
Happy reading 😘😘😘😘😘
******
" Hal penting apa? Aku akan pergi sebentar. Bisa bicara nanti saja? ". Tawar Marvin.
" Tidak..... aku tidak bisa menunggu ". Ucap Dania sambil sesekali melirik Marinka.
Marvin terdiam berfikir.
Tanpa banyak bicara Marinka lalu keluar area rumah itu berniat mencari taksi. Dia harus tau diri, jika bukan karna dirinya mungkin Marvin sudah akan menikah dengan Dania.
Marvin hanya mampu memijit pelipisnya menghadapi dua wanita didepannya ini. Akhirnya Marinka pun mendapatkan taksinya. Dengan nafas berat dia memasuki taksi itu.
Ponselnya pun bergetar kemudian.
" Marinka... Maafkan aku ".
Marinka tersenyum getir membaca pesan Marvin.
********
" Bibi... Aku datang..... ". Marinka segera berhambur memeluk bibi elly yang sedang membuat kue didapur.
" Sayang.. Kau mengagetkan bibi saja. Cepat sekali datang. Dimana Marvin? ". Sapa bibi elly senang.
" Dia sedang ada urusan bibi, tiba-tiba tadi Leo menelpon ". Jawab Marinka berbohong.
" Malam-malam begini? Kau tidak bohong kan? ". Tanya bibi penuh selidik.
" Bibi.... Jangan memulai... Dia tadi sungguh akan mengantarku. Bahkan akan ikut menginap. Tapi Leo menelponnya? ". Jelas Marinka berbohong.
" Apa parasit itu masih ada disana? ". Marinka menatap bingung pada bibi nya.
" Siapa yang bibi maksud? ".
" Siapa lagi kalau bukan Dania dan kakaknya yang pengangguran itu. Astaga.... Dia seperti orang sibuk. Bepergian kesana kemari tapi entah apa yang dia lakukan. Apa mereka tidak malu, uang yang mereka pakai itu hasil kerja keras Marvin ". Kata bibi elly kesal.
" Bibi jangan begitu. tidak baik membicarakan keburukan orang. Dia masih dirumah bibi mouli. Sepertinya akan tinggal lama, karna bibi mouli memintanya. Paman Mike sering keluar kota sekarang, jadi Dania disana untuk menemani bibi ". Jelas Marinka.
" Apa dia masih menggoda Marvin setelah kau menikah? ".
" Tidak bibi,, jangan berpikir yang tidak-tidak. Percayalah padaku. Lagipula Dania memang kekasih Marvin sebelum dia menikah denganku. Jadi aku tidak bisa melarangnya untuk tidak mendekati Marvin ".
" Baiklah...Terserah padamu saja, Aku percaya padamu. Bibi tau ini hubungan yang sulit. Tapi jangan pernah berpikir untuk meninggalkan satu sama lain ". Kata bibi elly menasihati.
" Aku mengerti bibi. Aku akan menemui papa dulu". Kata Marinka lalu beranjak pergi.
"maafkan aku bibi, aku telah berbohong kali ini.. Maafkan aku".
__ADS_1
Marinka lalu berjalan menuju kamar Tuan Louis. Dilihatnya sang ayah sedang diberi obat oleh perawat yang sengaja diperbantukan oleh Marvin untuk menjaga papa mertuanya.
"Papa bagaimana keadaanmu? ". Sapa Marinka setelah sampai didalam kamar kemudian duduk ditepi ranjang papanya. Tak lupa dia mengecup pipi dari pria paruh baya itu. Kemudian tersenyum pada perawat yang ada disana.
" Sudah lebih baik sayang, bagaimana keadaanmu? Dua hari tak melihatmu papa rindu sekali ". Jawab Tuan Louis lemah, meskipun sudah bisa dirawat dirumah namun belum bisa dikatakan pulih sepenuhnya. Berbicara nya pun kadang masih terbata.
" Aku baik ayah, jangan khawatir ". Jawab Marinka sambil tersenyum manis.
" Apa bibi mu berlaku baik disana? ". Tanya Tuan Louis yang khawatir sebab dia sedikit banyak tau beberapa kejadian belakangan ini.
" Baik papa, semuanya baik. Jangan khawatir. Aku bisa menjaga diri, Marvin juga selalu ada untukku dari dulu, papa jangan khawatir ". Ucap Marinka dengan senyuman manisnya.
Papanya hanya tersenyum,
Tidak mungkin Marinka menceritakan semuanya. Bisa jadi nanti kesehatan papanya menurun lagi.
Malam sudah semakin larut, setelah Tuan Louis tertidur, Marinka berpindah ke kamarnya untuk beristirahat.
Dia duduk bersandar pada sandaran ranjang. Dua hari menikah dengan Marvin membuat perubahan yang signifikan di perusahaannya. Karena Marvin dan Tuan Mike memang sedikit berpengaruh dalam dunia bisnis. Tapi dia takut terjebak dalam hubungan rumit itu.
Dia takut terlalu nyaman berada didekat Marvin.
Ceklek,
"Kenapa belum tidur sayang? ". Kata bibi elly saat memasuki kamar.
" Belum bibi, aku belum mengantuk ". Jawab Marinka.
" Bisakah bibi tidur disini? Aku sangat merindukanmu ". Kata Marinka sambil merentangkan kedua tangannya meminta pelukan bibi elly.
Sang bibi pun menyambutnya sambil mencium puncak kepala Marinka.
" Baiklah sayang, bibi akan tidur disini ". Mereka kemudian beranjak tidur sambil memeluk satu sama lain.
*****
Matahari pagi mulai menerobos paksa di dinding kaca yang terbalut tirai putih tipis itu. Marinka mulai menggeliat saat merasakan silau dimatanya. Ia lantas membenamkan kepalanya pada pelukan bibinya lagi.
Terasa nyaman, hangat, sudah lama dia tidak tidur dipelukan bibi elly. Marinka semakin menggesek kan kepalanya mencari kenyamanan disana. Yaa... Nyaman sekali. Rasanya enggan sekali dia bangun. Tapi tunggu.... Ini......
Marinka membuka matanya perlahan, sedikit malas karna sebenarnya dia masih mengantuk dan lelah sekali. Namun saat matanya terbuka sempurna, betapa terkejutnya dia ternyata yang memeluknya bukan bibi elly. Tapi Marvin.
Sejak kapan dia disana?.
Jelas jelas dia semalam tidur dengan bibi elly. Kapan dia datang?.
Marinka berusaha menjauh kan tubuhnya dari Marvin tiba-tiba . Jantungnya tiba-tiba terpacu cepat. Pergerakannya mau tidak mau membuat Marvin terbangun. Dia hanya melirik sekilas kemudian memejamkan matanya lagi.
"Marinka... Diamlah. Aku masih mengantuk. Jangan bergerak ". Ucap Marvin serak khas orang bangun tidur tanpa membuka matanya.
__ADS_1
" Maaf Marvin, aku hanya terkejut saja ". Ucap Marinka bergetar masih menstabilkan Jantungnya. Berusaha menjauhkan tangan Marvin yang masih memeluk pinggangnya.
" Ya tuhan kenapa jantungku ". Batin Marinka sambil memegangi letak Jantungnya.
" Marvin... Bisa kau lepaskan tanganmu? Ini berat sekali? ". Kata Marinka pelan. Takut membuat kesal Marvin karna terus mengganggunya.
Marvin membuka sedikit matanya. Menatap kearah Marinka yang tepat didepan matanya.
Marvin terkejut menyadari dia sedekat ini dengan Marinka.
Bahkan sangat dekat. Sampai sampai dia bisa mencium aroma strawberry dari rambut Marinka. Aroma yang manis dan menenangkan.
Marvin buru-buru menarik diri kemudian duduk bersandar pada sandaran ranjang dibelakang kepalanya.
"Maaf... ". Ucap Marvin sambil mengusap wajahnya kasar.
" Hmm.. Tak apa. Aku juga minta maaf. Aku pikir tadi kau bibi. Karna semalam aku tidur dengannya ". Jelas Marinka. Marvin hanya mengangguk lemas. Berusaha sekuat tenaga membuka matanya. Namun sepertinya matanya enggan terbuka. Rasanya dia masih ingin tidur lagi.
Marinka yang melihat itu merasa bersalah karna telah membangunkannya. Sejak kemarin mereka sama lelahnya karna beberapa masalah baru yang muncul setelah mereka menikah. Mereka sama-sama belum cukup istirahat.
" Apa kau butuh sesuatu? Apa kau mau ku buatkan kopi? ". Tawar Marinka.
" Tidak... Aku hanya butuh bantal Marinka ". Jawabnya kemudian kembali menjatuhkan kepalanya lagi dibantal. Dengan posisi tertelungkup.
" Hmm.... baiklah,, istirahatlah dulu. Aku akan turun sebentar". Ucap Marinka beranjak menuruni ranjang. Namun tiba-tiba Marvin memegang tangannya. Marinka terkejut kemudian menoleh.
"Ya....? Kau butuh sesuatu? ".
" Bangunkan aku 3 jam lagi".
"Kau tidak bekerja? ". Tanya Marinka lagi.
" Tidak,, aku ingin istirahat dulu. Aku lelah sekali ".
" Baiklah... Istirahat lah ". Ucap Marinka sambil menepuk pelan tangan Marvin yang tadi menariknya.
" Trimakasih.... ". Marvin sambil tersenyum pada Marinka. Marinka hanya mengangguk dan membalas senyuman sahabatnya yang sekarang menjadi suaminya itu.
Marinka segera memasuki kamar mandi. Setelah berkali-kali menarik nafas panjang dan menghembuskan pelan untuk menormalkan kerja Jantungnya.
"Astaga... Kenapa aku jadi berdebar - debar? Ada apa denganku? ".
Sementara hal yang sama juga dirasakan Marvin. Dadanya terasa dipukul - pukul....
Perasaan apa ini.....
******
Maaf telat up ya... Jangan lupa tinggalkan jejak....
__ADS_1
Terimakasih banyak buat yang udah mampir kesini.. 😍😍😍😍