
Like, komen, vote
HAPPY READING 😘😘😘😘
*************
" Berapa lama kalian berlibur?". Tanya Briyan.
"Entahlah, mungkin satu minggu ". Jawab Marvin. Seminggu setelah pembicaraan mereka dikantor Marinka itu, Marvin mengajak Marinka menemui Briyan untuk berkonsultasi. Marvin ingin memastikan kondisi Marinka sebelum mereka berlibur.
" Apa ada masalah Briyan? Jika menang ada katakanlah, aku tidak keberatan jika menunda liburanku ". Ucap Marinka pada dokter sekaligus sahabat mereka itu.
" Sebenarnya tidak terlalu penting hanya saja kau tahu kau belum sepenuhnya pulih. Kau tau maksudku kan? ". Ucap Briyan sambil menatap sahabatnya itu bergantian dia sedikit tidak enak menyampaikan itu.
" Apa maksudmu? Aku hanya mengajaknya berlibur. Aku tidak akan macam-macam ". Ucap Marvin kesal.
" Kau pikir aku percaya padamu? ". Ucap Briyan tak kalah sengit. Perdebatan mereka berdua itu membuat Marinka bersemu merah.
" Bisakah kalian tidak membahas soal ini. Aku tahu kondisiku Briyan. Kau jangan khawatir ". Ucap Marinka lembut menengahi dua bocah dewasa itu.
" Kau dengar itu? Istrimu jauh lebih bijaksana daripada dirimu Tuan Sibuk ".
" Baiklah, terserah kau saja ". Ucap Marvin kesal.
" Aku akan meresepkan beberapa vitamin untukmu. Kau harus ingat, jangan kelelahan. Kau harus bersenang-senang. Kau tidak boleh stres. Kau mengerti ". Ucap Briyan memberikan nasehat.
" Baiklah, aku mengerti ".
***********
Setelah perjalanan yang melelahkan, akhirnya mereka sampai disebuah resort yang sudah mereka pilih beberapa waktu lalu. Mereka tiba menjelang petang. Resort ini pun bisa dibilang milik Marvin. Karna sebagian besar saham tempat ini adalah miliknya.
__ADS_1
Pembangunan Resort ini dulunya adalah ide dari Eric. Lalu akhirnya Marvin dan Eric membuatnya menjadi kenyataan. Dengan fasilitas yang luar biasa, terlebih untuk tempat berbulan madu. Marvin memilih tempat ini bukan karna alasan. Disamping untuk sekedar berlibur, dia juga ingin sesekali menikmati hasil pemikirannya bersama Eric. Jadi jika ada sesuatu yang kurang bisa langsung diperbaiki.
Marvin terlihat duduk disofa panjang berwarna putih yang langsung menghadap kelaut. Wajahnya kembali segar setelah dia membersihkan diri. Tak lupa secangkir kopi hitam berada ditangannya. Dia cukup puas dengan resort yang telah ia bangun bersama sahabatnya itu.
Tak lama Marinka pun selesai membersihkan diri. Bahkan jubah mandi warna maroon itu pun masih menempel ditubuhnya. Dan tak lupa handuk kecil warna senada itu melingkar manis dikepalanya. Membungkus rambutnya yang basah. Sesaat Marvin menoleh kearah Marinka yang berjalan mendekatinya.
"Kau sudah selesai? ". Tanya Marvin sambil mengulurkan tangannya pada Marinka. Marinka hanya tersenyum mengangguk sambil menyambut tangan itu.
" Kemarilah ". Ucap Marvin sambil membimbing Marinka untuk duduk disebelahnya.
" Apa kau lelah? ". Tanya Marvin kemudian.
" Tidak terlalu Marvin, aku hanya sedikit mengantuk saja ". Ucap Marinka sambil menyadarkan tubuhnya pada lengan kekar suaminya itu.
" Kau ingin makan sesuatu?".tanya Marvin sekali lagi sambil mendaratkan kecupan dipuncak kepala Marinka.
"Nanti saja, aku sangat mengantuk sekali ". Marinka lantas merebahkan dirinya dipangkuan Marvin sambil menghadap keluar dinding kaca itu. Menikmati keindahan alam resort yang perlahan mulai gelap. Berganti dengan bintang dan gemerlap lampu yang indah.
" sangat suka, kau tidak bilang kalau kau membangun tempat seindah ini. Ini luar biasa, ini benar-benar tempat impian semua pengantin baru ". Jawab Marinka antusias.
" Sukurlah, berarti niatku untuk membahagiakan istriku sudah terwujud ". Ucap Marvin sambil membelai sisi wajah Marinka.
" Jangan berpuas diri Tuan Sibuk, aku masih ingin meminta banyak hal padamu ". Marinka mengubah posisi tidurnya menghadap keatas sehingga bisa melihat wajah Marvin yang menurutnya terlihat tampan hanya dengan baju santai seperti ini. Ucapan Marinka membuat Marvin tergelak.
" Baiklah, katakan kau ingin apa? ". Tanya Marvin hangat. Marinka terlihat berpikir. Kemudian berbalik memeluk perut rata suaminya itu.
" Sebenarnya aku tidak menginginkan hal yang mewah, aku hanya ingin seperti ini saja. Bagiku sering menghabiskan waktu denganmu itu lebih dari cukup ". Ucap Marinka sambil membenamkan wajahnya disana.
" Baiklah, kita akan liburan ketempat yang baru setiap beberapa bulan sekali ". Ucap Marvin mantap. Baginya kini dia tidak boleh egois lagi. Jangan sampai dia menyesal dikemudian hari karna telah mengabaikan Marinka. Mendengar perkataan Marvin Marinka kemudian terbangun menatap suaminya itu tak percaya sekaligus senang.
" Benarkah? ". Tanya Marinka berbinar. Marvin bisa melihat raut kebahagiaan yang rasanya lama tak dia lihat. Marinkanya telah kembali ceria seperti biasanya. Kembali tertawa seperti saat mereka menjadi sahabat. Tawa yang sempat hilang kini kembali bisa dia lihat lagi. Marvin menggenggam tangan wanita dihadapannya itu.
__ADS_1
"Tetaplah seperti ini, tetaplah bahagia dan tersenyum untukku. Aku sungguh sangat merindukanmu tersenyum seperti ini. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, membuat lembaran baru hanya untuk kita. Tidak ada siapapun. Apa kau mengerti? ". Sesaat Marinka pun tersenyum kembali,kemudian mengangguk.
"Tetaplah disampingku Marvin, aku tidak mau kau meninggalkanku. Aku telah memantapkan hatiku sepenuhnya padamu. Kau jangan sekali-kali berusaha mematahkan kepercayaanku padamu".ucap Marinka bergetar. Dia telah benar-benar menyerahkan perasaannya pada Marvin. Dan bertekad akan mempertahankan pernikahannya. Dia akan melawan siapapun itu meskipun itu Arina sekalipun.
Marvin kemudian mencium bibir merah muda yang sejak tadi menggoda matanya. Marinka pun membalasnya, ada kerinduan yang teramat dalam dari pergerakan keduanya. Marvin membawa Marinka kepangkuannya. Merasakan wanitanya yang telah lama tak dia sentuh. Mengobati segala kerinduan yang sekian lama menyiksa keduanya.
Marinka melingkarkan tangannya dileher Marvin. Decapan Decapan itu memecah keheningan kamar itu. ******* kecil yang awalnya terlihat hati-hati itu lama kelamaan berubah menuntut. Marvin mulai menjelajah pada leher jenjang Marinka. Menciumi aroma strawberry yang menyegarkan.
"Marvin.. ".
" Hmmmm". Suara Marvin terdengar mengalun begitu indah ditelinga Marinka. Marvin tetap berlanjut pada fokusnya.
"Sepertinya kita harus berhenti ". Ucap Marinka masih dalam nafas yang berat menahan siksaan Marvin. Bahkan tangan Marinka kini terlihat gelisah berada dipundak Marvin.
" Kenapa.. ". Bisik Marvin parau sambil terus memberikan kecupan kecil diantara telinga Marinka.
" Karna kalau tidak Dokter Briyan temanmu itu akan memarahimu ". Ucap Marinka bersusah payah. Marvin lantas berhenti kemudian berdecak mengingat serentetan larangan yang telah Dokter muda itu berikan padanya. Marvin menyatukan kening mereka.
Marinka menahan senyum melihat wajah kecewa Marvin. Keduanya masih berusaha menormalkan nafas dan jantung mereka. Mereka saling menatap kemudian tertawa.
Marvin mendaratkan ciuman singkat dibibir Marinka. Kemudian memeluknya erat.
"Kita masih punya banyak waktu. Bersabarlah untuk kita ". Bisik Marinka tepat didepan bibir Marvin. Dia pun sama merindunya seperti Marvin. Tapi mereka harus menahannya agar Marinka benar-benar pulih. Marvin kembali mendaratkan ciuman dibibir Marinka dan menyesapnya dalam. Dia yakin kini bibir Marinka pasti bengkak karna ulahnya. Marinka menepuk pelan dada Marvin meminta berhenti.
"Jika kelak dia menikah dan berbulan madu, lihat saja akan kubalas dia. Tidak akan kubiarkan dia menginap disemua resortku". Ucap Marvin kesal. Membuat Marinka tertawa lepas.
" Aku akan membantumu ". Ucap Marinka.
******
Maaf kalau part ini ada yang kurang berkenan. Sebenarnya akupun malu waktu nulisnya.
__ADS_1
🙈🙈🙈🙈