Pilihan Terakhir

Pilihan Terakhir
51. Janji Marvin


__ADS_3

Marvin melangkah tergesa-gesa menuju apartemen Leo. Setelah mendapat kabar tentang kepulangan Arina, Marvin lantas pergi keapartemen Leo. Setelah menekan bel berulang kali barulah pintu terbuka.


"Kenapa lama sekali? Apa saja yang kau lakukan? ". Gerutu Marvin.


" Kau pikir aku penjaga pintu, yang selalu siap membukakan pintu saat kau datang. Dasar menyebalkan ". Ucap Leo kesal.


" Dimana dia? ". Tanya Marvin.


" Ada didalam sedang beristirahat ". Jawab Leo.


Marvin lantas mencoba mencari keberadaan Arina. Terlihat wanita itu sedang menikmati film kartun sambil sesekali tertawa. Sepertinya wanita itu telah melupakan kejadian buruk yang menimpanya beberapa waktu lalu. Tanpa sadar Arina menoleh dan dia terkejut melihat Marvin yang berdiri tak jauh darinya. Sampai-sampai jus yang baru saja dia minum hendak dia keluarkan kembali karna tersedak. Sehingga membuat hidungnya perih.


"kak Marvin? ". Ucap Arina terkejut lalu dengan spontan berdiri. Ketakutan seketika melanda dirinya mengingat sikap dan perilakunya yang sampai membuat rumah tangga Marvin perang dingin. Keringat dingin mulai membasahi tangannya. Arina meremas tangannya satu sama lain agar kegugupannya sedikit berkurang.


"Apa kabar? ". Tanya Marvin dingin.


" A-aku ba-baik kak?". Ucap Arina terbata.


"Duduklah, tidak usah sungkan padaku ". Ucap Marvin lalu duduk disofa yang sama dengan jarak yang tidak terlalu jauh.


Arina dan Leo ikut mendudukkan tubuh mereka disana.


" Apa kau sudah makan? ".


" Sudah, tadi Leo membeli sarapan untukku ". Jawab Arina perlahan sambil terus menunduk. Leo melihat Arina sedikit tak nyaman. Kemudian berdehem untuk sedikit mencairkan suasana yang canggung.


" Apa kau tidak kekantor hari ini? ". Tanya Leo pada atasan sekaligus sahabatnya itu.


" Sebentar lagi, aku baru saja mengantar Marinka lalu aku mampir kemari untuk melihat Arina".jelas Marvin.


" Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Kenapa kau sampai disekap oleh Jimy. Bukankah Jimy itu orang kepercayaan Tuan Andrew".Tanya Marvin penuh selidik. Begitu juga Leo yang menatap Arina penuh tanya. Karna sejak tadi dia belum mengetahui yang sebenarnya terjadi. Arina belum bercerita sepenuhnya.


"Entahlah, aku juga tidak tau? ". Jawab Arina gugup. Dia tidak mungkin menceritakan soal dirinya yang dipaksa untuk menggoda Marvin. Atau bahkan mencelakai Marvin. Lalu sikap Jimy yang kemudian berubah. Jimy yang katanya menginginkan dirinya menjadi istrinya. Entahlah, Jimy serius ataukah membual.


"Tapi malam itu aku melihatmu kacau sekali. Kau seperti sedang menghindari keluargamu. Aku benar kan? ". Tanya Leo menyelidiki. Arina kebingungan mau bercerita dari mana.

__ADS_1


"Aku tidak bisa cerita sekarang. Aku akan bercerita lain kali jika aku siap". Ucap Arina sambil terus menjalin kedua tangannya. Dia tidak mau Marvin tau tentang semua kejahatan yang telah dia perbuat. Dia takut mengecewakan Marvin, apalagi jika nanti bibi Grace tahu perilakunya selama tinggal dirumah besar itu. Dia akan malu sekali.


"Baiklah terserah kau saja?". Ucap Marvin santai.


"Oh ya Leo, apa kau sudah tau siapa orang yang mengirim foto sialan itu pada Marinka beberapa waktu lalu? ". Tanya Marvin kemudian. Membuat Arina kembali memucat.


" Aku kehilangan jejak. Kudengar orang itu telah melarikan diri keluar negeri. Entahlah, orang suruhanku tiba-tiba tidak bisa menjangkaunya ". Jelas Leo.


" Kuharap kita segera menemukannya. Dan segera mengetahui apa maksud dibalik semua ini. Karna orang itu aku kehilangan anakku ". Ucap Marvin dengan sorot mata penuh kemarahan.


" Sudahlah jangan memaksa, yang penting hubunganmu dengan Marinka sekarang sudah membaik ". Ucap Leo menenangkan.


" Aku mengerti, tapi rasanya masih menjadi ganjalan". Ucap Marvin.


"Maaf aku akan beristirahat sebentar".ucap Arina terburu-buru. Marvin dan Leo menatap bingung pada Arina yang tiba-tiba meninggalkan mereka.


"Kau tidur dimana semalam? ". Tanya Marvin penuh selidik.


" Tentu saja disofa. Kau pikir aku mengambil kesempatan? Aku ini pria baik-baik kau tahu itu ". Ucap Leo kesal.


" terserah kau saja. Tapi apa nanti Marinka tidak akan tahu? ".


" Aku bisa mengaturnya atas namamu".


"Baiklah jika itu maumu ". Leo mengalah.


" Oh ya beberapa hari ini mungkin aku akan jarang kekantor. Ayahku menginginkanku pulang kerumah dan membantunya diperusahaan". Ucap Leo.


"Baiklah tidak apa-apa. Lagi pula aku heran padamu. Kau putra mahkota dari pengusaha ternama tapi kenapa kau malah bekerja denganku".


"Karna aku malas diatur. Aku tidak mau segala privasiku menjadi urusan mereka".


****


"Kau sudah pulang? ". Sapa Marinka setelah melihat suaminya memasuki apartemen mereka.

__ADS_1


" Seperti yang kau lihat ". Ucap Marvin sambil mencium puncak kepala Marinka. Membuat Marinka selalu merona. Marinka lantas memeluk Marvin erat membuat Marvin heran.


" Kenapa? Apa terjadi sesuatu? ". Tanya Marvin lembut.


"Tidak, aku hanya merindukanmu saja. Seharian ini perasaanku tidak menentu. Entahlah, aku merasa khawatir sejak kau pergi dari kantorku tadi pagi". Ucap Marinka sambil terus menempelkan kepalanya didada lelaki itu.


" Aku baik-baik saja sayang, tidak terjadi apapun padaku. Baiklah, biarkan aku mandi dulu lalu aku akan memelukmu sampai pagi ". Ucap Marvin lalu mengecup singkat bibir Marinka.


" Baiklah.. Cepatlah mandi. Aku akan siapkan makanan untukmu ". Marinka beranjak kedapur lalu Marvin lanjut membersihkan tubuhnya.


Dalam beberapa menit Marvin sudah turun dengan wajah yang segar. T-shirt putih kesukaannya selalu menempel padanya.


" Kau masak banyak sepertinya? ". Tanya Marvin.


" Aku hanya membuat sup daging pedas untukmu. Tapi dengan cabai yang tidak terlalu banyak. Aku masih memikirkan kesehatanmu. Jadi jangan coba berani meminta tambahan cabai lagi seperti yang selalu kau lakukan ". Ucap Marinka kesal karna suaminya itu tidak akan bisa makan jika masakannya kurang pedas. Marvin tersenyum lalu memeluk Marinka dari belakang. Marvin mengecup sisi wajah Marinka penuh kasih.


" Baiklah sayangku, jangan khawatir. Mulai sekarang aku akan memperhatikan kesehatanku. Aku ingin hidup lebih lama denganmu. Mengganti semua hal yang terlewat. Dan aku ingin menjadi seorang ayah yang membanggakan untuk anak-anak kita nanti ". Ucap Marvin sambil mengeratkan pelukannya. Marinka tersenyum lalu mengusap tangan Marvin yang menempel diperutnya.


" Tentu, kita akan jadi orang tua yang bahagia dengan anak-anak yang menggemaskan. Kau tahu jika dia masih berada diperutku, mungkin perutku akan sebesar perut Emily. Umur kehamilan kami hampir bersamaan bukan? ". Ucap Marinka sedikit bergetar. Marvin merasakan kepedihan itu yang juga langsung menusuk Jantungnya. Marvin membalikkan tubuh Marinka. Terlihat wajah Marinka muram dan matanya berkaca-kaca.


" Kau bertemu dengannya? ". Tanya Marvin sambil merapikan surai Marinka kebelakang telinga.


" Iya aku tidak sengaja bertemu dengannya. Dia sedang membeli baju bayi yang lucu-lucu. Emily bilang katanya bayinya perempuan Pasti dia akan sangat cantik seperti Emily ". Ucap Marinka sambil tersenyum getir menatap kesegala arah agar airmatanya tak terjatuh.


Marvin lalu merengkuh tubuh Marinka dan membenamkannya didadanya. Marvin tahu Marinka sedang merindukan bayinya. Tak lama Marinka pun terisak tak bisa menahan tangisnya. Marvin mengusap punggung Marinka menenangkannya.


"Maafkan aku, semua salahku. Jika malam itu aku tidak marah dan menuduhmu yang bukan-bukan mungkin saat ini kita juga akan sama bahagianya seperti Thomas dan Emily ". Ucap Marvin parau. Dirinya pun sama kehilangannya seperti Marinka. Namun dia berusaha Menerima kenyataan pahit itu.


" Aku bersumpah akan tetap mencari dalang dari semua kekacauan itu. Orang yang telah membuat kita salah paham ". Ucap Marvin meyakinkan Marinka. Marinka hanya mampu mengangguk dengan tangannya yang mencengkeram erat baju Marvin.


" Jika kau menemukannya kau harus berikan dia padaku. Kau harus berjanji Marvin. Aku yang akan menghukumnya ". Ucap Marinka terisak.


" Aku berjanji ".


*************

__ADS_1


__ADS_2