
bismillah...
"Priscil, sebaiknya priscil makan dulu ya,umi yakin priscil belum makan kan??? "
sungguh aku tak nafsu makan ....
"ayo sayang makan dulu nantu sakit ,nanti yang ada Aa bangun priscil yg baring disitu...."
akhirnya aku menurut karena memang perutku juga belum diisi sejak awal kejadian penculikan umi membuka kotak makan berisi makanan yg dibekal dari rumah untukku dan ustadz Rahman
"abang juga makan ...." titah umi
"ahhh umi tau saja kalau Abang belum ma'em...." seru ustadz Rahman
🌷🌷🌷🌷🌷
umi ,abi dan teh Nurul akhirnya pulang karena tidak bisa menunggu selain karena jumlah orang yg dibatasi abi juga tidak bisa membiarkan ponpes kosong walaupun ada beberapa pengajar yg berada disana beserta para asisten yg membantu ,kini tinggal aku dan bang ustadz saja
mataku sudah lelah aku tertidur dikursi samping Azam dengan kepala yg tertunduk di kasur Azam sedangkan ustadz Rahman di sebelahku membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an.....
aku tak tau sudah berapa lama aku tertidur yg jelas rasa pegal pada kaki dan punggung ku memaksaku untuk bangun kulihat ustadz Rahman kini beralih duduk di sofa dan tertidur ,aku melirik jam tangan Azam yg tersimpan rapi,,di nakas pukul 2 pagi....lalu aku meraih pakaian Azam sebelum masuk ke RS yang sudah ditanggalkan berganti baju pasien aku melihat t-shirt hitam yg berlubang pada bagian perut dan banyak noda darah aku melipatnya memasukannya ke dalam sebuah tas kain beserta pakaian dan jaketnya lalu aku meraih ponsel Azam ,aku masih ingat password yg Azam gunakan untuk membuka kuncinya adalah tgl lahirku senyum simpul terukir diwajahku melihat wallpaper ponselnya adalah fotoku saat di khitbah beberapa waktu lalu aku melihat beberapa panggilan terakhir... Salsabila...namun tidak ada menit lamanya mengobrol menandakan salsa tidak menjawab, beberapa pesan yg dikirim Azam pada salsa ,lalu aku kembali tersenyum melihat kontak ternyata namaku di kontak azam sangat menggelikan menurutku " bidadari tengil "
"cihhh apa ga ada nama lain gitu???"
akh pergi ke mushola dan melakukan shalat malam ,lalu tak lama kembali ustadz Rahman pun terbangun untuk melakukan shalat malam
aku meraih Al-Qur'an dan memulai membacanya di samping Azam , berharap Azam akan mendengarnya
sesekali mataku menitikkan air mata " sial kenapa sekarang aku jadi cengeng sih...." aku dengan cepat menyekanya dan melanjutkan membaca saat mulai ayat ke 5 tiba tiba suara parau dan pelan mengagetkanku
"itu idgham bigunnah sayang, jadi suaranya harus mendengung...." ucapnya
aku yang tengah tertunduk fokus pada Al-Qur'an seolah tak percaya mendengar suara itu ,aku terdiam dan kembali menangis sambil tetap menunduk lama kelamaan tangisanku semakin dalam dan sesenggukan
"udah jangan nangis lagi....liat tuh matanya udah bengkak jelek tau...." ucapnya lagi
aku menoleh ke arah suara itu
"hubby "aku memeluk Azam yg masih berbaring lemah ,benarkah ini??? Azam membuka matanya ?? Azam sudah sadar???
"hubby sudah sadar??? Alhamdulillahirobilalamin ya Allah...."
" ini beneran ga sih???"
Azam mencubit hidungku pelan aku mengaduh
" beneran itu khumai dicubit sakit kan??" ucapnya
"ihhh...ko khumai yg dicubit...."
"hubby jahat " aku memukul pelan lengan Azam dia mengaduh
"aww.... hubby jahat apa???" tanyanya
"hubby jahat ,udah bikin khumai nangis bombay , ngapain hubby jadiin badan hubby tameng memangnya hubby punya berapa nyawa heummm???" aku merajuk
Azam tersenyum " hubby cuman punya satu nyawa itu pun sudah di ambil khumai jadi kalo khumai mati hubby pun ikut mati ....." jawaban Azam membuatku tersipu malu
"masih sempet sempetnya gombal ,khumai panggil dulu suster ya by...." aku memencet tombol di dekat ranjang pasien tak lama setelah itu suster pun datang memeriksakan Azam
"Alhamdulillahirobilalamin....A'a sudah sadar..." ustadz Rahman yg baru kembali dari mushola langsung menghampiri dan duduk di pinggir ranjang , suster pun sudah kembali ke tempatnya Azam belum diperbolehkan makan ,,minum pun hanya beberapa sendok makan karena luka operasinya masih basah
"by ini minum dulu ,biar tenggorokannya ngga kering .... bismillah dulu..." ucapku sambil menyendokkan air
"hubby ga mau pake sendok khumai,bisa pake cara lain ga???" tanya nya sambil mengedipkan matanya sebelah
aku yg sudah mengerti tingkat kemesuman suamiku menyipitkan mataku
"bisa pake mulutnya bang ustadz..."jawabku
"astagfirullah....ko pake mulut bang ustadz sayang,,,hubby maunya pake mulut Khumai...." jawabnya dengan terkekeh
"lagian ana masih normal sill ihhh jijay..." ucap ustadz Rahman ngondek
"sudahlah ana mau kembali ke sofa saja tidur.... kalian lanjutkan saja berkangen kangennya anggap saja ana nyamuk...sudah biasa ko...." ucap ustadz Rahman
__ADS_1
" by tidur saja lagi ini masih jam setengah 4 ,khumai juga ngantuk by...." ucapku
"khumai ngantuk ????sini tidur bareng hubby " pinta Azam sambil menepuk-nepuk dan bergeser sedikit
"tidak usah by....nanti jatuh..." jawabku
"tidak khumai ini lumayan cukup besar ko kasurnya...cepat naik atau khumai mau hubby paksa dengan cara hubby...."
"yakin,,,,,hubby aja masih sakit...."
akhirnya aku menurut aku naik dan berbaring di samping Azam dengan membelakanginya dengan hati hati , azam memelukku dengan tangan yg diinfus di atas pinggang ku terasa nafasnya di ceruk leherku
"by maafin khumai yah...khumai sudah keluar tanpa ijin sama hubby ,gara gara khumai hubby jadi kaya gini....khumai nyesel ngga lagi lagi deh by ,janji....." ucapku menyesal
"ini bukan salah khumai , ini sudah menjadi ketentuan Allah SWT sayang , Allah sudah menghendaki ini terjadi....yg penting sekarang hubby sudah tidak apa-apa... masalah khumai yg tidak minta ijin hubby khumai memang salah Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda.
" sesungguhnya apabila seorang istri keluar rumah tanpa ijin suami maka niscaya ia akan mendapatkan laknat Allah SWT sampai sang suami meridhoi nya " ucap Azam sambil berbisik
"ampun by,khumai minta ampun , insyaallah khumai janji tidak akan mengulanginya lagi..." ucapku cepat ,apa sekarang hubby sudah memaafkan khumai hubby sudah meridhoinya???" tanyaku lagi
"emmh tergantung..." jawabnya
"tergantung apa by???"
"khumai mau kasih apa biar hubby meridhoi ???"
"apa ya ,apa saja terserah hubby...." jawabku
"na'am kalau begitu nanti hubby fikirkan dulu ya...kalau hubby ingin seorang baby bagaimana???apa khumai bisa mengabulkannya???" tanyanya sambil mengecup leherku
"mmmmh khumai ngantuk by....khumai mau tidur...." jawabku mengalihkan pembicaraan
"emmmh mau dilaknat Allah ya???" tanya mengancam membuatku bergidik
"tidak by....hubby mah selalu gitu bawa bawa Allah terus ..." kesalku Azam hanya tertawa karena bagaimanapun sekarang kalau berdebat dia pasti akan selalu menang
"jadi gimana???" tanya nya lagi
"iya by , insyaallah khumai siap kalau memang Allah percaya pada kita untuk menitipkan amanahnya sekarang sekarang...." jawabku
" insyaallah sudah...."
"Alhamdulillah..makasih by...."
"kembali kasih sayang....ya sudah tidur ,hubby pun mau tidur supaya bisa cepat cepat pulang dan segera membuat Allah menitipkan amanahnya untuk kita secepatnya...." jawab Azam
ustadz Rahman memang menutup matanya tapi ia masih bisa mendengar pembicaraan kami ,ia hanya tersenyum mendengar sikapku yg seperti anak kecil dan azam yg memanfaatkan sifatku yg polos
"hadeuhh bisa ae mas bro....jadi kepingin segera menghalalkan ustadzah Nabila...." batin ustadz Rahman
"astagfirullah......kenapa ana ini...ahhhh gara gara anak anak bau kencur itu ana jadi terpengaruh...."
keesokannya dokter sudah memeriksa dan memperbolehkan Azam untuk makan dan minum dalam jumlah sedikit,aku sedang menyuapi Azam makan dan memberikannya obat tak lama seorang perawat laki-laki datang untuk mengganti perban Azam setelah selesai diapun meninggalkan ruangan kini Azam berpindah ruangan ke ruang rawat inap
tap....
tap....
tap....
ceklek...
aku yg tengah sarapan bersama ustadz Rahman dan Azam pun dikagetkan dengan kehadiran 2 orang yg kini berada di ambang pintu
"bang Gio.....salsa......."
hatiku bergemuruh panas,jantungku berdegup kencang merasakan sepertinya sebentar lagi lava yg mendidih di dalam diriku akan meledak
aku melangkah mendekati mereka dengan kemarahan dan kebencian terutama pada bang Gio, Azam dan ustadz Rahman yg menyadari hal itu menahanku Azam memegang tanganku tapi ku hempaskan ustadz Rahman meraih kedua bahuku dan menenangkan ku
"sil.... sudah sil... istighfar...." ucapnya yg justru mendapat tatapan tajam dariku
"lepas bang ustadz...." ustadz Rahman malah menjadi bergidik takut
"heh baj*ngan....mau apa kamu kemari....siapa lagi yg mau kamu sakiti ,setelah kamu sakiti ka salsa lalu Azam dan aku ,belum puas kamu..." bentakku
__ADS_1
bang Gio diam ,ia merasa wajar aku bersikap begini atas semua perlakuannya
"kalau kamu bukan ayah dari anak yg sedang dikandung ka salsa ,sudah ku jebloskan kau ke penjara dan ku jamin hidupmu tak akan tenang disana ,kau tak tau kalau gadis yg kau culik dan kau bilang polos di ranjang itu siapa hah????" aku berkacak pinggang dan menengadahkan kepalaku ,melihat ukuran tinggi bang Gio yg diatas ku
sungguh menurut Azam tingkahku sangat menggemaskan dia hanya menahan tawa dan diam takut ikut kena semprot juga ,bisa bisanya Azam berfikir seperti itu
"khumai...sudah mungkin ini karena kesalahpahaman..." sahut Azam
aku menoleh pada azam dan kini aku menatap menusuk pada Azam , Azam langsung tertunduk tak berani
akhirnya tawa ka salsa meledak
"hahahaha sepertinya besok besok aku akan memilih Priscil menjadi pengawal pribadiku ,lihat bahkan 3 orang laki-laki hebat mati kutu saat menghadapi nya tidak ada yg berani ....."
"maafkan aku ,aku memang salah , terutama pada kamu dan Azam....aku terlalu egois dan hanya mendengarkan emosi ku saja.....sekali lagi aku minta maaf zam.....aku menyesal aku akan bertanggungjawab menanggung semua biaya rumah sakit ...."
"tidak apa bang,yg sudah berlalu biarlah berlalu yg penting sekarang abang sudah sadar...."
aku menautkan kedua alisku kenapa Azam gampang sekali memaafkan orang yg jelas jelas hampir saja membunuhnya
Azam yg mengerti keherananku
" sudah lah khumai sesama umat muslim kita tidak boleh saling membenci,justru kita harus saling memaafkan dan saling mengingatkan..."
"apapun akan aku lakukan untuk menebus kesalahanku zam???"ucap bang Gio
"kala begitu bertaubatlah bang.... tinggalkan dunia itu berjalan lah di jalan yg Allah ridhai...." jawab Azam
jujur aku masih muak dengan bang Gio tapi perkataan suamiku memang benar....
bang Gio lama terdiam meresapi setiap ucapan Azam
suasana kembali mencair setelah azam mengajak mereka untuk sarapan bersama di ruangan ini karena ini kelas VVIP jadi ruangan nya besar
kami akhirnya berbaur saat kami sedang asyik asyiknya mengobrol ponselku berdering
"hallo assalamualaikum...."
"wa'alaikumsalam ..." seperti biasa nene sihir melakukan video call siapa lagi kalau bukan ka tyas
"deekkk.....loe lagi apa kapan loe kesini bareng azam sekarang kan sudah masuk waktu liburan
???cie elah udah berjilbab aja loe dek,???goda ka tyas
"sepertinya liburan kali ini Priscil belum bisa pulang, insyaallah nanti dilihat dulu situasi dan kondisinya ya..." jawabku
"loe lagi dimana dek???"
"lagi di RS ka "
"siapa yg sakit ??"
"Azam ka ..."aku mengarahkan kameranya pada Azam,azam pun menyapa
"assalamualaikum ka tyas
"wa'alaikumsalam,zam loe kenapa???sakit apa ?? loe ga dicakar cakar singa betina kan zam ???" Azam tau maksud ka tyas itu mengarah padaku
"bukan ka , Azam hanya mengalami musibah aja sedikit,tapi sudah baik baik saja ko...."
."hey zam , assalamualaikum...loe kenapa???"
"eh bang jaya wa'alaikumsalam,ini bang kena musibah aja sedikit....tapi sudah baikan ko..."
"kita jenguk kesana ya???"
"ga usah bang nanti ngerepotin lagian ini juga sudah membaik tinggal tunggu buat pulang saja..."
"ga usah kesini lah ,ntar yg ada laki gue tambah sakit lagi kalian tuh berisik..."sahutku
"eh mana mana zam cewek tengil biar gue kasih pelajaran udah bagus waktu itu otak loe ga gue ganti pake otak udang dek."ucap bang jaya
"enak aja ...loe kalo ngomong seenak udel loe bang,,,,dasar dokter ges*ek....."jawabku
Azam memberikan ponselnya lagi padaku
__ADS_1
ka salsa dan bang gio yg melihat hanya menahan tawa ,sungguh priscil itu memang gadis yg unik ditambah dengan semua yg berhubungan dengannya membuat siapa saja yg mengenalnya akan merasa nyaman dan senang bila di dekatnya