
Hari masih siang ketika Long Guan meninggalkan kediaman Keluarga Wang Yushan. Langkah kakinya menuju keramaian, dan tidak lama kemudian Ia melihat penginapan yang letaknya sangat strategis di tengah kota. Long Guan pun bertanya kepada petugas penerima tamu apakah masih ada kamar kosong. Petugas tersebut menjawab dengan ramah bahwa masih ada satu kamar yang tersedia, hanya saja harganya berbeda dari hari biasanya yaitu dua keping emas termasuk sarapan pagi.
Setelah membayar dan melakukan pendataan tamu, Long Guan menuju ke kamar yang baru saja dipesannya di lantai dua. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang dan beristirahat sejenak sambil memikirkan beberapa hal yang baru saja terjadi siang tadi. Long Guan merasa sedikit lebih nyaman menggunakan energi fisiknya dalam bertempur, dan kini Ia mencoba mencari sebuah teknik untuk menyembunyikan ingatannya.
Long Guan melihat Cincin penyimpanan pemberian leluhurnya yang berada di jari manisnya dan mencoba menggelengkan kepala. Cincin pemberian Leluhurnya masih merupakan benda yang sangat langka di alam spiritual. Ia masih bertanya-tanya tentang identitas leluhurnya tersebut, meskipun beberapa waktu yang lalu Penatua Agung Ang Bei pernah membahasnya.
Di dalam ruang Cincin penyimpanannya terdapat sebuah gulungan kecil yang cukup tipis, tidak seperti gulungan yang biasa Long Guan baca. “Teknik Nadi Naga!" tertulis di dalamnya. Ia membuka gulungan tersebut dan membacanya dengan seksama. Setelah beberapa kali mengulang dan menerapkan teknik tersebut, Long Guan berhasil menyamarkan tingkat kultivasinya dengan napas yang stabil.
Tak terasa hari mulai sore, dan Long Guan menuju restoran yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari penginapan. Ia meminta petugas untuk memberikan peta Kota Dengfeng, yang diberikan dengan ramah oleh petugas tersebut. Setelah makan malam di restoran, Long Guan melihat ada empat orang di sudut ruangan yang duduk tidak jauh dari tempatnya berada.
Mereka ternyata adalah murid Sekte Pedang Bintang, dan Long Guan sudah mengetahui identitas mereka. Dalam situasi yang gaduh di restoran, salah satu pemuda dari Sekte Pedang Bintang tampil sebagai pahlawan dengan menghentikan kekerasan yang terjadi. Long Guan hanya mengangguk ringan atas sikap spontanitas pemuda tersebut, dan kemudian melanjutkan makannya dengan lahap.
"Jangan campuri urusan anak muda. Ini urusanku," kata lelaki tersebut.
__ADS_1
"Kamu hanya berani dengan orang yang lemah. Hadapi aku jika berani," ucap murid Sekte Pedang Bintang sembari menunjukkan token muridnya.
"Apakah kamu berasal dari Sekte Pedang Bintang?" tanya lelaki itu dengan nada yang mulai merendah.
"Tentu saja, aku dan teman-temanku berasal dari Sekte Pedang Bintang," ucapnya dengan bangga sambil menunjuk ke arah tiga orang temannya yang sedang makan.
Mendengar nama Sekte Pedang Bintang membuat lelaki tersebut gemetar. Berita baru saja menyebar tentang pembantaian Keluarga Wang yang terkait dengan murid Sekte tersebut.
"Maafkan aku, tuan pendekar, ini hanya salah paham," ucap lelaki tersebut dengan hati-hati.
"Baik, tuan pendekar," ucap lelaki tersebut tanpa membantah.
Lalu, lelaki tersebut meminta maaf kepada pelayan kedai makan dan memberikan kompensasi ganti rugi.
__ADS_1
Sebagai kultivator bebas, ia tidak berani menyinggung Sekte Pedang Bintang. Musnahnya keluarga Wang sudah menjadi bukti keganasan Sekte Pedang Bintang. Kemudian, lelaki tersebut pergi meninggalkan kedai makan.
"Terima kasih, tuan pendekar," ucap pelayan wanita tersebut dengan tulus.
"Ini bukan apa-apa. Kami dari Sekte Pedang Bintang akan melindungi orang-orang yang lemah," ucapnya dengan nada agak keras.
Para pengunjung lainnya bertepuk tangan. Mereka senang dengan kehadiran murid dari Sekte Pedang Bintang tersebut.
Murid tersebut kembali ke tempat duduknya, bergabung dengan kawannya untuk melanjutkan makan.
"Kamu memang luar biasa, Ming Hao," ucap seorang murid wanita memuji.
"Hahaha, ini hanya masalah kecil. Jadi, lelaki itu harus berani dan tangguh. Jangan cuma bisa makan saja," ucap Ming Hao sambil menoleh dan melirik Long Guan.
__ADS_1
"Hahaha," suara tawa teman-temannya menghiasi kedai makan. Mereka tentu saja paham akan maksud Ming Hao yang berniat menyindir seorang pemuda.