Pilihan Terakhir

Pilihan Terakhir
41. Luapan emosi


__ADS_3

Marvin membimbing Marinka memasuki rumah Tuan Louis. Terlihat bibi elly menyambutnya dengan senyuman termanis. Meskipun ingin rasanya menangis, tapi bibi elly menahannya. Tidak ingin membuat Marinka lebih terpuruk. Namun berbeda dengan pandangan Tuan Louis. Dia jelas-jelas merasa kecewa. Tatapannya kepada anak dan menantunya itu menyiratkan kekecewaan yang begitu dalam.


"Sayang kau sudah datang? ". Sapa bibi elly hangat sambil terus menciumi pipi anak majikannya itu.


" Iya bibi, aku sangat merindukanmu ". Ucap Marinka sambil memeluk erat bibi elly. Kemudian beralih menatap papanya. Marinka tahu bahwa papanya begitu sangat bersedih. Dia begitu memimpikan seorang cucu. Namun mimpinya itu kandas. Papanya mungkin saja terluka karna Marinka tidak jujur soal kehamilannya. Dan papanya mengetahui keberadaan cucunya itu saat cucunya sudah tiada, sama seperti Marvin.


Tuan Louis pun tahu perihal kedekatan Marvin dan Arina. Itu yang membuatnya geram serasa ingin memukul Marvin yang telah melukai putri kesayangannya. Marvin lalai akan janjinya, Marvin lalai tugasnya sebagai suami. Dan itu membuatnya benar-benar kecewa.


"Aku merindukanmu papa ". Ucap Marinka tercekat sambil membungkuk memeluk papanya yang masih duduk dikursi rodanya. Tuan Louis tak mengucapkan apapun. Dia hanya mengusap punggung Marinka. Marvin hendak mendekat menyapa namun Tuan Louis segera mengurai pelukan Marinka lalu beranjak pergi dari tempat itu. Seolah dia sama sekali tidak mau berbicara dengan Marvin sebagai bentuk rasa kecewanya.


"istirahatlah,, aku juga ingin istirahat ". Ucap Tuan Louis lalu meninggalkan ruangan itu. Dada Marinka seakan ingin meledak melihat sikap papanya. Dalam hidup Marinka dia hanya melihat wajah kecewa papanya itu dua kali. Yang pertama saat keributan dipesta Tuan Daniel dan yang kedua adalah hari ini.


Marvin yang mengetahui hal itu hanya bisa menghela nafas panjang. Rasanya menyesakkan sekali. Marinka mendapat perlakuan dingin papanya gara-gara dirinya. Jika Marvin bisa mengendalikan amarahnya waktu itu, mungkin semuanya akan baik-baik saja. Mereka tidak akan kehilangan bayi mereka.


**********


Marinka merebahkan tubuhnya. Rasanya kepalanya kembali berdenyut mengingat sikap papanya yang terlampau kecewa.


" Apa kau tidak lapar? Kau belum makan sejak kita datang siang tadi". Ucap Marvin sembari duduk ditepi ranjang. Sebelah tangannya menyelipkan rambut Marinka kebelakang telinganya.


" Aku belum lapar Marvin. Kau bisa makan dulu ". Ucap Marinka pelan. Membuat Marvin menghembuskan nafas kasar. Sungguh rasanya Marvin ingin berteriak. Seharian ini dirinya mencoba melakukan yang terbaik namun sepertinya Marinka tak berniat mengajaknya benar-benar berdamai.


Dirinya pun sama lelahnya. Kurang istirahat dan belum makan dengan benar sejak Marinka dirawat.


" Baiklah, terserah kau saja. Aku sudah meminta maaf dan melakukan sebisaku. Namun sepertinya itu sia-sia ". Ucapnya lirih namun sesungguhnya Marinka masih bisa mendengarnya.


Mendengar ucapan Marvin membuat hati Marinka berdesir sakit. Tak terasa airmatanya menetes dalam matanya yang terpejam.

__ADS_1


" Maaf selalu menyusahkanmu. Kau bisa biarkan aku sendiri dan lakukan hal yang kau suka. Jangan pedulikan aku. Aku tidak apa-apa ". Ucap Marinka hati-hati. Marvin sejenak memejamkan matanya dan menghirup nafas dalam untuk meredakan emosinya. Dia harus segera keluar dari kamar ini agar dia tidak meluapkan emosinya.


" Kau ingin aku tidak peduli padamu? Baiklah Kukabulkan keinginanmu ". Ucap Marvin penuh penekanan kemudian beranjak dari kamar itu meninggalkan Marinka sendiri. Marinka hanya mampu terisak setelah kepergian Marvin.


" ini tidak akan berhasil. Hubungan kita memang rumit sejak awal. Aku tak yakin bisa melewatinya ". Gumam Marinka lirih.


****


Marvin duduk diruang keluarga sambil mengecek segudang pekerjaannya yang telah ia tinggalkan beberapa hari ini. Tak lama dirinya mendapati Marinka menuruni anak tangga perlahan kemudian menuju dapur. Mungkin dia lapar. Marvin menengok sekilas kemudian kembali fokus pada pekerjaannya.


Sesekali Marvin melihat kearah Marinka. Rupanya wanita itu ingin menikmati roti dengan selai strawberry kesukaannya. Namun sepertinya wanita itu kesusahan membuka penutup botol selai itu. Hingga dicobanya membuka berkali-kali namun sepertinya selalu gagal.


Marvin yang melihat itu menjadi gemas lalu berjalan mendekati Marinka. Diambilnya botol selai itu dari tangan Marinka. Membuat wanita itu terkejut. Dan dengan sekali putar.. Tara.... Botol itu terbuka. Marinka hanya menunduk sungkan.


Marvin lalu mengoleskan 3 tangkup roti tawar lalu meletakkan diatas piring yang telah disiapkan Marinka. Memotongnya diagonal menjadi beberapa bagian kecil agar mudah dimakan.


" Duduk dan makanlah ". Ucap Marvin dingin penuh perintah. Mau tak mau Marinka menurutinya.


Marinka duduk dengan canggung sambil memasukkan potongan kecil roti itu kedalam mulutnya. Terlihat Marvin sedang membuat dua gelas susu hangat. Susu putih plain untuknya sedangkan yang coklat untuk Marinka.


"Minumlah ". Marvin berucap sambil menarik satu kursi bersebrangan dengan Marinka. Marvin memperhatikan sikap canggung Marinka yang tengah makan didepannya.


" Kau boleh marah padaku, kau boleh menamparku. Lakukan apa yang ingin kamu lakukan. Tapi jangan mendiamkanku ". Ucap Marvin kemudian setelah tak mampu menahan emosinya.


" Itu tak perlu Marvin ". Kata Marinka pelan mencoba tak menyakiti perasaan Marvin.


" Tak perlu katamu? Kau tidak merasakan betapa tersiksanya aku. Sejak kemarin kau dingin padaku. Kau bisa lakukan yang kau mau. Kau bisa katakan semua yang kau sukai dan yang tidak kau sukai. Jangan menahannya "., Marvin mulai kehilangan kesabaran.

__ADS_1


" Kau istriku aku suamimu kau berhak atas diriku. Dan jangan mendiamkanku. Apa kau memang ingin kita seperti ini? Saling menyakiti satu sama lain. Kau tidak ingin memperbaiki hubungan ini? ". Ucap Marvin sedikit terbawa emosi. Seketika Marinka membanting garpu yang sedari tadi digunakannya untuk makan. Dia berdiri dengan nafas memburu dan airmata yang sudah tumpah. Pandangannya menatap kesembarang arah asal tidak menatap Marvin. Sesekali dia hapus airmatanya kasar.


" Aku sudah berusaha mencobanya. Tapi aku belum bisa bersikap biasa padamu. Aku tersiksa setiap kali mengingat bayiku. Kau tau itu". Ucap Marinka sedikit berteriak. Mungkin itu pertama kali dalam hidupnya dia meluapkan emosinya.


"Kau pikir aku tidak kehilangan anakku. Coba kau bayangkan, aku ayahnya. Seorang ayah mengetahui keberadaan putranya tepat dihari saat dia tiada. Kau tidak pernah memikirkanku. Kau selalu mengambil kesimpulan sendiri dengan cara berpikirmu. Kau tidak pernah bertanya padaku tentang semua yang menjadi keraguanmu. Lantas kau masih menyalahkanku? ". Marvin pun sama berteriaknya. Membuat Marinka bergetar takut dan semakin menangis. Bahkan teriakan keduanya pun sampai pada telinga Tuan Louis yang sedang berada dikamarnya. Mendengar kedua anaknya saling berteriak membuat hatinya hancur. Dia hanya bisa menangis dalam diam. Begitu juga bibi elly yang juga mendengar pertengkaran itu dengan jelas dari dalam kamarnya.


" Aku tidak bermaksud begitu. Akupun juga bersalah. Aku minta maaf ". Ucap Marinka susah payah diantara tangisnya.


" Kau pikir semua akan berakhir dengan kata maaf? Aku berpuluh kali meminta maaf padamu namun kau tidak menganggapku. Dan sekarang kau meminta maaf padaku? Tapi kurasa kau tak Sungguh-sungguh dengan ucapanmu. Kau sengaja membiarkan hubungan kita semakin menjauh. Apa kau ingin kita berakhir seperti ini? ". Marvin berteriak mulai lepas kendali.


"Hentikan...!". Marinka mendudukkan tubuhnya kembali dengan gemetar sambil terus menutup kedua telinganya dengan telapak tangannya.


"Cukup Marvin hentikan ". Ucapnya parau memohon. Wajahnya kembali memucat. Badannya gemetar. Marinka belum sepenuhnya pulih. Dia harus banyak istirahat dan tidak boleh tertekan. Dia masih trauma sejak bayinya tiada. Marvin yang melihat itu segera merutuki kebodohannya.


Oh.. Sial... Marvin lalu menghampiri Marinka. Memeluk tubuh istrinya yang terduduk gemetar.


"Maafkan aku melampaui batas. Aku tidak bermaksud berteriak padamu. Maafkan aku ". Ucapnya penuh sesal sambil terus menciumi puncak kepala Marinka. Dan terus mengusap lengan wanita itu memberikan ketenangan.


" Jangan seperti ini, ini menyakitkan. Jangan seperti ini. Jangan tinggalkan aku Marvin. Beri aku waktu menata perasaanku. ". Racaunya masih dengan mata terpejam dan ketakutan akan ditinggalkan.


" Janjiku masih sama. Aku tidak akan meninggalkanmu ". Bisik Marvin tulus.


****


Terimakasih atas Suport temen-temen semua nya. Terima kasih yang udah like, komen, vote. Ga nyangka... Terhura akutuuuuuu...


Salam sayang dariku 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2