
Di dalam kamar penginapan, Long Guan dapat merasakan kedatangan wanita yang ia tolong tadi. Di hati kecilnya ia tetap bersyukur jika wanita itu dalam keadaan baik-baik saja.
Namun Long Guan juga tak ingin memikirkan wanita tersebut, meski ia sedikit kesal atas sikapnya tadi. Long Guan dengan tulus menolong wanita tersebut, namun ia justru dituduh memanfaatkan keadaan, sungguh keterlaluan!
Bahkan jika Long Guan ingin melakukan perbuatan demikian, ia tentu tidak akan menggunakan cara yang licik. Baginya ia hanya ingin menjaga kesetiaan sebisa yang ia mampu, semua godaan akan ia halau sebisa mungkin.
Malam berlalu dengan tenang, Long Guan beristirahat sambil berkultivasi hingga pagi datang, pikirannya jernih kembali dan ia bersiap untuk sarapan. Long Guan melangkahkan kakinya turun menuju kedai makan, ia memesan beberapa menu khas penginapan di sini. Ada lima menu yang cukup menarik, tanpa ragu Long Guan memesannya.
Beberapa bulan tinggal di Gua membuat nafsu makannya meningkat, selama ini ia hanya mengkonsumsi ramuan dan Pil yang ia simpan di dalam Cincin penyimpanannya. Seorang pelayan yang menyiapkan makanan Long Guan sedikit terpana dengan nafsu makannya.
Long Guan tidak menahan diri, meskipun bagi seorang kultivator makan seperti ini tidak berpengaruh tetapi ia menikmatinya sebagai proses atau bagian menikmati hidup.
Setelah selesai melakukan sarapan pagi, Long Guan bertemu kembali dengan wanita yang semalam ia tolong. Long Guan mengabaikannya, ia tetap melanjutkan makannya.
"Dasar lelaki kejam!" ucap wanita tersebut kepada Long Guan.
Long Guan tidak menduga jika wanita yang kini berada di sampingnya begitu nekat.
"Aku hanya menolongmu secara naluri sebagai kultivator, tetapi setelah menyelamatkanmu, kamu seperti penggigit tangan yang telah memberimu makan. Aku bukanlah keluargamu, bahkan aku tidak mengenalmu dan aku tidak terbiasa dengan sikapmu yang aneh tersebut" ucap Long Guan dengan lugas.
Wanita tersebut tercengang, baru kali ini ada seorang pria yang berucap demikian padanya. Setelah meninggalkannya seorang diri kini lelaki tersebut malah mengatakan sesuatu yang menyebalkan.
"Huh" apa kamu tidak bisa bersikap lebih sopan kepada seorang wanita? ucapnya sambil membuang muka.
"Panggil aku Hung Yin. Aku berasal dari keluarga Hung di Ibukota" lanjutnya sambil duduk di depan Long Guan.
Long Guan sejenak terdiam, ia terpaku mendengar perkataan wanita bermarga Hung tersebut.
"Apa kau tahu sekarang tentang keluargaku?" ucap Hung Yin dengan percaya diri.
"Maaf Nona, aku tidak tertarik dengan identitas seseorang, bahkan aku tidak peduli dengan dirimu saat ini. Namun hanya saja marga keluargamu adalah tujuanku ke Ibukota" sahut Long Guan dengan tatapan datar.
Hung Yin terkejut, ia khawatir jika kini Long Guan adalah bagian dari organisasi pembunuh yang tengah mengincarnya.
__ADS_1
"Apakah kamu juga hendak membunuhku?" tanya Hung Yin dengan penuh waspada.
Long Guan merasa bodoh,baru kali ini ia menemukan wanita naif seperti yang berada di depannya saat ini.
Long Guan merasa bahwa gadis ini terlalu manja, tidak bisa membedakan sikap seseorang. Bahkan ia selalu berpikir jika orang-orang bisa dengan mudah ia pengaruhi di bawah tekanan nama besar keluarganya.
"Dasar gadis bodoh" ucap Long sambil mendecak. Lalu ia melanjutkan sarapannya.
"Apa maksudmu?" tanya Hung Yin dengan pupil mata yang melebar.
"Apakah kamu mengenali benda ini?" tanya Long Guan sambil mengeluarkan sebuah token. Ia tidak mau bertele-tele di hadapa gadis seperti Hung Yin.
"Dari mana kamu mendapatkan benda ini?" tanya Hung Yin dengan ekspresi terkejut.
"Aku hanya memintamu untuk menjawab, maka jawab saja bukan untuk kembali menanyaiku" sahut Long Guan sedikit kesal.
"Ini adalah token keluarga inti keluarga Hung, jika tidak salah ini adalah milik paman Hung Fei" jawab Hung Yin sambil memeriksa token tersebut secara berulang.
"Sekarang kamu jawab pertanyaanku" ucap Hung Yin dengan tatapan penuh menyelidik.
"Token itu milik guruku, Hung Fei" jawab Long Guan.
"Apakah kamu berasal dari Sekte Pedang Bintang?" tanya Hung Yin.
"Ya, benar" jawab Long Guan singkat.
"Pamanku tidak pernah mengangkat murid di Sekte, selain ia yang masih terlalu muda, ia adalah jenius yang mementingkan kultivasinya" jawab Hung Yin.
"Apakah kamu yakin aku menjadi muridnya saat di Sekte Pedang Bintang?" cibir Long Guan.
"Ini?" Hung Yin tersentak kaget mendengar pernyataan Long Guan.
Sebagai anggota utama keluarga Hung, ia tentu mengetahui dengan baik perihal pamannya.
__ADS_1
"Apakah pamanku masih hidup?" tanya Hung Yin dengan ekspresi rumit.
"Ya, guruku baik-baik saja, bahkan ia menitipkan surat untuk keluarganya" ucap Long Guan santai.
Mendengar ucapan Long Guan, ia mulai tertarik untuk mengetahui identitas pria di depannya.
"Maafkan aku tentang semalam, dan terimakasih telah menyelamatkanku" ucap Hung Yin, tatapannya mengarah ke Long Guan, berharap ia mau memaafkannya.
"Tidak masalah, asalkan kamu bisa menyudahi kesalahpahaman tentang maksudku" ucap Long Guan sambil melambaikan tangannya.
"Baiklah, setelah ini kita pergi bersama saja ke Ibukota. Kebetulan aku juga akan pulang" ungkap Hung Yin dengan sopan. Kini responnya mulai berubah terhadap Long Guan, ia tidak lagi mempermasalahkan tindakan Long Guan tadi malam yang meninggalkannya sendiri.
Saat ini ia hanya berpikir untuk membawa Long Guan ke keluarga Hung, membawa kabar tentang pamannya yang masih hidup. Ini akan menjadi berita besar di keluarga Hung. Hung Yin lalu berbincang bersama Long Guan, lalu keduanya pergi meninggalkan penginapan.
Hung Yin menyewa kereta kuda untuk menuju ibukota, setelah pengalaman semalam ia benar-benar merasa takut jika sendiri. Untuk itu keberadaan Long Guan menemani perjalanannya adalah pilihan yang tepat.
Long Guan duduk di depan dekat dengan Kusir sementara Hung Yin duduk di belakang sendiri.
Tidak beberapa lama mereka meninggalkan penginapan, Long Guan dapat merasakan beberapa orang yang mengendarai kuda mengikuti mereka. Mulanya ia tidak terlalu mempedulikannya, namun setelah melihat penunggang kuda tersebut selalu menjaga jarak, membuat Long Guan semakin curiga.
Tidak lama lagi mereka akan tiba di Gerbang Ibukota, sebagai wilayah yang ramai maka Long Guan tidak terlalu khawatir akan adanya serangan terbuka. Sementara di tempat duduk belakang Hung Yin tidak menyadarinya, ia masih duduk dengan tenang.
"Apakah mereka bagian dari kelompok yang tadi malam menyerang Nona Hung Yin?" dalam hati Long Guan bertanya sambil menyentuh dagunya.
Di waktu yang sama, di belakang kereta Long Guan. Dua orang pendekar ahli Semesta Kelima dan Keenam tengah mengikuti mereka. Semenjak Long Guan keluar dari penginapan, dua orang pendekar tersebut sudah mulai mengintainya dengan sangat cerdik.
"Sepertinya gadis itu tidak dikawal secara khusus" ucap salah seorang pendekar berkuda.
"Sepertinya memang demikian, dari informasi yang kudapat ia hanya ditemani oleh seorang pemuda biasa.
"Aku sedikit khawatir jika ini bagian perangkap dari Keluarga Hung" ujar pendekar pertama.
"Kemungkinan tidak, aku mendengar jika pria tersebut hanyalah pengunjung yang datang sebelumnya. Mereka berkenalan di Kedai makan, sepertinya tujuan mereka sama-sama ke Ibukota" jawab rekannya.
__ADS_1