Pewaris Mustika Naga

Pewaris Mustika Naga
Wanita Yang Salah Paham


__ADS_3

Wanita muda tersebut merasa pasrah, ia tidak dapat berbuat banyak. Dengan kekuatannya yang berada pada semesta Kedua, sangat mustahil dirinya mampu melawan lima orang pendekar ahli tingkat Semesta Keempat. Long Guan yang sudah memperhatikan masalah ini, segera bertindak menghampiri pihak yang bertikai.


Hentikan!


teriaknya dari kegelapan malam. Ia melangkah pelan dengan ekspresi yang tenang.


"Siapa kamu?" ucap salah seorang dari mereka.


"Tunggu, bukankah kamu tamu yang sedang menginap di penginapan? sela pria lainnya.


"Hahaha... Kebetulan sekali kamu muncul. Tidak perlu menunggu besok untuk memangsamu" lanjutnya lagi.


Long Guan hanya tersenyum ringan mendengar ucapan lelaki tersebut.


Habisi dia! teriak lelaki lainnya tanpa peduli siapa Long Guan.


Wanita yang tadinya putus asa, kini reaksinya menjadi terkejut namun tidak memiliki waktu untuk menanggapi.


Lima pendekar dengan peringkat Semesta Keempat mengelilingi Long Guan dengan aura membunuh yang ganas.


Long Guan dengan tenang memandang mereka, salah satu tangannya meraih Pedang Jiwa. Pedang tersebut terlepas dari sarungnya dan dalam sekejap langsung berada di genggaman Long Guan. Ia melangkah maju ke depan, melesatkan sabetan pedang ke salah satu pendekar.


Seorang dari mereka mencoba menghindar dari sabetan pedang Long Guan, ia merunduk dan bergerak ke samping. Namun yang ia tidak sangka adalah tebasan pedang tersebut sudah kembali menyerangnya dengan kecepatan yang luar biasa.


Jleb!


Pedang Jiwa langsung menebas tubuh pendekar tersebut, seketika tubuh pendekar tersebut terbelah menjadi dua.


Tanpa melihat kepanikan di wajah lawannya, Long Guan kembali bergerak ke arah lawannya. Gerakan Long Guan terlihat aneh, mereka hanya melihat Long Guan seolah meninggalkan bayangannya, namun tebasan pedangnya sudah menghantam pendekar kedua.


Jleb!


Satu lagi seorang pendekar Semesta Keempat tewas, tubuhnya terbelah dua seperti temannya yang sudah merasakan duluan. Suhu malam semakin dingin, mencekam saat memperlihatkan senyum Long Guan. Ia masih tenang dengan tatapan dinginnya.


"Nona, apakah kamu tidak apa-apa?" tanya Long Guan saat jaraknya sudah berada di depan wanita itu.


"Aku sudah tidak apa-apa" jawab wanita tersebut sambil mengangguk.


Pada saat ini tiga pendekar yang tersisa menjadi tercengang, mereka saling pandang kemudian maju bersamaan untuk menyerang Long Guan.

__ADS_1


Long Guan hanya tersenyum datar, pegangan tangannya masih menggenggam Pedang Jiwa dengan erat, lalu ia berkata,


"Ini adalah pertama kalinya aku menggunakan Pedang Jiwa, seharusnya kalian termasuk orang-orang yang merasa terhormat"


Setelah berkata demikian Long Guan maju selangkah, kekuatan Semesta Kedelapan ia keluarkan, auranya dalam sekejap meningkat tajam, membuat lawan-lawannya berubah menjadi ketakutan.


"Si..Siapa kamu sebenarnya?"


Long Guan hanya menatapnya dingin, tak ada maksud menjawab pertanyaan bodoh dari lelaki tersebut. Dalam sekejap Long Guan sudah berada di hadapan lawannya, Pedang Jiwa kembali beraksi tanpa memandang kasihan.


"Sssttt" suara tebasan singkat Pedang Jiwa.


"Aaarrggh"


Teriakan panjang melengking ditandakan sebuah kepala putus, tubuhnya tersungkur ke tanah. Pria tersebut tewas dengan mengerikan, teriakan menyakitkan mengakhiri hidupnya di kegelapan malam.


"Pedang yang sangat tajam" gumam Long Guan dalam hati.


Dua orang pendekar yang tersisa berubah menjadi panik, tiga kawannya tewas begitu saja tanpa perlawanannya. Tatapan mereka berubah menjadi kengerian yang mencekam, berpikir untuk menyelamatkan diri.


"Kalian terlalu lemah, tidak pantas untuk membuatku menarik Pedang Jiwa" ucap Long Guan sambil menyarungkan kembali Pedang Jiwa.


"Bugh! Long Guan menghempaskan tinju pertama.


"Bugh! lalu tinju yang kedua.


Setelah mendapatkan masing-masing satu tinjuan Long Guan, kedua tubuh penjahat tersebut tersungkur ke tanah, dari mulut mereka menyembur seteguk darah kental.


"Ka.. Kamu" ucap salah satunya menutup suaranya sebelum ia tewas.


Sementara satu pendekar lainnya sudah terkapar meregang nyawa tanpa bisa berkata.


Memang jarak kekuatan Semesta Keempat dengan Semesta Kedelapan sangat jauh bedanya, hanya dengan kekuatan fisik saja keduanya langsung tewas seketika.


Tidak jauh dari posisi Long Guan, wanita yang ditolongnya melihat kejadian tersebut dengan tatapan tidak percaya. Seorang pemuda mampu menghabisi lima orang pendekar ahli dalam sekali serang. Ia tidak bisa berpikir bahwa penyelamatnya tersebut memiliki ketrampilan bela diri yang mengerikan, apalagi dengan pedangnya yang sangat menakutkan.


Jika dilihat sekilas, usianya dengan pemuda yang menolongnya hampir sama dan tidak terpaut jauh, tetapi ia memiliki kekuatan yang tidak bisa ia sentuh.


"Nona, segeralah pergi dan tinggalkan tempat ini" ucap Long Guan.

__ADS_1


Mendengar kata-kata dari pemuda yang menolongnya membuat ia tersadar dari lamunannya. Tatapan kaget di matanya mulai memudar, ada kebingungan yang ia rasakan.


"Kalo boleh aku tahu, siapakah nama tuan pendekar yang sudah menyelamatkanku?"


"Tentang namaku, kau boleh memanggilku Long Guan" ucap Long Guan santai.


"Terimakasih tuan, aku dalam keadaan sendiri. Di tengah malam seperti ini bagaimana aku bisa pulang?"


Memikirkan hal ini Long Guan sedikit menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Baiklah, di dekat sini ada penginapan dan kebetulan aku bermalam di sana" ucap Long Guan memberikan solusi.


"Maaf tuan, aku tidak bisa bermalam denganmu" ucap wanita tersebut yang sedikit salah paham.


"Meskipun kamu telah menolongku, seharusnya tuan pendekar mengetahui identitas keluargaku di Ibukota" lanjut wanita itu lagi.


Mendengar perkataan wanita tersebut, Long Guan mengernyitkan dahi.


"Apakah kamu salah makan Nona?" tanya Long Guan tidak percaya.


Ia tidak menduga wanita yang sudah ia tolong memiliki pemikiran yang buruk. Merasa malas meladeni wanita tersebut, Long Guan melompat dan menghilang di kegelapan malam. Ia terlalu malas untuk berbicara dengan wanita seperti itu.


Sebagai seorang pendekar ia sudah menjalankan kewajibannya untuk menolong orang yang lemah. Setelah apa yang ia lakukan sedikitpun ia tidak pernah memikirkan balasannya, Long Guan berkeyakinan hukum alam itu belaku adil. Setiap perbuatan baik pasti akan ada balasannya, demikian pula perbuatan buruk. Jadi ia akan menyingkirkan hal-hal yang tidak ada hubungan dengan dirinya.


Melihat long Guan yang pergi tanpa pamit, wanita tersebut berkata, "Dasar lelaki kejam"


Ia tidak mengira jika Long Guan akan meninggalkannya seorang diri di tempat yang sangat sepi ini, bahkan pemandangan mayat yang terbunuh secara brutal tidak mungkin bisa ia hadapi.


Mengingat Long Guan membunuh para penjahat benar-benar membuat kesadarannya hampir runtuh, bahkan sebagai seorang wanita ia tidak bisa menahan rasa takut yang berkepanjangan. Dengan perasaan yang rumit ia mencoba berjalan seorang diri membelah kegelapan malam menuju ke tempat penginapan yang dimaksud Long Guan sebelumnya.


Setelah dengan usaha yang keras akhirnya ia tiba di sebuah penginapan. Seorang pelayan yang melihatnya lalu berkata, "Nona, ada yang bisa saya bantu?"


Wanita tersebut mendengar ucapan pelayan yang berada di depannya,


"Berikan aku kamar yang terbaik" ucap wanita tersebut sambil mengeluarkan beberapa koin emas.


Melihat pemandangan ini, sang pelayan dengan sigap berkata, "Baik, Baik nona aku akan menyiapkannya"


Tak beberapa lama pelayan mengantarkan wanita tersebut menuju kamar yang dipesannya.

__ADS_1


__ADS_2