Permainan Anak Kembar

Permainan Anak Kembar
Kembar 35


__ADS_3

...Sering kali yang membuat semuanya menjadi terasa lebih menyakitkan adalah perasaan kita sendiri. Kita menginginkan sesuatu yang berlebihan, berharap lebih. Sehingga lupa kenyataan bisa saja berbeda....


...Kita selalu ingin semuanya berjalan sesuai dengan mau kita sendiri, hingga akhirnya kita sulit menerima kenyataan yang sebenarnya terjadi....


••••••••••••••• 🕶️🕶️🕶️🕶️🕶️ •••••••••••••


Dika menatap wajah Ercilia. Tidak ada lagi senyuman hangat dan tidak ada lagi sapaan lembut dari gadis itu.


"Kamu masih marah padaku?" tanya Dika setelah lama terdiam.


Ercilia seperti enggan menjawab pertanyaan Dika, yang menurutnya sudah jelas tahu jawabannya. Tidak lama dia bersuara


"Di minum tuh tehnya." ujarnya dingin.


Dika pun langsung meminum teh yang di suguhkan untuknya. Kemudian sekali lagi dia bertanya .


"Kamu masih marah padaku?"


Ercilia masih mengacuhkan Dika. Ercilia melirik jam tangannya.


"Aku harus ke kampus." gumannya pelan. Tapi Dika masih bisa mendengar.


Dika hanya bisa menarik nafas pelan.


"Hmm baiklah. Ayo!"


Dua orang yang nampak tidak saling kenal itu pun berdiri. Berjalan mendekati sepeda motor yang terparkir di halaman rumah Ercilia. Dika menghidupkan motornya, lalu tanpa berkata apa-apa Ercilia duduk di belakang. Dan tetap membisu.


Sepanjang perjalanan menuju kampus. Dika sudah berkali-kali mencoba mengajak Ercilia berbicara. Tetapi, sosok gadis yang duduk dibelakangnya hanya diam saja. Sama sekali tidak menanggapinya. Dika pun menyerah, ikut terdiam.


Sampai di kampus, sekali lagi Dika mencoba berbicara pada Ercilia.


"Cil, kamu lama tidak? Aku tungguin di kantin ya?"


Dan sekali lagi, Ercilia tidak menjawab. Dika tahu Ercilia sebenarnya tidak memiliki jadwal lagi di kampus, hanya mengurus beberapa hal penting sebelum wisuda. Pada akhirnya Dika pun menunggu di kantin seperti biasa. Satu jam menunggu, dua jam tetap menunggu, tiga jam masih menunggu, sampai empat jam Dika mulai gelisah. Dika melihat jam di tangannya sudah jam satu siang. Seharusnya itu jam Ercilia ke toko untuk bekerja. Tapi, sampai sekarang gadis itu belum juga muncul di kantin. Akhirnya Dika ke ruangan akademik untuk mencari Ercilia. Dan memang ruangan itu masih terlihat ramai. Tapi Dika tidak mendapati Ercilia dia sana. Mata nya masih melihat kanan dan kiri mencari sosok Ercilia. Sampai Agung muncul dari salah satu ruangan lainnya.


"Woi Wir, cari siapa?"

__ADS_1


"Ercilia. Kamu liat nggak?"


"Loh dia enggak telpon kamu? Dia sudah pulang dari tadi." kata Agung.


"Mungkin aku enggak dengar saat dia kabarin." bohong Dika.


"Tadi dia hanya melihat nilai ujian. Setelah itu dia langsung pulang." jelas Agung.


"Memangnya dia tidak tahu kamu akan menjemputnya?"


"Aku... Aku pulang dulu ya Gung."


Dika pun mengucapkan terima kasih lalu buru-buru pergi dari ruang akademik. Dika langsung menuju parkiran motornya. Tujuannya saat ini adalah rumah Ercilia jika memang gadis itu pulang. Dika hanya ingin memastikan bahwa Ercilia sampai rumah dengan selamat.


Di rumah Ercilia, Ibunya menyambutnya.


"Bu. Ercilia nya ada?"


"Ercilia sudah berangkat tadi nak."


Huft


Apa maumu?


Apakah aku harus pergi dari hidupmu juga Cil? Apa itu bisa membuatmu bahagia?


°°°°°°°°°°°°°


Malamnya, Dika menunggu Ercilia pulang dari tempat kerja. Kali ini dia tidak lagi menunggu secara diam-diam. Namun, dia duduk di depan toko tempat Ercilia bekerja. Pukul sepuluh tepat toko itu tutup. Dika segera mendekati Ercilia.


"Cil." panggil Dika.


"Ada apa lagi?" Tanyanya masih dingin.


"Aku akan mengantar kamu pulang." jawab Dika.


"Tidak perlu!"

__ADS_1


"Cil, aku datang ke sini untuk menjemputmu.."


Ercilia menatap Dika dengan galak dan bekata.


"Dengar ya, tadi pagi aku mau di antarkan olehmu ke kampus karena aku tidak ingin ada keributan di rumahku. Tapi sekarang, tolong jangan pernah temui aku lagi."


"Tapi Cil...."


"Stop. Kamu bukan siapa-siapa ku!"


Deg deg deg


Sakit!


Mendengar kalimat terakhir Ercilia membuat hati nya nyeri. Memang selama ini yang Dika lakukan semata-mata karena perannya menjadi Wira. Tapi sekarang dia sadar. Ercilia sangat berarti untuknya


Ya, Dika jatuh Cinta padanya.


Setelah itu Ercilia berlalu. Baru saja Dika mau mengejarnya. Sebuah motor berjaket hijau mendekat dan Ercilia berlalu meninggalkan Dika yang berdiri diam. Terpaku di depan toko yang sudah tertutup.


•••••••••••


Selama seminggu ini Dika menikmati kebiasaan barunya. Setiap malam, dia menunggu Ercilia di tempat kerjanya. Ketika toko akan tutup, Ercilia langsung naik ke sebuah motor berjaket hijau. Dan Dika selalu mengikuti dari belakang. Hingga Ercilia benar-benar sampai rumah dengan aman. Dika sangat mengkhawatirkannya!


Jauh sebelum Dika muncul dalam kehidupannya, sebenarnya Ercilia sudah menjalani hidup seperti ini. Dia sudah terbiasa pulang malam seorang diri. Kemudian dia mejalin kasih dengan Wira dan Wira lah yang selalu menjemputnya. Jika Wira sedang berhalangan pun Ercilia akan pulang sendiri. Ercilia sudah sangat terbiasa dengan kondisi seperti ini. Lantas mengapa Dika harus mengkhawatirkannya?


Dika pun menyadari. Dia memang tidak sekedar mengkhawatirkan gadis itu. Dia menyayanginya. Lebih dari itu, Dika juga merasa sangat merindukannya. Setiap kali Dika tidak melihat Ercilia dalam satu hari. Selalu ada yang terasa kurang jika dia tidak melihatnya. Selalu terasa tidak lengkap harinya. Selalu ada yang terus mendesak di dalam hatinya untuk segera menemui gadis itu. Meski hanya melihatnya dari kejauhan.


Sampai pada kesadaran semacam itu, sekali lagi dika berbisik dalam hati


Apakah memang aku jatuh Cinta padanya?


Logika dan akal sehatnya tidak mampu digunakan. Hatinya yang menjawab dan berbicara.


•••••••••••••••••••


Jangan lupa RATE, LIKE, COMENT, ❤️

__ADS_1


Terimakasih semua


__ADS_2