Pewaris Mustika Naga

Pewaris Mustika Naga
Menuju Puncak Janji


__ADS_3

Dua pemimpin bandit lainnya sudah mengangkat pedang di depan dadanya, mereka bersiap menebas Long Guan secara bersamaan.


Long Guan tersenyum tipis, ia tidak mengeluarkan pedang seperti lawannya. Ia masih berdiri dengan tenang. Long Guan menggeleng pelan sebelum bayangan dirinya menghilang, ia muncul di hadapan salah seorang pemimpin. Dengan cepat ia mengakhirinya, sebuah pukulan keras menghujam dada pria itu.


“Bugh”


Tubuhnya terpental lima sampai enam meter, lalu jatuh ke tanah.


“Brak”


Terdengar suara tubuhnya menghantam bagian dari salah satu bangunan markas bandit. Tidak diketahui apakah ia masih hidup atau mati, dari kejauhan tubuh pria tersebut tampak kejang dan mengerang kesakitan. Setelah satu erangan yang melengking, suaranya menghilang dalam diam.


Dua orang pemimpin lainnya berubah menjadi panik, pria yang baru saja dihajar adalah Ketua kelompok Bandit Kecoa Hitam. Mereka berdua hanyalah wakilnya yang memiliki kekuatan lebih rendah, bagaimana bisa mereka meneruskan pertarungan ini.


Dalam sekejap terbersit tindakan ingin melarikan diri, kedua pria tersebut saling pandang dengan senyum licik. Long Guan bukanlah orang bodoh, trik murahan seperti itu sangat ia pahami.


Di belakangnya, Gong Fei semakin tidak paham dengan kekuatan Long Guan. Dalam lubuk hatinya muncul kekaguman, sosok pemuda yang baik hati dan tidak sombong namun memiliki kekuatan yang bahkan ia sendiri tidak sebanding. Dalam hal ini Gong Fei sedikit malu, ia tadi sedikit mengkhawatirkan Long Guan.


Dua orang lelaki wakil pimpinan Bandit Kecoa Hitam mulai mengeluarkan energi Qi nya ke pedang yang mereka genggam, mereka berniat melakukan serangan pengalihan lalu berlari secepat mungkin meninggalkan arena pertarungan.


Long Guan tersenyum sinis, “Kalian mau lari?” Tidak semudah itu..


Dengan langkah seribu bayangan Long Guan tiba di hadapan mereka berdua, belum sempat energi Qi mereka tersalurkan dua buah tinju masing-masing melesat ke kening mereka berdua.


“Boom”


“Boom”


Dua kepala pendekar ranah Semesta Ketiga hancur seperti semangka pecah.


“Sangat mengerikan!” batin Gong Fei.

__ADS_1


Setelah memastikan seluruh anggota Bandit Kecoa Hitam tewas, dengansatu jentikkan jari bangunan yang selama ini dijadikan markas Bandit Kecoa Hitam musnah dilalap api.


Gong Fei menelan ludah, ia terkejut dengan kekuatan yang baru saja dikeluarkan oleh Long Guan.


“Sejak kapan Sekte Pedang Bintang memiliki murid luar biasa seperti ini?” gumam Gong Fei yang semakin takjub.


Mulanya ia sedikit kecewa dengan Sekte Pedang Bintang yang hanya mengirim seorang murid dengan kekuatan Semesta Kedua. Tetapi kini penilaiannya terhadap Long Guan melebihi segala persepsinya.


Gong Fei berpikir betapa rendahnya kemampuan yang ia miliki di hadapan Long Guan. Semangatnya untuk kembali mengasah keterampilan beladiri menjadi bangkit kembali.


Long Guan tidak mengetahui apa yang dipikirkan oleh Gong Fei, ia hanya bertindak selayaknya. Memusnahkan para penjahat seperti Bandit Kecoa Hitam adalah sudah kewajiban sebagai seorang kultivator. Bahkan sewaktu ia berada di dunia fana, ia selalu mengajarkan hal ini kepada murid-murid Sektenya.


Gong Fei memperhatikan ekspresi Long Guan yang datar-datar saja.


“Sepertinya ia tidak menganggap pertarungan barusan, bahkan ia seperti sudah mengetahui hasilnya” ucapnya dalam hati.


“Gong Fei, ada yang ingin kutanyakan padamu” ucap Long Guan tiba-tiba


“Apa itu?”


“Apakah kamu mengetahui makam kuno yang dibicarakan oleh para penduduk Desa Songshan?” tanya Long Guan cukup serius.


Gong Fei sedikit bergidik ditatap seperti itu, ia masih membayangkan tewasnya tiga pimpinan para bandit.


“Tentu saja aku tahu, hanya satu jam dari sini” jawab Gong Fei sambil menunjuk ke Puncak Gunung Song.


“Itu adalah Puncak Janji, merupakan puncak utama Gunung Song. Puncak tersebut juga merupakan wilayah suci yang dijaga oleh leluhur Desa kami” lanjut Gong Fei menjelaskan.


“Apakah aku boleh kesana?” tanya Long Guan sedikit tidak enak.


“Tentu saja boleh, kamu sudah berjasa kepada Desa kami, nanti aku akan memberikan penjelasan kepada ayahku” ucap Gong Fei dengan santai.

__ADS_1


Kemudian mereka berdua berbincang, Gong Fei memberikan beberapa petunjuk terkait lokasi makam kuno.


Keduanya lalu memutuskan untuk berpisah, sebelum berpisah dangan Gong Fei, Long Guan tidak lupa menitipkan salam kepada Penatua Agung Han Zao. Long Guan juga meminta kepada Gong Fei untuk merahasiakan tentang keberadaan dirinya.


Hari masih siang, Long Guan melanjutkan perjalanannya menuju makam kuno yang pernah ramai dibicarakan. Keberadaannya belum banyak orang yang mendekati, keberadaan Bandit Kecoa Hitam menjadi momok yang menakutkan bagi para penduduk untuk melintasi jalur Puncak Janji.


Menurut Gong Fei, jarak ke Puncak Janji tidak jauh, hanya sekitar satu jam dari posisinya kini. Apalagi secara kasat mata Long Guan dapat melihat ketinggian puncak tertinggi Gunung Song tersebut.


Selang beberapa saat kemudian, Long Guan berada di depan sebuah Gua yang dimaksud oleh Gong Fei. Pada saat ini, kekuatan daya tarik dari dalam dirinya semakin besar. Long Guan semakin yakin bahwa di dalam Gua ini terdapat Mustika Naga yang sama. Ada perasaan aneh yang hinggap di dalam diri Long Guan. Rasa aneh ini pernah ia rasakan saat di dunia fana ketika dirinya berada di Tanah Terlarang. Ia mengedarkan persepsi spiritualnya, tidak merasakan bahaya dari binatang buas maupun sisa-sisa dari Bandit Kecoa Hitam.


Sebagai ahli formasi, Long Guan dapat melihat bibir Gua ini diikat dan dikelilingi oleh formasi. Setelah melihatnya dengan seksama Long Guan bisa mengidentifikasi bahwa formasi tersebut berbentik Array Pelindung dan Array Ilusi. Kedua jenis Array ini sama persis dengan yang di Hutan Kabut Abadi, hanya saja kekuatannya lebih kuat.


Long Guan meyakini, Array yang terdiri dari model rune rumit ini dibuat oleh seorang master formasi. Long Guan berusaha fokus mencari inti formasi, setelah ia menghentakkan kakinya pada sebuah batu dengan corak khusus, getaran cukup kuat mengeluarkan bunyi derak batu bergeser. Long Guan bisa menyaksikan beberapa susunan batu mulai bergerak, cahaya temaram dari beberapa batu alam mulai menyala.


Long Guan yakin Gua ini tidak sederhana lalu ia melangkah memasuki Gua, di dalamnya terdapat sebuah ruangan yang cukup luas dan ia merasakan energi Qi yang melimpah. Ingin rasanya ia menyerapnya, tetapi ia ingin memastikan isi dari ruangan tersebut.


Langkah kaki Long Guan terhenti, di depannya ada mayat yang terbujur kaku. Bentuknya masih utuh tidak membusuk, meski terlihat sudah lama. Long guan sedikit ragu, namun gejolak dalam jiwanya semakin besar.


Di dalam ruangan ini ia merasakan aura yang tidak asing semakin kental. Setelah beberapa saat menenangkan perasaannya, Long Guan melanjutkan langkahnya menghampiri mayat tersebut.


“Mohon maaf jika junior ini telah mengganggu ketenangan tuan pendekar” ucap Long Guan sambil membungkukkan badan.


Setelah melakukan penghormatan, ia memberanikan diri untuk membuka sebuah peti dengan ukuran panjang sekitar satu setengah Meter tersebut. Ia menemukan sebuah pedang panjang, Cincin ruang dan sebuah kotak kecil. Disamping nya terdapat sebuah gulungan berwarna hitam.


Long Guan membaca gulungan tersebut, ia ingin mengetahui ada rahasia apa yang tersimpan dalam Gua ini.


“Saat peti ini terbuka, maka tugasku akan selesai. Terimalah warisan ini, aku sudah cukup lama menunggu kedatanganmu…”


Tulisan dalam gulungan tersebut cukup panjang, secara garis besar menjelaskan tentang sebuah Mustika Naga, serta petunjuk keberadaan Mustika Naga lainnya yang tersebar di lima gunung suci alam spiritual.


Long Guan sangat senang dengan petunjuk ini, ia dengan tatapan berseri menatap mayat di depannya. Menurut catatan mayat tersebut bernama Dun Ming, ia merupakan pendekar pedang yang hidup ribuan tahun lalu. Pada masa kejayaannya ia disebut sebagai Legenda Pedang Kematian. Setiap musuh yang dilawannya pasti tewas di bawah sabetan pedangnya, pedang yang kini berada di sampingnya.

__ADS_1


__ADS_2