Pesantren I'M In Love

Pesantren I'M In Love
68.dejavu....


__ADS_3

assalamualaikum readers lanjut up lagi yu makasih ya buat yg masih mantengin pesantren i'm in love....jangan lupa like vote and komen nya ya


happy reading 😍😍😍


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Azam memungut lembaran foto yg menunjukkan dirinya bersama salsa dan ustadz Rahman di resto bahkan ada satu foto dimana salsa memeluk Azam,yang padahal kejadian yg sebenarnya tidak seperti apa yg dipikirkan Gio .....


" bang Gio salah paham bang,,,,ini tidak seperti kelihatan nya ....memang beberapa waktu lalu Salsabila datang menemuiku itu pun Azam tak tau tapi tidak terjadi apa-apa tak lama setelah itupun dia pulang bang , Azam dan bang Rahman sendiri yg memesankan ticket travel untuknya pulang ke Jakarta..." jelas Azam dengan harapan Gio akan mengerti


bukannya mengerti Gio malah semakin tidak percaya


" berarti seharusnya sekarang kau tau dimana dia sekarang..." jawab Gio menyunggingkan senyum


" cukup loe berpura-pura ,,mungkin dengan ini loe bakal jujur....bawa gadis itu kemari!!!!" bentaknya pada salah satu anak buahnya


akhirnya mereka membuka pintu dengan kasar membuatku tersentak


mereka membuka ikatan yg mengikatku pada kursi dan kaki ku tanpa membuka ikatan yg lain dua orang anak buahnya Gio mencekalku di sisi kiri dan kanan kadang aku setengah terangkat oleh paksaan mereka saat diambang pintu tatapan ku bertemu dengan tatapan Azam ,


deg.....


"hubby......"aku terus saja berontak tapi sia sia saja


"khumai....!!!"....


langkah Azam tertahan dengan cepat melihat kini Gio sudah memegang sebuah pistol yg diarahkan padaku sungguh ini seperti adegan di film film drakor yg sering kutonton bersama Siska dan Lala ,dulu ingin sekali aku mengalami adegan heroik itu saat si wanita diculik dan diselamatkan pria nya sangat romantis,kiranya Allah cepat sekali mengabulkan do'aku ....nyatanya tidak sesuai ekspektasi ku malah aku merasa kapok ini sungguh mengerikan dam menakutkan kalau saja tidak malu aku sudah pipis dicelana


"huuu somebody help me......"


"berterimakasih lah pada Ricko karena nya kini aku tau kelemahan mu kalian sempat bertemu di Bandung bukan ???dan secara tidak langsung kau telah memberitahuku kalau kini kau sudah memiliki wanita " ucap Gio sambil melirik Ricko yg ada disitu sedang menunduk merasa bersalah padaku dan Azam


" maafin gue,,,zam....." ucap ricko pelan


Azam hanya bisa menatap tajam ke arah Ricko


tangisanku semakin deras saat melihat wajah suamiku yg nampak sangat khawatir apa aku akan mati disini ataukah kami akan mati disini ......, jilbabku sudah basah karena air mata ku


hanya gumaman yg keluar dari mulutku yg ditutup dan disumpal....


"come on zam keluarkan lah kemampuan mu dihadapan istri kecilmu ini show to her....." ucap Gio


"sweety sepertinya hari ini kau harus mengucapkan selamat tinggal pada suamimu ,dia tidak bisa menepati janjinya untuk membawa salsa ku maka besok kau akan menjadi pengganti nya dan kulihat kau lebih cantik dari salsa kurasa aku mulai menyukaimu " ucapan Gio membuatku bergidik dan menggeleng cepat sambil menangis sejadi-jadinya Azam sangat marah mendengarnya dia berjalan cepat ke arah Gio

__ADS_1


"Bast*rd kau.....b*jing*n....." pekik Azam


Gio menganggukan kepalanya pada beberapa anak buahnya pertanda menyuruh mereka menyerang Azam pertarungan pun tak terelakkan lagi aku menyaksikan pergulatan 2 banding 8 di depan mataku air mataku semakin mengalir tak terbendung melihat Azam dan ustadz Rahman di serang 8 orang sekaligus walaupun kenyataannya Azam dan ustadz Rahman tetap unggul ,tapi sepertinya Azam sudah mulai kelelahan terbukti salah satu anak buah Gio berhasil memberikan bogeman pada sudut bibir Azam dan membuat nya terhuyung ke belakang lalu menendang perut Azam hingga terjatuh , azam meringis memegangi perutnya dan sudut bibirnya yg mengeluarkan darah tapi ia segera bangkit,,, melihatku yg menangis membuat amarah Azam memuncak dan balik menyerang anak buah Gio beringas tak satupun ia lewatkan , semuanya jatuh tergeletak dan meringis bahkan ada yg pingsan kini hanya tinggal Gio dan seorang preman yg memegangiku Azam mendekat tapi Gio semakin mendekatkan pistolnya juga padaku membuat Azam menghentikan langkahnya


"buka penutup mulutnya " ,titah Gio pada preman yg memegangiku


"ada kalimat terakhir sweety,sebelum perpisahan mu...." tanya nya


aku menatap penuh kebencian


"br*ngs*k....... enyah lo ke ner*ka,gue jijik sama loe!!!!" pekikku


Gio hanya cengengesan " gue suka sama cewe galak " ucapnya tangannya akan menyentuh wajahku seketika aku menjauh dan Azam yg sudah seperti kesetanan, amarahnya sudah sampai puncaknya akhirnya mengeluarkan sebuah pistol mengarahkan pada Gio


"stopp....jangan pernah sentuh istriku..." membuat tangan Gio hanya menyentuh udara


" haaaa ini dia azam yg gue kenal ..... sadis....." masih dengan tawanya yg meledek "ayo tembak zam masih beranikah loe??? atau hanya gertakan saja


Azam masih diam memegang pistolnya yg diarahkan pada Gio ia tidak mau melakukan ini apalagi di depanku tapi jika dibiarkan bukan tidak mungkin Gio akan berbuat lebih padaku


Azam menarik pelatuknya dan


"dorrr........


.


.


.


.


.


.


"dorrrr.....


one shoot mengarah padaku dengan sigap Azam bergerak menjadi tamengku dia menarikku dan memelukku dari belakang


" jleebbbb......


bersamaan dengan lepasnya biji timah itu seseorang muncul di ambang pintu dengan nafas yg terengah-engah dan memegangi perutnya yg mulai membuncit


"Gio.!!!!!!!"


kami semua melihatnya


" Salsabila........


aku membalikkan tubuhku pada Azam yg diam mematung matanya memerah menahan sakit sambil tersenyum padaku


"khumai cantik.... uhibbuki Fillah istriku...."


dan tubuh Azam mulai melemas di pelukanku


ustadz Rahman berlari


"A'a.........

__ADS_1


aku melihat tembakan Gio tepat mengenai perut sebelah kanan Azam yg kini mulai mengeluarkan darah......


air mataku lolos begitu saja ,aku panik , hatiku hancur aku takut.......


aku membaringkan Azam di lantai memangku kepalanya


"hubby......" tangisku


"cepat kita segera bawa Aa ke rumah sakit sil...."


ustadz Rahman dan aku membopong tubuh Azam yg walaupun masih sadar tapi kini sudah tak berdaya kami secepatnya membawa Azam ke mobil menuju rumah sakit terdekat aku berada di jok belakang bersama Azam ,kujadikan pahaku bantalan untuk Azam


" by....hubby jangan tinggalin khumai by.....hubby harus tetep sadar by....." tangisku semakin menjadi-jadi


Azam hanya tersenyum sambil menahan rasa sakit


"sil tekan bagian luka nya sil...." pinta ustadz Rahman dan aku melakukannya sungguh darahnya terus merembes membasahi jaket hitam yg dikenakan


Azam menangkup wajahku


"hubby seneng liat khumai berjilbab ,hubby mau khumai seperti ini terus ya...." suara nya pelan dan susah,, nafasnya yg sudah semakin berat


apakah Azam akan meninggalkan ku??? ya Allah jangan ambil dia ,egoiskah aku bila hari ini aku memaksa-Mu ya Rabb untuk keinginan ku ???aku belum siap untuk kehilangannya secepat ini


" iya hubby....khumai janji.....tapi hubby jangan tinggalin khumai by,,,hubby harus tetap disini bukankah hubby ingin merasakan menjadi seorang abi......" ucapku diselingi tangis


flashback on


" by.... kalo tiap hari gini terus nanti lama lama khumai hamil dong by....." manyunku


"biarin justru hubby ingin cepat cepat merasakan menjadi abi.... hot daddy .....papah muda....hahahah"


" nanti malah keliatan kaya adek kaka dong by....ntar manggilnya gini bro yanda ....bro yanda....." ucapku sambil membuat suara anak kecil


" Yanda???? "


" iya singkat kata dari ayahanda...."


"khumai bisa saja....bagus tuh....bro yanda....."


candaan kami berlanjut dengan saling menggelitiki dan berakhir di adegan panas sepanas hati kalau liat mantan udah punya gandengan baru sedangkan kita belum move on.....


flashback off


kesadaran Azam mulai berkurang dan tubuhnya semakin melemas...mobil berhenti ustadz Rahman langsung turun dan membuka pintu mobil mengangkat tubuh Azam yg mulai tak sadarkan diri aku memanggil perawat dan membawakan blangkar dengan cepat kami membawanya ke ruang tindakan, langkahku dan ustadz Rahman terhenti di depan pintu kamar operasi aku terduduk di lantai tubuhku bergetar ustadz Rahman membangunkan ku mendudukkan ku di kursi panjang yg ada di depan ruangan itu


" sabar sill..." dia menepuk-nepuk pundak ku padahal sebenarnya ia pun tengah khawatir " kita serahkan semuanya pada Allah...."


.


.


.


.


.


haduh readers sampai sini dulu ya buat episode yg ini aku juga ikut deg degan antara diidupin atau dimatiin.......

__ADS_1


see u next chapter........


__ADS_2