
Ayah Putra yang langsung memegangi Wira pun berkata.
"Sudah Wir. Kamu tidak bisa marah-marah terus seperti ini pada Dika, karena dia juga sama sekali tidak tahu kamu masih hidup."
"Tapi sekarang aku sudah ada Yah," jawab Wira masih bersikukuh.
"Ya benar. Tapi kita bisa membicarakan nya dengan baik-baik dan lebih dingin kan?"
Wira tentu saja belum dingin. Dia masih terus berteriak,
"Tapi pertunangan itu harus dibatalkan!"
Dika yang semulah sudah dingin ikut memanas kembali. "Wir, aku bisa menjamin kalau aku tidak akan membatalkan pertunangan itu!"
"Kamu memang bangsat!" teriak Wira kalap kembali.
"Wir," tegur Ayahnya dengan keras.
Bunda Mawar langsung berdiri dan menarik Dika menjauh dari tempat itu. Di bawanya Dika ke kamar. Kemudian mengambilkan segelas air dingin untuk Dika.
"Minumlah agar kamu bisa lebih dingin." kata Bunda Mawar sambil duduk dihadapan Dika.
Dika meminum air itu sampai habis. Lalu menatap Bundanya.
"Bun, Wira tidak bisa menuntut seperti itu.."
__ADS_1
"Iya, Bunda tahu itu," hibur Mawar.
"Bunda pun bingung juga. Kamu merasa berhak, sementara Wira juga sama."
"Tapi Dika mencintai Ercilia, Bun." kata Dika bersungguh-sungguh. "Dika harus menikah dengannya Bunda."
"Bunda percaya, kamu mencintainya sebesar Wira mencintai Ercilia juga."
"Lebih dari itu, aku takut kehilangannya." Suara Dika kian lemah. "Bunda, Dika tidak pernah merasakan cinta seperti sekarang ini yang aku rasakan padanya.. Terlebih......"
Mawar masih setia mendengarkan kegalauan anaknya sambil menepuk-nepuk bahu Dika.
"Iya Bunda tahu."
Dika seakan-akan memiliki harapan.
"Seperti yang Bunda tadi bilang, Bunda pun bingung untuk memutuskan hal ini. Kalian berdua menginginkan hak yang sama, sementara Ercilia hanya satu. Jadi, biarlah Bunda besok akan mengundang Ercilia kemari. Biarlah dia yang akan menentukan siapa yang akan dia pilih." jelas Mawar pada akhirnya.
Sungguh Ibu yang mana tega melihat anak-anaknya berseteru memperebutkan seorang gadis seperti ini. Dia pun tidak tahu harus bagaimana, keduanya adalah anaknya. Dan dia tidak ingin mereka saling melukai. Biar bagaimanapun mereka saudara.
...°°°°°°°°...
Seperti kata Bunda Mawar kemarin, dia akan mengundang Ercilia ke rumahnya. Dika dan Wira duduk diruang tengah dengan muka masam. Sementara, Bunda Mawar menelepon Ercilia.
Bunda Mawar meminta Ercilia datang ke rumah dan Ercilia menyetujuinya. Beberapa menit kemudian suara bel pintu rumah mereka berbunyi, Wira dan Dika sama-sama bangkit dari duduknya. Namun, buru-buru Bunda Mawar menghalangi.
__ADS_1
"Kalian berdua tetap duduk dan jangan kemana-mana." ujarnya dengan tegas.
Bunda Mawar keluar dari ruang tengah menuju ke depan untuk membukakan pintu. Di sana Ercilia berdiri dengan wajah bingung. Namun tetap tersenyum sopan saat melihat Bunda Mawar menyambutnya.
Bunda Mawar membawa Ercilia untuk duduk di kursi panjang ruang tamu. Setelah keduanya duduk dengan tenang Bunda Mawar pun memulai pembicaraan mereka.
"Ercilia," katanya.
"Ada sesuatu yang penting ingin Ibu bicarakan. Makanya Ibu mengundang mu kemari pagi-pagi seperti ini."
"Apa itu Bu," tanya Ercilia.
"Ibu benar-benar bingung menghadapi masalah ini." Bunda Mawar menghembuskan nafas dan menatap wajag Ercilia.
"Dan hal ini menyangkut dirimu, Ercilia. Ibu harap kamu bisa menghadapi hal ini."
Ercilia menunjukkan wajah bingung. Bunda Mawar menggenggam kedua tangan Ercilia.
"Kamu harus melihatnya dan kamu juga harus bisa menentukannya."
Ercilia menurut dan melangkah mengikuti langkah Bunda Mawar keruang tengah. Di sana dia melihat ada dua sosok yang berwajah sama yang kini menatap dirinya.
Deg deg deg
••••••••••••••••
__ADS_1
...Mungkin kita punya keinginan, namun Tuhan lah yang memiliki keputusan ...