
Long Guan merasa sangat beruntung, memasuki tanah larangan membawa berkah tersendiri baginya, begitu banyak keberuntungan yang ia dapatkan kali ini.
Walau bagaimanapun ia memahami bahwa belajar tanpa guru ibarat orang buta tanpa tongkat.
Kemampuan yang ia miliki akan merasa cukup puas tanpa tahu dimana letak kesalahannya.
Sepintar-pintarnya orang yang autodidak, tentunya akan ada hal yang perlu ditanyakan kepada orang lain yang lebih mengetahuinya.
Meskipun Long Guan cukup beruntung sebelumnya mendapat ingatan leluhur, namun banyak hal di dunia ini yang masih belum terungkap, apalagi tentang alam spiritual dimana leluhur Long sendiri memiliki keterbatasan tentangnya.
Dalam duduk tenangnya long Guan membuka matanya, ia memandang sebuah batu seukuran telapak tangan yang berada tepat di hadapannya.
Ia memfokuskan kekuatan dan pikirannya untuk menggerakkan batu tersebut. Setelah beberapa kali percobaan ia berhasil mengangkat batu tersebut setinggi beberapa Centi Meter dari atas permukaan tanah.
Sambil memicingkan matanya, ia terus mencoba dan lebih berkonsentrasi lagi. Dahinya mulai mengeluarkan butir-butir keringat, namun ia tetap mencoba dan terus mencoba.
Setelah hampir satu hari ia memfokuskan diri untuk bisa menggerakkan batu, pada akhirnya Long Guan dapat menggerakkan batu setinggi tiga meter lebih.
Wajah Hung Fei tampak tertegun menyaksikan pemandangan batu seperti menari-nari di atas udara. Ia tidak menyangka muridnya dapat memahami kemampuan telekinesis dengan begitu cepat.
Bahkan di Sekte Pedang Bintang saja belum ditemukan seseorang mampu menguasai teknik tersebut hanya dalam satu hari, kontrol energi Qi serta kontrol jiwa yang kuat sangat dibutuhkan dalam mempraktekkan teknik tersebut.
“Pemahamanmu cukup bagus, sekarang cobalah gunakan pedangmu untuk bergerak seperti apa yang kau inginkan. Semakin cepat gerakannya maka semakin bagus, jangan abaikan pula titik yang menjadi target serangan” Ucap Hung Fei dengan nada serius.
“Baik guru, aku akan memfokuskan semua pikiran dan tenagaku” Jawab Long Guan dengan yakin.
Long Guan berkonsentrasi pada pedangnya, tiba-tiba sebuah pedang bergerak sendiri keluar dari sarungnya, gerakan masih sedikit kasar pada awalnya.
Namun setelah mencoba beberapa kali gerakannya menjadi semakin halus. “Anak ini benar-benar tidak mengecewakanku, tampaknya jalan bela dirinya begitu kuat” gumam Hung Fei di dalam hati, ia tampak tidak menyesal mengangkat Long Guan menjadi murid pribadinya.
Jika sebelumnya di Sekte Pedang Bintang ia tak mau mengangkat murid secara pribadi karena terlalu fokus meningkatkan kekuatan pribadinya.
Setelah berada di dunia bawah ini, ia baru memahami beberapa hal tentang kehidupan, apalagi saat pertama kali melihat Long Guan, entah kenapa ia seperti memiliki rasa ketertarikan yang kuat pada dirinya.
__ADS_1
Ia merasa bahwa Long Guan kelak akan menjadi pahlawan besar yang dapat mengubah tatanan kehidupan.
Usaha Long Guan tidak percuma, kini ia sudah bisa mengintegrasikan pikiran dengan pedang.
Pedang Angin dapat bergerak bebas sesuai kehendaknya, namun kecepatannya belum maksimal.
Menghadapi situasi seperti ini ia tidak segan bertanya kepada Hung Fei, “Guru, aku sudah bisa menggerakkan pedang sesuai dengan pikiranku, namun gerakannya masih belum maksimal, apakah ada yang salah?” Tanya Long Guan kepada Hung Fei.
Kau hanya perlu menghilangkan keraguan dalam dirimu, fokuskan kekuatan pada pedangmu dan jangan biarkan keraguan menghantui langkahmu.
Jalan pedang itu berbeda dengan jalan bela diri biasa, jalan pedang identik dibangun melalui niat membunuh yang kuat” Ucap Hung Fei memberi penjelasan.
Setelah mendapat pemahaman lagi, Long Guan segera menggerakkan pedangnya secepat kilat terbang melesat dan menghancurkan batu yang berada tiga puluh meter jarak di depannya.
Ada kilatan tatapan membunuh di matanya yang membuat Hung Fei terkejut. “Anak ini sangat cepat beradaptasi dengan kemampuan barunya” Batin Hung Fei di dalam hati saat memperhatikan Long Guan mengeluarkan teknik berpedangnya. “Apa yang kau pikirkan?” Tanya Hung Fei kepada Long Guan, walau bagaimanapun ia cukup penasaran.
“Aku membayangkan Azazil berada di depanku, hingga aku ingin sekali menebas kepalanya dengan pedangku” Ucap Long Guan penuh kebencian, sorot matanya masih tampak mengandung kebencian yang begitu mendalam.
“Baik guru, murid mengerti” Ucap Long Guan pelan. Setelah gurunya beranjak pergi, Long Guan tetap melanjutkan latihannya.
Ia berusaha membangkitkan niat pedang dalam hatinya kemudian mengintegrasikan dalam pikirannya kemudian merealisasikan dengan gerakan pedang.
Selama tiga hari ia terus berlatih, hanya beristirahat untuk memulihkan energi sambil meminum pil penambah energi.
Dengan tekadnya yang kuat, tiga hari berakhir begitu cepat, ia semakin mahir dalam memahami niat pedang.
Hung Fei pun kembali dan menyaksikan kemampuan Long Guan yang kian meningkat, sejujurnya Hung Fei cukup tertekan dengan bakat Long Guan, pada awalnya ia butuh waktu untuk memahami suatu keadaan, namun jika diberikan waktu yang cukup, perkembangannya sangat menakutkan.
“Kurasa kamu sudah cukup mengerti dengan apa yang ku ajarkan, selanjutnya kamu akan kuajari ke tahap berikutnya yaitu jiwa pedang.
Pada tahap ini kamu tidak membutuhkan pedang asli yang biasa kamu gunakan. Melalui energi Qi, kamu harus bisa menciptakan bentuk pedang yang tercipta dari energi Qi yang kau ciptakan” Ucap Hung Fei cukup serius.
Tiba-tiba di atas tubuh Hung Fei tercipta seberkas cahaya berwarna biru berwujud sebuah pedang, cahaya tersebut melintas dengan secepat kilat dan menghancurkan batu besar di depan Long Guan.
__ADS_1
Melihat pemandangan tersebut Long Guan sangat terkejut, ternyata energi Qi juga bisa digunakan untuk menciptakan bentuk pedang yang sangat menakutkan.
Dalam hal ini pemahaman Long Guan kian bertambah, “Ilmu bela diri di alam Dewa sungguh luar biasa, pantas saja mereka menyebut alam manusia sebagai alam bawah atau alam yang paling lemah” Gumam Long guan dalam hatinya, ia mulai menyadari perbedaan yang sangat mencolok tersebut.
“Yang kau harus lakukan adalah berkonsentrasi dengan segenap pikiran dan jiwamu, jika niat pedang terfokus pada pedang maka jiwa pedang terfokus pada titik hampa, yaitu titik nol dimana kamu akan mulai membentuk pedang” Ungkap Hung Fei dengan segera.
Hung Fei tidak mau Long Guan kehilangan momentumnya, oleh sebab itu ia mengajarkan dengan cukup efisien.
“Baik guru, murid akan mencoba” Jawab Long Guan dengan pelan.
Ia mulai berkonsentrasi memusatkan pikiran, energi mulai ia salurkan pada titik dimana ia akan membentuk sebuah pedang. Qi yang besar mulai mengalir ke luar dari dalam tubuhnya, ia merasakan ada kekuatan yang terkondensasi dari jiwanya untuk membentuk sebuah pedang energi.
Tak bisa dipercaya dirinya mampu membentuk bayangan cahaya berwarna ungu berbentuk pedang yang ukurannya lima kali lipat dari pedang angin yang biasa ia gunakan.
“Wush”
"Wush"
"Wush"
"Dhuar! Dhuar! Dhuar! "
Terdengar suara pedang terbang dan menghancurkan sebuah batu besar secara berkeping-keping.
Melihat pemandangan yang luar biasa ini membuat Hung Fei hampir memuntahkan darah karena terkejut.
Ia tak menyangka sama sekali muridnya dapat membentuk jiwa pedang hanya dalam satu kali percobaan. Namun yang membuat ia lebih terkejut adalah karena adanya cahaya ungu yang membentuk pedang energi.
Dalam pemahamannya cahaya yang berwarna ungu tidak pernah ditemui di alam spiritual, namun dampak kekuatannya lebih dahsyat dari yang Hung Fei timbulkan.
Di alam spiritual sendiri setiap warna cahaya energi melambangkan kekuatan yang berbeda mulai dari yang terendah sampai yang terkuat.
Adapun warna tersebut terdiri atas putih, kuning, hijau dan biru. Hung Fei sendiri sudah berada pada tahap warna biru karena keahliannya memang pada Dao pedang. Ia memilih Sekte Pedang Bintang karena ia berbakat dalam menggunakan teknik berpedang.
__ADS_1