Pilihan Terakhir

Pilihan Terakhir
Rinjani


__ADS_3

"Papa tidak setuju, Papa tidak mau kamu menikah dengan gadis miskin itu. Kau tau bagaimana kehidupannya bukan, mereka serba kekurangan. Papa nggak mau punya menantu dan besan yang hanya akan merepotkanmu dimasa depan,” ucap Adyaksa dengan nada tinggi.


"Benar kata papamu, Sayang. Sebaiknya kamu pikirkan lagi kalau kamu akan menikahi Rinjani. Keluarga mereka jauh dibawah kita, Sayang” Nyonya Rita menimpali. Sejak awal, memang Rita tidak pernah menyukai hubungan Rinjani dan Mada, putranya. Tapi sepertinya putranya benar-benar sudah cinta mati. Sampai-sampai Mada tak lagi mendengar larangan orang tuanya.


"Perusahaannya mendekati kebangkrutan, bahkan dia sudah kehilangan kepercayaan beberapa investornya. Kau akan kesulitan mengelola itu. Kecuali jika Zein mau menjual sahamnya pada kita dan mengatasnamakan perusahaan itu atas namamu. Maka dengan senang hati kunikahkan kalian,” ucap Adyaksa angkuh, membuat Rinjani berdecih. Ternyata ini tujuannya. Mengundang Rinjani kesini bukanlah semata untuk membicarakan


Sementara Mada hanya menunduk tanpa bisa berkata apapun. Rinjani,,, ya gadis itu sudah berurai air mata. Bagaimana tidak, hubungan mereka terbilang tak sebentar. Tiga tahun lamanya mereka bersama dan keluarga Mada pun baik selama ini. Tapi semuanya berubah saat mereka tinggal selangkah lagi.


Apa yang salah, selama ini mereka selalu baik-baik saja. "Om Ady, Tante Rita,apa aku melakukan kesalahan? Kami saling mencintai, bahkan beberapa waktu lalu pun, om sama tante juga sudah menyetujui hubungan kami, jika om menginginkan perusahaan itu, Mada bisa memilikinya setelah menikah denganku. Tidak perlu memisahkan kami seperti ini. Pernikahan tinggal beberapa hari dan ini nggak lucu,” Kata Rinjani getir. Karena pada akhirnya, segala perjuangannya sepertinya akan sia-sia.


"Kamu nggak seseberharga itu, Rinjani? Mada akan kesulitan jika perusahaan itu masih dibayang-bayangi nama papamu. Kecuali jika itu sudah resmi diserahkan pada Mada. Tapi sayangnya papa kamu menolak untuk itu. Jadi... Kurasa cukup sampai disini waktu yang ku berikan pada kalian untuk bersenang - senang. Mulai besok kembalilah ke kehidupan dimana kamu belum mengenal Mada. Karna dua minggu lagi Mada akan menikah dengan Sasti. Orangtuanya bersedia dengan senang hati menyerahkan salah satu perusahaan mereka untuk Mada, dan Mada sepertinya juga tahu apa yang dia perlukan untuk masa depan. Bukan begitu, Nak?” ucap Adyaksa tersenyum miring seolah menguatkan ucapannya.


Deg..


Rinjani mencoba mencari kebenaran pada pria disebelahnya. Tapi tidak ada satu kata pun keluar dari bibir nya. Mada hanya diam tanpa penjelasan apa pun.


"Mada..Bisa kamu jelaskan nggak?" kata Rinjani sambil sesekali mengerjabkan matanya yang terasa panas. Rinjani sungguh benci disituasi dimana ia terlihat sangat lemah. Mada menghela nafas berat.


" Maafkan aku Rinjani... "ucapnya tercekat. Rinjani semakin tersenyum getir.


"Kalau sejak awal kamu nggak yakin sama hubungan kita, kenapa kamu berani menjanjikan pernikahan sama papa?”


"Maafkan aku... Aku pikir papa akan mengerti keadaan kita dan papa kamu bisa mengerti juga seiring berjalannya waktu. Tapi ternyata papa kamu menolak untuk bekerja sama dengan perusahaan,” ucap Mada sambil menggenggam tangan Marinka.


"Sudah cukup kalian berdrama didepanku. Cepat kau ambil keputusanmu,Mada . Tinggalkan dia dan mulailah dari awal bersama Sasti. Hidup tidak melulu tentang perasaan. Pakai logikamu juga," ucap Adyaksa angkuh.


"Pa, ini terlalu mendadak, pernikahan tinggal beberapa hari lagi. Bagaimana perasaan Rinjani dan keluarganya?” ucap Mada kesal. Sejak dulu, orang tuanya memang selalu memaksakan apa pun padanya. Tapi, Mada benar-benar kesal jika urusan pernikahan pun, mereka masih ikut campur.


"Jangan melenceng dari rencana awal! Kita menjalin hubungan sekaligus juga untuk menguatkan perusahaan kita, masa depan kita. Dan kamu sudah sepakat untuk nurut sama papa, itu kalau kamu lupa!”


Kesepakatan? Kesepakatan apa ini? Rinjani sudah benar-benar pusing memikirkan semua yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Kamu sudah berjanji akan menikahi Sasti, bukan?" lanjut Adyaksa. Sesaat Mada memejamkan matanya. Mada hampir melupakan hal itu.


"Itu bener? Kamu berjanji menikahi dua wanita sekaligus? Kamu sudah nggak waras kayaknya,” ucap Rinjani tertawa menertawakan kebodohannya selama ini.


"Untuk apa bertanya lagi? Semua sudah jelas. Sasti jauh lebih dibandingkan kamu dari segi apa pun. Sekarang pergilah, jangan buang waktu,” kata Nyonya Rita sinis. Sejak awal, wanita bersanggul tinggi itu tak pernah menyukai Rinjani. Hanya saja, demi sebuah keuntungan, Rita harus rela berpura-pura baik pada Rinjani.


"Kamu tau? Mada sudah setuju menikahi Sasti demi mendapatkan kedudukan di perusahaan keluarga. Seharusnya kamu mengerti, dengan terus bersamanya kamu akan menghambat karier-nya. Mada harus bersaing dengan sepupunya yang lain untuk bisa terlihat lebih kompeten. Pernikahan bisnis semacam ini sangat diperlukan di keluarga Bimantara, kau harus paham itu,” lanjut Adyaksa.


“Pa... Jangan begini, bagaimana pun juga aku nggak bisa meninggalkan Rinjani semudah ini,” ucap Mada berusaha menghentikan papa nya.


"Kenapa kamu tidak mengatakan dari awal. Mada?, kalau kamu berkata jujur aku akan memahami kamu, sebelum aku terlanjur memiliki perasaan yang dalam sama kamu,” ucap Marinka sambil mengusap sudut matanya yang basah.


"Jani...bukan begitu, kenyataannya adalah__”


“Mada...!" Adyaksa berteriak memutus ucapan Mada. Entah apa yang akan Mada katakan jika papanya tidak menyela.


"Usir perempuan ini dari sini. Papa sudah lelah, atau kesepakatan kita akan berakhir. Kau mengerti? Keputusan ada ditanganmu saat ini juga. Jika kamu benar-benar mau menyingkirkan Byakta juga Rajendra dalam daftar ahli waris, maka, kamu harus setuju sama papa hari ini,” kata Adyaksa tetap menekan.


Rinjani menatap tak percaya, kenapa semuanya bermuka dua. Hanya demi jabatan Mada rela menyakitimu?


"Mada... Ambil keputusanmu cepat. Akhiri saat ini juga.Mama sudah lelah, mama ingin istirahat,” kata Nyonya Rita sambil merapikan sanggulnya yang masih rapi itu.


Mada menatap wajah kekasihnya itu dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Jani...” Suara Mada berat. Matanya mulai panas. Tak sanggup menatap dalam mata wanita itu. Jika dinilai dengan perasaan, Mada juga tak sepenuhnya jatuh cinta setengah mati pada Rinjani. Tapi, Mada benar-benar menghargai Rinjani selama ini. Dan kalau pun berpisah, seharusnya tidak semenyakitkan ini untuk Rinjani.


“Oke, aku mengerti. Kita akhiri saja, aku juga nggak mau menekanmu. Cukup keluargamu saja yang menekanmu.” Rinjani berkata sambil merapikan tas nya, beranjak untuk pergi. Dia tersenyum getir.


"Terima kasih untuk semuanya Mada, om, tante. Aku nggak masalah dengan keputusan sepihak kalian, dan untuk undangan serta resepsi yang sudah direncanakan, biar itu jadi urusanku. Aku nggak akan mengganggu keluarga om lagi,” kata Rinjani setengah bergetar menahan tangisnya.


"Jani, maafkan aku...” terlihat mata Mada memerah. Mada berusaha menggapai tangan Rinjani, tapi Rinjani menepisnya pelan.

__ADS_1


"Nggak masalah mada, aku mulai paham kok, aku tau siapa aku, keluarga ku tak sepadan denganmu. Berbeda jauh dengan keluarga Sasti. Dia juga lebih pantas mendampingimu, kalian bisa saling melengkapi,”ucapnya getir.


“Aku permisi terimakasih sudah membuang waktumu yang berharga selama tiga tahun ini, dan hasilnya nol besar.”


"Antar dia, Mada. Anggap saja sebagai penghormatan terakhir,” ucap Nyonya Rita.


"Tidak perlu, tante, aku bisa sendiri. Terima kasih banyak,” ucap Marinka lalu pergi setengah berlari. Mada mengejar hingga keluar. Mencoba menggapai tangan Rinjani, namun Rinjani menepis keras.


"Jan, maafkan aku, aku bisa jelaskan. Ini nggak seperti yang kamu kira,”


"Jelaskan? Kapan? Sekarang atau besok setelah aku tak punya muka seperti ini?!”


“Kamu nggak mikir mau ditaruh dimana mukaku hah? Kamu ngajak aku kesini menemui orang tuamu untuk meminta restu, tapi pada kenyataannya kamu malah mau nikah sama Sasti yang sialnya adalah sahabatku dari dulu. Kamu waras?!” Suara Rinjani meninggi. Mada diam, dan Rinjani memilih berlalu dari rumah mewah itu.


****


Malam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Tapi Rinjani masih duduk dibangku taman ditengah kota. Masih ada beberapa orang yang lalu lalang menikmati malam bersama teman bahkan keluarga kecil mereka.


Terlihat sepasang suami istri dengan anaknya yang kira-kira berumur satu tahun. Mereka bercanda saling menyuapi,dan sesekali menggoda anak mereka. Sungguh manis sekali.. Tak terasa bibir Rinjani tersenyum ditengah kepahitan.


“Seandainya saja...” Dia menggelengkan kepalanya sambil mengusap air mata yang kurang ajar jatuh dipipinya. Rinjani mengambil ponsel di dalam tasnya dan mencoba menghubungi seseorang.


“Aku butuh kamu malam ini. Ditempat biasa.”


*********


Buat temen-temen yang masih menunggu karyaku, Novel Marvin ini akan ada versi baru ya... Judulnya Rinjani, Korban Dendam Yang Keliru.


Boleh cek di IG ya buat yang masih berminat baca karyaku.


Terimakasih 😊😊

__ADS_1


Zhaniazakia ganti nama ya (Mei Pratiwi)


IG : meipratiwi912


__ADS_2