
Sinar keunguan seolah berderak cukup kuat, menampilkan sosok pemuda yang gagah berani dengan pedang di punggungnya.
Pedang dengan sarung berwarna biru tersebut terlihat sangat pas dengan tampilan pakaian yang digunakan Long Guan.
Senyum khas dengan gigi putihnya tidak akan ada yang menyangka bahwa sosok pemuda rupawan tersebut adalah sosok pemimpin Sekte Pedang Angin.
Para tetua yang semula tampak sangat waspada kini berubah menjadi bahagia. Ketua Sekte yang mereka kagumi selalu saja memberikan mereka kejutan yang berada di luar imajinasinya.
"Hormat kepada Ketua Sekte Pedang Angin" ucap para Tetua dengan kompak.
"Terimakasih para Tetua, dan mohon maaf kepergianku terlalu lama" ucap Long Guan seraya meminta maaf.
"Aku mendengar ada kekacauan yang diakibatkan oleh pasukan iblis, dapatkah kalian menjelaskannya secara detail?" pinta Long Guan sambil menuju kursi Ketua.
Para Tetua sambil berpandangan, mereka tidak menyangka bahwa masalah ini sudah sampai ke telinga Ketua Sekte mereka, bahkan tanpa banyak basa-basi Ketua Sekte langsung menanyakan hal tersebut.
Tetua Jian yang paling senior segera maju dan menjelaskan seluruh kejadian selama dua bulan ini, termasuk isi surat yang disampaikan oleh Kaisar Qin Huang.
Mendengar penjelasan tetua Jian, membuat aura kekesalan Long Guan muncul dengan sangat kuat, aura membunuhnya merembes tak tertahankan.
Para Tetua merasa sangat terkejut merasakan aura tersebut, mereka yang sudah berada pada ranah Kelahiran Kembali Tahap Akhir hampir tidak bisa menahannya, padahal mereka tahu itu hanya rembesan aura saja. Jika dilepaskan, mungkin mereka bisa terbunuh.
"Entah sudah sampai tahap apa kekuatan Ketua Sekte" batin beberapa orang tetua dalam hatinya.
Hanya dalam waktu dua bulan saja kekuatannya sudah bertambah dua kali lipat, tampak wajah kekaguman dari tetua Jian sekaligus ayah mertua dari Long Guan.
"Tetua Jian, sudah berapa jumlah murid yang siap untuk di terjunkan ke dalam misi dari Divisi yang masing-masing Tetua pimpin?" tanya Long Guan.
"Dari divisi yang saya pimpin ada sekitar tiga ratus orang yang sudah berada ranah Inti Qi awal, serta dua ratus orang dengan tingkatan yang sama pada empat divisi yang lain. Jika ditotal ada seribu seratus murid yang siap." jelas Tetua Jian.
Long Guan tampak merenung sejenak, jumlah ini tentu masih belum ideal menurut perhitungannya, namun ia tetap harus bisa berpikir taktis di saat darurat seperti ini.
__ADS_1
"Baiklah, dari tiap-tiap Divisi akan mengirimkan seratus orang, sisanya akan tetap bertahan di masing-masing Divisi. Dalam misi kali ini, Tetua Jian akan bertanggungjawab penuh memimpin.
Kemudian untuk segala akomodasi perlengkapan akan disiapkan para Tetua, malam ini semua berangkat agar besok pagi kita sudah tiba di sana" ucap Long Guan memberi arahan.
Hari masih siang saat mereka selesai mendiskusikan rencana keberangkatan nanti malam, para tetua segera bergegas menyiapkan hal-hal yang berhubungan dengan tugasnya.
Untungnya kelima Divisi dibentuk sejak awal sudah memiliki sinergitas yang tinggi, jadi meskipun dalam situasi darurat mereka sudah tidak perlu khawatir tentang siapa yang akan melakukan apa. Hanya tinggal menentukan penanggung jawab lapangan saja untuk bergerak.
Long Guan berjalan menuju kediaman pribadinya, ingin segera menemui istrinya serta calon buah hatinya.
Sebenarnya Jian Ling sudah mendengar kabar kepulangan Long Guan, namun karena kesibukannya sebagai ketua sekte yang sedang menyelesaikan masalah, dirinya tidak mengganggunya namun memilih menunggu di kediaman.
Sementara situasi di masing-masing Divisi kini tengah sibuk menyiapkan keberangkatan para murid.
Tak begitu lama, Long Guan tiba di depan rumahnya, tampak wajah cantik wanita yang selama ini ia rindukan muncul di hadapannya.
Long Guan segera memeluk serta mencium istrinya dengan mesra, ada sejuta kerinduan yang lama terpendam di lubuk hatinya.
"Owh.. maafkan ayah nak" ucap Long Guan lalu merendahkan tubuhnya untuk mencium perut istrinya.
Suasana kerinduan kini terobati saat mereka bertemu, kemudian mereka menuju ruang makan untuk menyantap hidangan makan siang yang memang sudah disiapkan oleh Jian Ling bersama Xie Annchi.
Dalam beberapa waktu terakhir ketika Long Guan tidak berada di rumah, Xie Annchi selalu menemaninya.
Long Guan hanya mengerutkan dahi ketika Jian Ling beberapa kali menyebut nama Xie Annchi.
"Apakah gege tidak suka dengan kedekatan ku dengan Annchi?" tanya Jian Ling polos.
"Bukan, bukan begitu. Aku hanya heran saja bukankah dulu Ling'er sedikit cemburu dengan nona Xie?" ujar Long Guan balik bertanya kepada istrinya.
"Sebelumnya memang betul aku memiliki rasa cemburu, aku takut Gege akan berpaling dariku setelah melihat pesona Annchi. Namun setelah aku menyadari dengan potensi Gege yang luar biasa, aku tentu tidak boleh egois mengekang Gege. Dan juga setelah aku sering bersama Annchi, dia wanita yang sangat baik dan berbakat. Terlepas dari kisah menyedihkan yang dialaminya, ia tetaplah seorang wanita yang butuh dihibur dan bahagia" ungkap Jian Ling dengan tulus.
__ADS_1
Mendengar ucapan istrinya, Long Guan hanya tersenyum kecut. Ia tidak menyangka istrinya memiliki pemikiran terbuka seperti itu. Mereka lalu bercerita tentang hal-hal yang terjadi selama dua bulan tidak bertemu.
"Malam ini aku dan ayah akan berangkat ke Kota Pelangi menyelesaikan misi. Ayah akan memimpin lima ratus murid terbaik, sementara aku akan menyusup sendiri kesana untuk meminimalisir resiko" ungkap Long Guan diantara percakapan mereka.
"Ya, ini adalah masalah yang sangat serius, ayah sudah menceritakan tentang keadaan di Kota Pelangi yang kacau balau, bahkan ayah sempat bertanya tentang Pil iblis yang bisa mempengaruhi jiwa seseorang untuk mengikuti kehendak tuannya. Namun aku tak pernah mendengar jika ada Pil yang memiliki kekuatan seperti itu." ujar Jian Ling dengan pasrah.
Long Guan sedikit paham dengan apa yang disampaikan oleh istrinya serta para tetua saat di ruang pertemuan tadi.
Ia baru memikirkan lebih lanjut saat berada di Kota Pelangi sambil melihat dampaknya langsung.
"Gege, sebaiknya gege ajak Annchi untuk menemani perjalanan ke Kota Pelangi. Biarkan ia menjadi petunjuk jalanmu, walau bagaimana pun ia lahir dan besar di sana. Hal ini juga untuk mendukung misi agar bisa berjalan dengan baik" ucap Jian Ling memberikan saran.
"Hmmph.. Ini.."
Belum sempat Long Guan menyelesaikan ucapannya, Jian Ling segera memeluknya.
"Terimakasih Gege atas pengertian mu, Annchi pasti bahagia bisa melihat kampung halaman nya kembali"
Ucapan Jian Ling hanya membuat Long Guan menarik napas panjang.
Di sisi lain apa yang diucapkan istrinya tidak salah, ia baru pertama kali keluar dan tentu membutuhkan seseorang yang bisa membantunya dalam menentukan arah dan tujuan agar misi dapat berjalan secara efektif dan efisien.
"Apakah kamu tidak takut terjadi apa-apa antara aku dan Nona Xie?" goda Long Guan sambil menyesap secangkir teh yang telah dihidangkan.
"Jika dengan wanita lain tentu aku akan marah, tapi jika itu dengan Annchi aku tidak keberatan" jawab Jian Ling sambil mengerucutkan bibirnya yang tipis.
"Puufftt"
Mendengar ucapan istrinya, Long Guan dengan spontan menyemburkan teh yang di mulutnya.
Sebaliknya, melihat reaksi suaminya, Jian Ling malah tersenyum lebar, seperti orang yang tak bersalah.
__ADS_1