
Happy reading
***************
"Katakan apa yang sebenarnya terjadi?". Tanya Leo tegas.
" Aku mengetahui sesuatu hal Leo. Tentang kecelakaan yang dialami oleh Tuan Louis beberapa waktu lalu. Itu adalah rencana dari Tuan Andrew dan juga Jimy. Mereka ingin menghancurkan keluarga Tuan Louis. Juga perusahaannya".
" Apa? Kau yakin? ". Ucap Leo tidak percaya.
" Yang kudengar begitu. Dia ingin menguasai semua yang dimiliki oleh Tuan Louis. Bahkan mempersiapkanku untuk mendekati kak Marvin. Agar kelak jika terjadi sesuatu dengan perusahaannya tidak akan ada yang membantunya. Tapi diluar dugaan kak Marvin setuju menikah dengan Marinka. Dan itu membuat Tuan Andrew marah. Dia kalah cepat sehingga perusahaan itu tetap menjadi milik Marinka sampai saat ini ".
" Dulu aku berpikir Marvin juga tidak akan mau menikah dengan Marinka. Tapi ternyata dugaan kita semua salah ".
" Aku juga sangat terkejut sebenarnya. Tapi ada satu hal lagi Leo. Tuan Andrew sepertinya punya dendam pribadi pada Tuan Louis ".
Saat mereka sedang berbicara tiba-tiba Ponsel Leo berdering.
" Ya... ".
"..."
"Apa? Baiklah aku kesana sekarang? ". Ucap Leo bergegas pergi.
" Ada apa? ". Tanya Arina bingung.
" Sesuatu terjadi, Tuan Louis sudah meninggal baru saja ".
" Apa? ". Wajah Arina memucat. Tubuhnya gemetar. Orang itu membuktikan ucapannya.
" Aku harus kerumah sakit ". Leo pergi saat itu juga.
******
Semua tim dokter sudah bekerja sebaik mungkin. Tapi ternyata nyawa Tuan Louis tidak bisa tertolong. Marinka duduk menatap papanya yang sudah tidak bernyawa. Perasaan bersalah seketika menghantuinya.
Jika saja dia tidak mencari Marvin, mungkin dia bisa menemani papanya disaat terakhirnya. Marinka menangis tanpa suara.
Terlihat Marvin sedang berbicara dengan dokter untuk proses pemulangan jenazahnya. Terlihat juga Tuan Mike, bibi Mouli dan bibi Elly yang sangat terpukul.
"Maafkan bibi Marinka,bibi hanya pergi sebentar untuk membeli makan setelah aku memberi kabar padamu. Aku pikir semuanya akan baik-baik saja ". Ucap bibi Elly tersedu. Marinka tidak bisa bicara apapun. Dia hanya memeluk bibi Elly erat.
Tak lama terlihat lelaki muda yang datang tergesa-gesa. Dengan wajahnya yang begitu khawatir.
" Apa yang terjadi? Bukankah kau bilang semuanya baik-baik saja ". Tanya pemuda itu yang ternyata Leo.
__ADS_1
" Entahlah Leo, saat aku tiba semuanya sudah terjadi ". Sesal Marvin. Sesaat mata Leo menangkap tatapan tajam dari Marinka. Terlihat tatapannya yang dipenuhi dengan amarah. Leo hendak menghampiri Marinka namun Marinka segera beranjak pergi menghindar.
Akhirnya Leo memilih untuk mengurungkan niatnya. Dan kembali berbicara pada Marvin dan Tuan Mike.
" Paman,, apa kau tahu masa lalu Tuan Louis dan Tuan Andrew? ". Tanya Leo tiba-tiba membuatnya terkejut.
" Apa maksudmu bertanya begitu Leo? ". Tanya Marvin.
" Ada hal yang harus aku luruskan ". Ucap Leo.
" Apa alasanmu hingga kau bertanya perihal ini? ". Tanya Tuan Mike penasaran pada Leo. Darimana dia tahu kabar itu.
" Ada seseorang yang mengatakannya padaku Paman. Apa itu benar? ". Tanya Leo sekali lagi. Pembicaraan itu benar-benar membuat Marvin gagal mencerna.
" Itu.... ".
Saat Tuan Mike ingin menjawab tiba-tiba perawat datang memberitahukan bahwa jenazah sudah bisa dibawa pulang.
*****
Jenazah Tuan Louis sudah dikebuminkan beberapa waktu lalu. Kini tinggal Marinka duduk termenung dikamar papanya. Akhir-akhir ini dia telah membuat kecewa papanya. Dari gagalnya hubungan dengan Thomas. Sampai pernikahan dengan Marvin. Semuanya sangat membuat hidupnya tidak berjalan pada mestinya. Semuanya berantakan.
Ceklek....
Pintu terbuka menampilkan Marvin yang membawakan nampan berisi makanan untuk Marinka.
" Pergilah.. Jangan menjadi baik padaku. Aku tidak butuh dikasihani". Ucap Marinka dingin tanpa melihat Marvin.
"Apa yang kau katakan? Aku tidak sedang mengkasihanimu. Aku peduli padamu ". Ucap Marvin.
" Sejak kapan? Jangan berpura-pura baik jika didepanku. Bersikaplah biasa seperti jika kau dibelakangku".
"Jangan membalasnya lagi. Aku tidak mau berdebat ". Ucap Marvin datar. Marinka lantas berdiri tepat didepan Marvin.
" Tentu saja, kau selalu tidak mau berdebat jika menyangkut kekasih gelapmu itu ".
" Marinka! ". Ucap Marvin meninggi.
" Kenapa? Kau tidak suka jika aku menyebutnya begitu? ". Ucap Marinka getir.
" Jika saja kita tidak menikah, semuanya tidak akan serumit ini ".
" Jadi kau menyesal menikah denganku? ". Tanya Marvin masih dengan emosi tertahan.
" Iya.. Aku menyesal menikah dengan pembohong sepertimu". Ucap Marinka tegas. Dibarengi dengan setetes airmata yang kembali lolos.
__ADS_1
"Baiklah jika memang begitu. Lakukan semua sesukamu. Aku tidak akan membela diri karna semua percuma". Marvin kemudian berlalu dari sana setelah meletakkan nampan itu dimeja.
Marinka menjatuhkan tubuhnya seketika kelantai. Perasaannya sangat hancur. Kehilangan papanya membuat hidupnya seolah berhenti saat itu juga.
Setelah dua jam mengurung diri akhirnya dia keluar. Mungkin Marvin sudah pulang jadi dia memberanikan diri untuk keluar. Tujuan utamanya adalah dapur karna dia merasa butuh sesuatu yang segar. Tanpa disangka Marvin dan yang lainnya masih berada diruang tamu.
Mereka seperti berbicara serius dan sesekali berbisik. Marinka tidak tahu pasti apa yang mereka bicarakan. Dan tatapannya menangkap sosok yang paling dia benci ternyata juga ada disana. Arina.. Ya sosok yang sangat dia benci adalah Arina.
Keterkejutan yang Arina rasakan ternyata dirasakan juga oleh yang lain. Sehingga semuanya ikut melihat kearah tatapan Arina.
"Marinka.. Kau butuh sesuatu?".Tanya bibi Elly menghampiri Marinka terburu-buru. Marinka menggeleng,lalu berjalan menghampiri sekumpulan orang itu.
"Apa yang kau lakukan dirumahku? ". Tanya Marinka dengan tatapan dingin tertuju pada Arina. Gadis itu gemetar ditatap seperti itu.
" Maaf Marinka, aku hanya ingin berbelasungkawa atas meninggalnya Tuan Louis ". Ucap Arina gugup. Marvin lantas berdiri untuk menengahi
" Pulanglah, aku tidak butuh kehadiranmu juga simpatimu". Marinka masih berucap dingin.
" Marinka, dia datang bersamaku. Aku akan membawanya pulang jika urusan kami sudah selesai". Ucap Leo berhati-hati.
"Oh iya, tentu saja. Kalian bertiga kan memiliki persahabatan yang unik kan. Hubungan kalian sangat unik. Saling menutupi kebusukan satu sama lain ". Marinka lantas tertawa getir.
" Marinka, cukup! ". Teriak Marvin membuat Marinka membeku.
" Bela saja dia. Apa kalian tidak sadar, aku kehilangan papaku karna kalian bertiga ".
" Aku tidak membela siapapun. Aku hanya tidak mau kau berbicara tidak sopan begitu. Kendalikan dirimu. Aku mohon ". Ucap Marvin pelan sambil mendekati Marinka.
" Tidak apa-apa kak, biarkan dia berbicara semaunya. Aku tidak keberatan, disini memang aku yang bersalah. Aku telah membuat kesalahan dari awal".ucap Arina sedih.
"Akhirnya kau tahu dan sadar kesalahanmu. Pergilah dari sini. Aku tidak mau kau sampai terlihat lagi disini. Bawa pulang dia bersamamu Leo ". Ucap Marinka tegas sambil menatap kearah Leo. Leo hanya menghela nafas. Lalu menarik tangan Arina.
" Kami permisi dulu, kita bahas ini lagi besok dikantor paman saja ". Ucap Leo merujuk pada Tuan Mike.
" Baiklah aku tunggu kau besok dikantorku ".
Setelah berpamitan akhirnya Leo membawa Arina pulang. Dia tidak mau membuat Marinka semakin tertekan.
" Sayang kau tidak boleh emosional seperti ini. Tahan dirimu ". Ucap bibi Mouli menasihati.
" Bibi tidak tahu apa yang mereka telah lakukan padaku. Jika bibi merasakan seperti apa yang kualami maka aku yakin bibi tidak akan mengatakan itu padaku ". Ucap Marinka kemudian berlalu. Marvin menghela nafas berat.
" Katakanlah yang terjadi semuanya. Kita tidak bisa membiarkannya berpikir dan mengambil kesimpulan semaunya".Ucap Tuan Mike.
"Akan kucoba lagi nanti ".
__ADS_1
***************
Terimakasih buat yang masih mau mampir. Saya pemula jadi kadang alurnya nggak jelas. Mohon maklum ya.. Boleh kasih saran dan kritikan.. Saya menunggu dengan senang hati.. 😍😍😍😍