Pewaris Mustika Naga

Pewaris Mustika Naga
Tiba Di Kota Pelangi


__ADS_3

Setelah Long Guan dan Jian Ling selesai berbincang-bincang kemudian mereka segera memasuki kamar pribadi untuk menyelesaikan urusan aspirasi bawah yang telah lama tertahan.


Ada jejak kerinduan di dalam diri mereka setelah tidak saling berbagi selama dua bulan ini, dengan hati-hati mereka menuntaskan aspirasi bawah tersebut hingga sore hari.


Setelah selesai mereka segera membersihkan diri dan menyiapkan sesuatu yang perlu dibawa oleh Long Guan dalam menjalankan misi.


Seperti biasanya, Jian Ling selalu menyiapkan Pil Penyembuhan dan Pil Penambah Energi untuk menunjang kebutuhan suaminya.


Pada saat menjelang malam hari, sejumlah lima ratus murid dan para Tetua sudah berkumpul di alun-alun bela diri sekte.


Dengan peralatan yang sudah lengkap mereka berbaris rapi, menunggu arahan lebih lanjut. Long Guan muncul di dampingi oleh Jian Ling dengan berjalan cukup tenang dan berwibawa.


Long Guan menerima catatan kekuatan pasukan yang diberikan oleh Tetua Jian, dimana dalam lima ratus orang terdiri atas dua ratus orang pemanah, dua ratus orang ahli berpedang serta seratus orang dengan kemampuan bela diri tangan kosong.


Setelah membaca informasi kekuatan pasukan murid-muridnya, Long Guan memberikan pidato singkatnya.


"Terimakasih aku ucapkan atas ketersediaan kalian mengikuti misi Sekte. Kalian tidak usah khawatir, setiap yang ikut sudah dipastikan mendapatkan poin kontribusi serta penghargaan lainnya yang nanti akan disampaikan.


Sekte tidak akan menahan diri untuk memberikan sumberdaya terbaik untuk kalian yang saat ini menjalankan misi. Jika misi ini berhasil kalian akan mendapatkan bonus yang luar biasa.


Jika kalian gagal dalam misi maka Sekte akan bertanggungjawab kepada keluarga kalian, memberikan kehidupan yang layak serta menjamin penerus buat kalian"


Seketika lapangan bela diri penuh riuh dengan suara teriakan semangat, mereka tidak menyangka sekte akan memperlakukan mereka dengan begitu tinggi, bahkan jika mereka tewas pun tidak akan menyesal, karena keluarga mereka akan merasakan penghargaan dari sekte hasil jerih payah mereka.


Kemudian Long Guan melanjutkan pidatonya.


"Kalian jangan pernah lengah, selalu bersama dengan kelompok jangan ada yang meninggalkan teman atau sahabat. Kalian seperti anggota tubuh yang terhubung dan saling menjaga. Di dalam misi di Kota Pelangi kalian wajib mematuhi perintah dari Tetua Jian sebagai penanggung jawab"


"Mari kita segera berangkat" ucap Long Guan mengakhiri pidato singkatnya.


Long Guan tidak banyak bicara karena Long Guan yakin para murid sudah mendapatkan pembekalan dari para Tetua masing-masing.


Tetua Xie Rong segera menghampiri Long Guan yang kebetulan sedang berbicara dengan Tetua Jian.

__ADS_1


"Salam hormat Ketua Sekte" sapa Tetua Xie Rong yang tak lupa menganggukkan kepala tanda salam kepada Tetua Jian.


Lalu Tetua Xie menyerahkan dua buah peta wilayah kerajaan Wei kepada Ketua Sekte dan Tetua Jian, di dalam peta tersebut lengkap menggambarkan lokasi Desa, Kota, serta wilayah pegunungan.


"Terimakasih Tetua Xie" ucap Long Guan dengan tulus.


"Sama-sama Ketua, itu sudah bagian dari tugasku untuk menyiapkan hal-hal sederhana seperti ini" jawab Tetua Xie dengan sopan.


"Tetua Jian silahkan Tetua berangkat duluan untuk memimpin para murid, lusa kita akan bertemu di gerbang masuk Kota Pelangi" ucap Long Guan agar rombongan segera berangkat.


"Baik Ketua, saya akan segera berangkat menuju Kota Pelangi menggunakan perahu yang telah disediakan" jawab Tetua Jian sekaligus mohon pamit undur diri.


"Ketua, tentang Xie Annchi yang kabarnya hendak ikut menemani misi apakah sekiranya tidak mengganggu Ketua?" tanya Tetua Xie Rong tampak tak enak hati.


Tetua Xie Rong sangat memahami keinginan keponakannya untuk melihat kampung halamannya namun di sisi lain ini tentunya akan merepotkan Ketua Sekte.


"Tidak masalah, istriku sudah menjelaskan tentang peran Nona Xie sebelumnya" jawab Long Guan singkat.


"Baiklah, Terimakasih" jawab Long Guan dengan ramah.


"Gege!"


Terdengar suara Jian Ling memanggil suaminya dari samping, gayanya yang manja datang sambil merangkul lengan Xie Annchi.


"Gege, jaga Annchi selama misi ya, jangan sampai terjadi sesuatu padanya, awas saja jika gege mengabaikannya maka aku akan sangat marah" ujar Jian Ling sambil menggembungkan kedua pipinya.


"Iya tentu saja istriku" jawab Long Guan tampak tak berdaya menghadapi dua kecantikan di hadapannya.


Sementara Tetua Xie Rong hanya tersenyum memandang Ketua Sektenya tidak berdaya di depan nyonya Ketua.


"Meskipun Long Guan adalah seorang pendekar sejati, tetapi di depan istrinya ia adalah lelaki biasa yang tidak sombong dan penuh kasih sayang" gumam tetua Xie Rong dalam hatinya.


Sementara wajah Xie Annchi tampak memerah, ia tidak menyangka Jian Ling akan berterus terang seperti itu di depan Ketua Sekte dan pamannya.

__ADS_1


"Baiklah jika demikian, aku dan Nona Xie akan berangkat saat ini juga" ucap Long Guan sambil memeluk istrinya sambil berpamitan.


Sejenak ia memanggil Xie Annchi untuk mengkonfirmasi tentang beberapa titik lokasi di peta, kemudian Xie Annchi menunjukkan titik tempat kediaman keluarga Xie dulu tinggal.


Long Guan memejamkan mata dan mencoba menerawang menghubungkan garis peta dengan jarak sesungguhnya yang akan ia tempuh.


Jian Ling tampak bingung dengan sikap suaminya, namun ia diam tak bertanya.


Setelah Long Guan memahami semuanya, ia membuka matanya dan mengangkat tangan kanannya dan melalui jarinya ia menembakkan seberkas cahaya berwarna ungu ke arah titik hampa di depannya.


Tiba-tiba pusaran energi yang merupakan gerbang teleportasi berukuran tubuh orang dewasa muncul, beberapa orang yang menyaksikannya tampak terkejut, hanya Tetua Xie Rong yang tampak tenang karena ia sudah melihatnya saat pertama kali Ketua Sekte muncul hari ini.


Sambil mengucapkan kata pamit, Long Guan menggandeng tangan Xie Annchi dengan cukup erat, lalu bayangan keduanya hilang ditelan pusaran gelombang tersebut.


Jian Ling sendiri hanya bisa menelan ludah beberapa kali menyaksikan kemampuan suaminya yang sudah di luar nalar.


"Ayahmu memang luar biasa nak" ucap Jian Ling sambil mengusap perut nya yang tengah hamil.


Ada sinar bahagia terpancar di wajahnya, ia sungguh merasa paling bahagia bisa mendampingi dan mengandung putra seorang pahlawan.


Di dalam portal teleportasi, jantung Xie Annchi berdetak tak beraturan. Ini adalah pertama kalinya ia disentuh oleh seorang laki-laki, apalagi laki-laki tersebut adalah sosok yang tidak bisa ia bayangkan. Hanya dalam tiga tarikan napas mereka tiba di Kota Pelangi tempat dimana Xie Annchi dilahirkan dan dibesarkan.


Xie Annchi hanya bisa terkagum-kagum dengan kemampuan Ketua Sekte saat ia menyadari sudah berada di tempat yang tidak asing baginya, yaitu manor kediaman keluarga Xie.


Meskipun hari sudah malam, namun pandangan Xie Annchi masih sangat jelas menatap manor tersebut yang kini tak terawat. Isak tangis Xie Annchi pecah tak tertahankan, mengingat segala kenangan yang pernah terjadi di sini, langkahnya terasa sangat berat saat ia mulai memasuki gerbang manor kediaman keluarga Xie.


Long Guan menatap Xie Annchi dan mencoba memahami tentang peristiwa yang pernah di alaminya. Namun hal ini juga mengkonfirmasi bahwa teknik teleportasi yang mengandalkan peta bisa berhasil sempurna.


Long Guan sedikit menarik napas lega, namun ia masih menyaksikan isak tangis Xie Annchi di depannya. Ia melangkah dan menghampiri Xie Annchi dan menyentuh pundaknya untuk mencoba menenangkan perasaan Xie Annchi.


Kejadian tidak disangka Xie Annchi secara spontan malah membalikkan tubuhnya dan memeluk Long Guan dengan erat.


Tubuhnya bergetar menahan kesedihan yang sudah lama tidak tertumpah, ia berusaha kuat untuk melupakan tragedi yang menimpa keluarganya namun ia masih rapuh saat kenyataan berada di hadapannya.

__ADS_1


__ADS_2