Permainan Anak Kembar

Permainan Anak Kembar
kembar 57


__ADS_3

Keluarga Ayah Putra akhirnya lengkap kembali. Mereka pun sudah tersadar dari keterkejutannya dan mulai menyadari kenyataan yang terjadi. Kehadiran Wira yang seperti bangkit dari kubur pun perlahan-lahan mengendap dalam kesadaran mereka. Pada awalnya semua yang terjadi begitu mengerikan. Namun semua tertepis oleh hadirnya Wira kembali. Sungguh suatu perasaan yang sulit dijelaskan.


Satu-satunya orang yang kuat melihat hadirnya Wira kembali adalah Dika. Sedang kan Bunda Mawar langsung pingsan, dan Ayah Putra terlihat sangat shock. Itu karena mereka telah melihat proses pemakaman dari Wira itu sendiri.


Tetapi sekarang? Lebih menakjubkan dari sulap mana pun. Wira yang diyakini telah meninggal itu datang kembali ke rumah. Bahkan sekarang, ada di tengah-tengah mereka. Seperti dulu, seperti sebelumnya.


Kini, mereka duduk di ruang keluarga. Baik Dika maupun kedua orang tuanya sudah tidak sabar ingin mendengar sebenarnya apa yang telah terjadi.


Akhirnya....


Wira pun menceritakannya. Sebuah cerita yang tidak pernah terbayangkan. Seolah-olah menembus lorong waktu.


...°°°°°°°°...


Saat itu, Wira menerima undangan acara pesta ulang tahun dari temannya. Mereka berangkat sore hari bersama beberapa teman-temannya. Sampai di Puncak, mereka tidak langsung ke vila di mana pesta di adakan. Tetapi, mereka pergi ke villa Dimas terlebih dahulu.


Acara ulang tahun jessie dimulai pada pukul 18.30 malam itu. Wira dan teman-temannya yang sudah nampak keren dan rapi pun sudah ada di sana. Di villa yang luas itu dipadati oleh tamu undangan yang didominasi cewek-cewek cantik dan seksi tentunya.


Seusai acara pesta diakhiri sekitar pukul 22.30, Wira dan rombongan pun kembali ke villa Dimas. Berencana menginap di sana. Di villa itu, mereka melanjutkan pesta kecil. Dimas mulai membuka krat minum keras.


"Ayo kita minum, biar badan tidak terasa dingin." ujarnya. Yang lain pun langsung bersorak riang.

__ADS_1


Sedangkan Wira yang tidak terbiasa oleh minuman itu, tampak agak grogi ketika Dimas menyodorkan gelas piala yang penuh minuman itu padanya. Pada awalnya Wira masih menolak dengan berbagai alasan. Namun, ketika teman-temannya sudah sangat mabuk dan sudah tidak bisa bicara dengan jelas dan sopan. Wira pun langsung meneguk minuman itu sekali. Tenggorokannya terasa terbakar, perutnya terasa di aduk-aduk.


Semalaman mereka mabuk, tiba-tiba salah satu ponsel milik mereka berdering. Wira tidak ingat itu ponsel milik siapa. Namun, yang jelas dialah yang kemudian mengambilnya dan disodorkan pada Dimas. Lalu Dimas pun menerima telepon itu.


"Dimas....mas.." suara diseberang sana.


"Mm..siapa ini, " jawabnya dengan suara malas.


"Dimas, Dodi meninggal dunia!"


"Apa?!" kesadaran Dimas seperti dipaksa untuk segera kembali.


"Dodi Mas, Dodi meninggal."


"Iya Dodi itu!"


Dimas segera mematikan sambungan telpon itu kemudian membangunkan semua teman-temannya. Sahabat mereka, yang paling dekat dengannya telah pergi. Dan menurut si penelpon tadi akan dikuburkan besok pagi.


Butuh waktu agak lama untuk memulihkan kesadaran mereka yang telah dibawa oleh minuman keras. Ketika sedikit demi sedikit kesadaran mereka kembali Dimas pun mengeluarkan ultimatum.


"Kita harus segera pulang. Acara pemakaman Dodi dilakukan besok pagi, dan kita semua harus hadir."

__ADS_1


Akhirnya menjelang subuh, dengan tubuh letih dan agak sempoyongan. Mata ngantuk serta kepala berat, mereka pun keluar villa. Wira sudah memanaskan mesin mobil. Sementara Dimas mengunci pintu villa.


Dimas melajukan mobilnya, menembus dinginnya udara Puncak. Menuruni jalan berliku menuju kota. Di dalam mobil, Wira masih merasakan kepalanya agak sakit. Pikirannya kacau. Sementara yang lain masih terlihat terkantuk-kantuk dengan sisa-sisa mabuknya.


Tidak lama. Bencana itu pun muncul. Saat lintasan jalan yang terus menurun dan berbelok-belok, Dimas yang masih belum sepenuhnya sadar dari mabuknya tampak kewalahan mengemudikan mobil itu. Laju mobil pun semakin cepat tak terkendali.


Semua nampak panik. Wira pun berteriak dengan suara risau.


"Lambatkan Dim!" teriak nya berkali-kali.


"Lambatkan.. Rem rem rem.... "


"Shitt.... Rem nya blong!" teriak Dimas pula dengan panik.


Mobil itu semakin melaju dan........


•••••••••• ••••••••


...Begitulah sifatnya dunia, ...


...Tidak pernah habis oleh ujiannya, ...

__ADS_1


...Dunia bukan tempat berehat, ...


...Tapi tempat untuk menuju akhirat, ...


__ADS_2