
...Hidup lah seperti anak panah. ...
...(Ketika kamu di tarik mundur, bukan berarti hidup kamu yang mundur, akan tetapi kamu sedang bersiap untuk melangkah jauh ke DEPAN) ...
...••••••••••••••• 🕶️🕶️🕶️🕶️🕶️ •••••••••••••...
Pertemuan Dika dan Rebecca kembali itu, seolah di manfaat gadis itu untuk semakin mendekatkan diri pada Dika. Gadis itu berfikir ini kesempatan untuk diri nya bisa lebih dekat yang diberikan padanya. Setelah menemani ke pesta temannya kemarin, Rebecca kini selalu mengajak Dika bertemu entah itu makan, main ke rumahnya, atau bahkan sekedar menelpon pria itu. Beberapa kali Dika menerima tawaran itu karena tidak enak terus di telpon. Dia pun terkadang menerima ajakan Rebecca.
Namun meskipun bersedia memberikan waktu untuk menemani Rebecca, Dika juga tidak pernah melupakan kewajibannya terhadap Ercilia. Dia merasa trauma dengan kelalaiannya dulu, sempat terlena pada pesona Rebecca sehingga melupakan Ercilia hingga kehujanan dan demam saat itu. Dan dia tidak ingin itu terjadi lagi. Meski dia tidak menampik pesona Rebecca sulit untuk di tolak.
Flu yang dirasakan Dika semakin berat. Sementara hujan terus mengguyur kota itu setiap malam. Pertahanan Dika akhirnya jebol. Dia jatuh sakit dan terkapar di kamar. Awalnya dia tidak menghiraukan sakitnya, dan bersikeras untuk tetap menjemput Ercilia pulang kerja. Tapi kepalanya sangat berat dan terduduk lemas di ruang tamu. Bunda Mawar sadar kalau Dika sedang tidak baik-baik saja. Dika terlihat sangat lemah.
"Kamu sakit Dik?" tanya Bunda Mawar.
"Istirahat di kamar, Bunda buatkan teh hangat dan ambilkan obat."
"Tapi Dika harus menjemput Ercilia Bun," Dika bersikeras.
"Tapi tubuh kamu sangat lemah sekali Nak." Mawar nampak khawatir.
"Kamu bisa pingsan dan membahayakan dirimu di jalan. Kamu telpon Ercilia katakan jika kamu sedang sakit."
Dika sempat memikirkan hal itu.
Apa jadinya jika aku sampai pingsan?
"Sudah sana masuk kamar, nanti Bunda yang akan menelepon Ercilia." kata Bunda Mawar kemudian.
"Bunda yakin Ercilia tidak akan marah?"
Mawar menatap anaknya dengan heran.
"Mengapa Ercilia harus marah? Dulu Wira jika sedang berhalangan dan tidak bisa menjemputnya, gadis itu tidak pernah marah. Bunda tahu wataknya, kamu tidak perlu khawatir begitu."
"Dika hanya takut, dia akan marah lagi dan semakin menghindari Dika."
"Tenanglah. Ercilia bukan gadis seperti itu."
Mawar langsung mengambil ponselnya dan menelpon Ercilia. Dika masih duduk di kursinya memperhatikan Bundanya, yang tidak jauh dari tempatnya. Saat sambungan telpon terhubung. Mawar sengaja membuka loudspeakernya agar Dika bisa ikut mendengarkan pembicaraan mereka.
"Hallo.." sapa Ercilia.
"Ercilia," sapa Mawar.
"Ibu mau memberi tahu, malam ini Dika tidak bisa menjemputmu karena sakit. Flunya semakin parah saja. Kamu tidak apa-apakan pulang sendiri?" kata Bunda Mawar
__ADS_1
"Iya bu tidak apa-apa." jawab Ercilia
"Saya juga sudah bilang itu pada Dika. Tapi dia tidak mau mendengarnya. Padahal terlihat sekali dia sangat menderita dengan sakitnya. Mungkin karena kehujanan beberapa malam ini Bu."
"Tapi kamu tidak ikut-ikutan terkena flu kan?" tanya Bunda Mawae sambil tersenyum.
"Syukur Alhamdulillah tidak Bu." jawab Ercilia.
"Oh ya, Dika sekarang sedang istirahat kan Bu?"
Mawar menengok ke arah anaknya yang masih duduk di sampingnya sambil terus mendengarkan Bundanya berbicara di telepon.
"Dia sedang duduk di samping ibu, mendengarkan suaramu." goda Mawar sambil tertawa kecil.
"Tadi dia bahkan bersikeras ingin menjemputmu. Tapi tubuhnya tampak sangat lemah. Makanya sekarang ibu menelepon mu untuk menyakini bahwa kamu akan mengerti dan agar kamu tidak bingung jika dia tidak datang." jelas Mawar lagi.
"Iya tidak apa-apa."
°°°°°°
Keesokan harinya
Matahari pagi ini bersinar sangat cerah. Namun tidak dengan Dika. Akhirnya dia benar-benar terkapar sakit. Dan orang pertama yang datang menjenguknya adalah Rebecca. Mulanya gadis itu terus menelepon Dika dan mendengar suara Dika yang sengau karena pilek. Kemudian Dika menjelaskan jika dirinya sedang tidak enak badan. Siang harinya Rebecca datang ke rumah Dika dengan sekeranjang buah-buahan.
"Saya mau menjenguk Wira tante." sapa Rebecca dengan nada manis.
"Tadi pagi saya telepon dan dia mengatakan sedang sakit."
Mawar pun mempersilakan masuk dengan ramah. Rebecca duduk di ruang tamu. Mawar masuk menemui Dika di kamar.
"Dik, ada yang mau menjenguk kamu." kata Bunda Mawar
"Siapa Bun?"
"Bunda juga baru lihat." jawab Mawar.
"Kamu mau ke depan atau dia yang kemari."
Dika nampak ingin bangun namun kepayahan. Bunda pun memutuskan.
"Masih pusing banget ya?"
"Yasudah biar Bunda suruh kemari saja."
Tidak lama kemudian, sosok Rebecca telah berdiri di ambang pintu.
__ADS_1
"Hei." sapa Rebecca dengan manis seperti biasa.
Dika tersenyum lemah dan membalas sapaan Becca dengan sama lemahnya. Rebecca mendekat ke tempat tidur Dika. Dia meletakkan keranjang buahnya di meja. Kemudian dia duduk di pinggir tempat tidur.
"Jadi kamu benar-benar sakit ya?" goda Rebecca sambil tersenyum manis.
Dika membalas senyuman Becca.
"Kamu pikir aku berbohong?"
"Bisa saja. Mungkin kamu bosan aku ajak jalan."
Dika hanya tersenyum.
"Kamu ingin makan sesuatu? Ini aku bawa banyak buah."
"Atau nanti aku akan membawakan apa saja yang kamu inginkan."
Mau tak mau, akhirnya Dika tersenyum melihat keceriaan di wajah cantik Rebecca. Perempuan ini seperti tidak pernah merasa sedih. Kehadirannya selalu membuat orang lain tersenyum.
"Memangnya kamu bawa apa?" tanya Dika yang mulai tertarik dengan tawaran itu.
Rebecca mengintip isi keranjang buahnya. Lalu menyebutkan beberapa isinya.
"Ada mangga, jeruk, anggur, pepaya, apel, sirsak, pir, kamu mau yang mana?"
Dika tersenyum lagi mendengar banyaknya daftar buah itu.
Apa dia mau membuat kamar ini menjadi pasar buah-buahan. Batin Dika tergelitik.
"Kenapa tidak kamu bawakan durian sekalian, Bec?"
Rebecca tertawa kecil. Lalu berbisik
"Aku si mau saja bawakan. Tapi aku pikir itu tidak umum untuk menjenguk orang sakit."
Mereka pun tertawa.
Sungguh kehadiran rebecca seperti meredakan rasa sakitnya.
•••••••••••••••••••••••••
Jangan lupa RATE, LIKE, COMENT, ❤️
Terimakasih semua
__ADS_1