Permainan Anak Kembar

Permainan Anak Kembar
Kembar 27


__ADS_3

...HITAM itu tidak selalu gelap dan membosankan, terkadang memiliki warna lain yang tidak pernah kamu duga....


...Sama seperti perpisahan, tidak selalu sulit dan sedih...


...Seperti hitam dibuat berbagai warna, terkadang hitam terkena cahaya bisa berubah menjadi hijau tua atau biru tua. Selalu ada warna lain di dalam diri hitam....


...Semoga perpisahan kami pun agak berbeda, dengan perpisahan lain nya....


...Dan, semoga kita saling berbahagia dengan kehidupan masing-masing...


••••••••••••••• 🕶️🕶️🕶️🕶️🕶️ •••••••••••••


"Apa kamu yakin Wir? Kamu terancam akan di pecat dari kampus." ujar Lisa prihatin. Sementara yang lain menatap Dika dengan terpaku.


Dika balik menatap semua yang ada di situ. Kemudian berkata.


"Aku bisa apa jika itu keputusan mereka. Apa yang kita lakukan ini adalah bagian dari perjuangan kita, teman-teman. Jika, resikonya sekarang aku harus di pecat dari kampus ini, Aku siap menerimanya."


Teman-teman Wira menahan nafas dan terpaku mendengar jawaban Dika. Dika pun merasakan remasan tangan Ercilia yang duduk di sampingnya. Seolah-olah memberi kekuatan padanya.


Rapat selesai.


°°°°°°°°°°°°°°°°°°


Dika sedang memikirkan keputusan itu saat pertama kali sudah menyadari bahwa sekarang dia tidak bisa mengalihkan persoalan di kampus itu pada Wira lagi. Dulu, saat Wira masih hidup. Dika bisa dengan gampang menyatakan bahwa Wira yang kelak akan menghadapi dan menyelesaikan masalah ini. Meski dia telah terlibat sedikit dengan kasus itu. Tetapi sekarang Wira sudah tidak ada lagi. Kasus itu pun masih menggantung. Dika segera menyadari bahwa dialah yang kini terbebani oleh tanggung jawab itu, dia pula lah yang harus menyelesaikan masalah itu.


Dika juga telah membayangkan Wira berulang-ulang kali sebelum menjatuhkan keputusan itu. Dia berfikir apa yang akan Wira lakukan jika dia yang akan menyelesaikan masalah majalah pada pihak kampus. Dika sangat tahu sifat saudaranya. Wira tidak akan pernah menjilat ludahnya sendiri. Dia tidak akan pernah mau meralat berita yang dia telah setujui sendiri. Dan, sekarang Dika melakukan itu.


Bisa saja Dika menyelamatkan diri dengan mengikuti apa mau rektorat dan melakukan ralat berita seperti yang mereka minta. Sebagai pemimpin majalah itu, Wira punya hak untuk melakukan itu semua. Teman-teman nya pun pasti akan memaklumi karena ini menyangkut nasibnya sendiri.


Tetapi jika itu aku lakukan, maka sama saja aku dengan mengkhianati perjuangan Wira. Pikir Dika.


Setidaknya aku melakukan ini untukmu Wir. Untuk semua ide konyol dan permainan bodoh ini. Batinnya lagi.


Kelak, Wira tidak akan di kenang sebagai pengecut yang mau melakukan tekanan demi menjaga nasibnya. Dia akan dikenang sebagai aktivis yang rela berkorban demi idealisme dan kebenaran yang di yakininya.


Membayangkan itu semua, Dika berpikir setidaknya dia telah memberikan yang terbaik untuk Wira.


Beberapa hari dari rapat itu. Akhirnya SK pemecatan Wira pun keluar.


Kampus itu telah kehilangan salah satu aktivis yang dikagumi


°°°°°°°°°°°°°


"Sejujurnya, aku menyayangkan keputusan mu Wir." kata Ercilia. Malam ini mereka makan di warung pinggir jalan selelas Wira menjemput Ercilia pulang kerja.

__ADS_1


"Itu sudah menjadi resiko yang harus aku terima Cil." jawab Dika sambil tetap memakan makanan nya.


"Tapi kamu punya pilihan. Kamu bisa meralat berita itu bukan?" Ercilia menanggapi.


"Toh, teman-teman pun tidak akan menyalahkan kalau kamu melakukan itu. Mereka pasti akan memaklumi, dan mereka tentunya juga tidak menginginkan kamu sampai di pecat dari kampus Wir." ujar Ercilia lagi.


"Biarlah! Toh sudah terjadi." kata Dika lirih.


"Tapi, tidak lama lagi kamu akan lulus Wir." kata Ercilia perihatin.


"Mata kuliah kamu sudah semester akhir dan bulan depan kita KKN. TIdak lama lagi kita wisuda Wir." lirihnya.


Dika tersenyum melihat wajah sedih kekasihnya. Kekasih saudara kembarnya.


"Kamu ingin kita wisuda bersama?" ucap Dika sambil merapikan anak rambut Ercilia.


"Tentu saja!" jawab Ercilia


"Itu adalah salah satu impian ku."


Dika menjawab


"Aku akan menghadiri wisudamu Cil."


"Aku tahu. Tapi pasti lebih menyenangkan jika kita berdua bisa wisuda bersama."


"Maksudmu?" Ercilia menatap mata Dika.


"Apa yang ingin kamu lakukan setelah wisuda?" Dika masih terus menggoda Ercilia.


Ercilia memicingkan matanya. Ercilia paham maksud Dika. Dia menjawab dengan gaya yang sama.


"Setelah wisuda? Ya tentu saja langsung pulang ke rumah kan?"


Dika tidak bisa menahan tawanya. Dia terpingkal-pingkal. Sementara Ercilia menatapnya dengan senyum kemenangan.


"Kamu lucu sekali." kata Dika sambil mencolek dagu Ercilia gemesh.


Ercilia tersenyum.


Merasakan waktu bersama-sama seperti ini. Ercilia melihat Dika bisa melepaskan sejenak semua kedukaannya, kesedihan dan kegalauan kekasihnya.


Ya. Dika memperoleh kedamaian dan ketenangan. Setiap kali bisa tertawa bersama Ercilia seperti ini. Dika mendapatkan kebahagiaan nya.


Tetapi, jika sendrian dan kembali tersadar siapa dirinya. Dika akan kembali merasakan kebimbangan sekaligus kegalauan itu lagi.

__ADS_1


••••••••••••••••••••••••


Sudah lebih sebulan sejak Wira meninggalkannya. Ercilia belum mengetahui siapa pria yang ada di sisinya. Dika belum punya keberanian untuk jujur. Setiap kali dia punya kesempatan berbicara berdua dengan Ercilia. Tiba-tiba saja bibirnya membeku. Lidahnya tidak mampu di gerakkan.


Sampai kapan dia harus memendam kebohongan ini?


Sampai kapan Ercilia bisa menyadari bahwa dia telah kehilangan kekasihnya?


"Hei.. Kok sekarang hobi melamun?" tegur Ercilia.


Dika tersadar dari lamunan nya.


"Aku... Ak....ku" Dika tergagap.


Ercilia meraih tangan Dika yang ada di atas meja dan menggegamnya. Kemudian berkata penuh simpati.


"Aku tahu, kamu pasti sedang teringat pada saudaramu lagi kan?"


Ya. Batinnya


Dika tidak menjawab. Hanya mengangguk kan kepala.


Dia sedang teringat pada saudaranya. Tapi, dalam kenyataan yang jauh berbeda dengan bayangan Wanita di depannya.


"Kamu masih belum bisa melupakannya?" tanya Ercilia lagi dengan lembut.


"Bagaimana bisa aku bisa melupakannya?" bisik Dika pelan sambil merasakan jari-jari Ercilia di tangannya.


Setelah terdiam beberapa saat. Ercilia berkata pelan.


"Wir...."


"Ya? " Dika menatap wajah di dekatnya.


"Aku bisa merasakan kehilanganmu?" jawab Ercilia lirih.


"Huh?"


Tanpa sadar, Dika meremas jemari Ercilia dalam genggaman nya. Wajahnya pucat, dan ingin sekali menangis.


•••••••••••••••••••••••••••••


Babangnya galau


__ADS_1


Jangan lupa RATE, LIKE, COMENT, ❤️


Terimakasih semua ☕😎


__ADS_2