waktu. ...
...Terkadang kita mencintai seseorang yang seharusnya tidak baik untuk kita cintai ...
...••••••••••••••• 🕶️🕶️🕶️🕶️🕶️ •••••••••••••...
Beberapa mahasiswa yang ada di kantin langsung menuju meja yang di duduki oleh Ercilia dan Dika. Dika masih diam, dia kebingungan menghadapi Ercilia yang pingsan.
"Kenapa Wir?" tanya salah satu dari mereka.
Dika tidak mengenal mahasiswa itu. Namun dia menjawab saja.
"Aku juga tidak tahu tiba-tiba dia pingsan."
"Langsung bawa ke klinik saja." saran mahasiswa lain.
Lalu, mereka pun membantu Dika membawa Ercilia ke klinik kampus. Dika membaringkan tubuh Ercilia di atas tempat tidur. Kemudian menunggu sambil membantu mempercepat kesadaran Ercilia.
Dika mengira Ercilia akan kuat menghadapi kenyataan ini mendengar kebenaran ini. Kebenaran mengerikan bahwa kekasihnya telah tewas dalam kecelakaan itu. Ercilia jelas akan terguncang mendengarnya. Dan sekarang dia sangat terguncang sampai tidak sadarkan diri.
Dika duduk terpaku di samping tempat tidur. Memandangi wajah pucat Ercilia.
Maafkan aku!
__ADS_1
Perempuan ini telah ditinggal mati oleh kekasihnya selama lima bulan lebih, karena kecelakaan yang tragis. Namun, perempuan ini baru mengetahuinya. Dia sungguh tidak menyadari dan tetap menyakini sepenuh hati bahwa kekasihnya masih hidup. Kekasihnya masih ada di sisinya setiap hari. Selalu bersamanya.
Entah sekarang apa yang sedang dia rasakan!
Dika teringat pada kata-kata Ayah Putra. Mereka pernah membahas masalah ini.
Sampai kapan kamu akan menahan semua kebenaran ini dari Ercilia? Semakin lama kamu menahannya. Itu sama saja kamu semakin memperdalam luka di hatinya kelak. Begitulah kata Ayahnya saat itu.
Dika memang terlalu lama menahannya. Terlalu lama menyimpan kebenaran yang menakutkan ini.
Lima bulan. Ya Tuhan....
Sekarang Dika seperti baru menyadari itu adalah waktu yang sangat lama untuk membohongi hati seorang perempuan yang telah kehilangan pria yang dicintainya.
Apa ada yang lebih kejam dari itu?
Tidak lama kedua mata Ercilia perlahan terbuka.
"Cil......," sapa Dika selembut mungkin.
Ercilia tidak bereaksi apa-apa. Tatapan matanya tampak kosong. Dika menyentuh tangan Ercilia. Seketika, Ercilia menjadi sadar.
"Pergiii......!" dengan tubuh lemah dan suara parau. Ercilia berusaha bangkit dari posisinya berbaring. Dia menarik tangannya dari genggaman Dika. Lalu menatap Dika dengan sorot mata kemarahan.
"Cil....." Dika tidak tahu harus mengatakan apa. Dia hanya bisa menatap wajah Ercilia yang begitu pucat.
__ADS_1
"Pergiiiii...."
"Tolong pergilah." Ercilia menjerit penuh kebencian.
"Ercilia.."
"Kubilang pergi....!!!!!" kali ini dengan isak tangisnya yang meledak.
Tidak lama Ercilia terjatuh. Tertelungkup di atas tempat tidur. Kemudian menangis tersedu-sedu. Air mata membasahi bantal dibawah dibawah wajahnya. Dika menyaksikan itu semua, menyaksikan betapa hancurnya perasaan perempuan di hadapannya itu.
Dika sangat merasa bersalah.
Dika sangat merasa berdosa.
Tetapi apa yang harus dia lakukan kini?
Dika merasa sudah melakukan hal yang benar. Dia sudah mengatakan semua kebenaran yang selama ini ditutupinya.
Dan, dia tidak menyangka Ercilia bisa sehancur ini.
Dika hanya terpaku ditempatnya berdiri. Tanpa bisa berbuat apa-apa. Dia hanya mampu melihat Ercilia menumpahkan segalanya. Melihat Ercilia hancur setelah mengetahui kenyataan yang mengerikan ini. Tubuh Ercilia terguncang-guncang di atas tempat tidur. Air matanya semakin membasahi bantal.
••••••••••••••••••••••••••••••••
Jangan lupa RATE, LIKE, COMENT, ❤️
__ADS_1
Terimakasih semua ☕😎