Pilihan Terakhir

Pilihan Terakhir
Gadis Penebus Hutang


__ADS_3

“Aku lumpuh dah tidak bisa memberimu keturunan. Apa setelah ini kau akan mencari wanita yang bisa memberikan pewaris untuk keluarga Hamilton?” tanya seorang wanita berkulit putih pucat yang saat ini duduk di kursi roda.


Dia adalah Shelia, istri dari pengusaha muda Ayhner Hamilton. Tak pernah terbayangkan jika pernikahan indah yang mereka impikan akan berakhir mengerikan seperti ini. Kecelakaan hebat sudah merenggut kaki juga rahim Shelia.


Dan bukan hanya itu, ibu dari Ayhner pun ikut menjadi korban pada kejadian nahas itu.


“Kau bicara apa? Aku tidak pernah punya niatan untuk menggantikan tempatmu dengan wanita mana pun. Aku janji, Shelia. Kau bisa pegang ucapanku,” ucap Ayhner lembut.


Pria berwajah tegas bermata tajam itu pun mencium lembut bibir Shelia. Rasanya masih tetap sama seperti saat pertama kali mereka jatuh cinta. Ayhner amat sangat mencintai Shelia.


Ayhner ingat, dulu ia harus bersaing dengan rival abadinya hingga sampai mendapatkan hati Shelia. Jadi mana mungkin ia meninggalkan Shelia hanya karena wanita itu tidak bisa memberikan keturunan.


“apapun yang terjadi, aku tidak akan pernah meninggalkanmu.”


“Aku berterima kasih padamu, Ayhner. Aku sudah tidak punya siapapun lagi. Aku hanya punya kau. Jika saja kau meninggalkanku, maka lebih baik aku mati saja,” ucap Shelia terisak.


“Tenanglah. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu.” Ayhner memeluk tubuh ringkih istrinya itu.


Pikirannya sedang bercabang hari ini. Di saat Ayhner terpuruk karena keadaan istrinya, di sisi lain justru mantan orang kepercayaannya yang bernama Sebastian berulah.


Pria itu hampir saja membuatnya bangkrut dengan membawa lari beberapa aset dan dokumen rahasia miliknya. Entah setan apa yang ada di pikirannya sehingga Sebastian melakukan hal gila semacam itu.


“Apa sudah ada kabar dari orang-orangmu?” tanya Shelia kemudian.


Shelia tahu jika suaminya kini sedang mencari Sebastian yang buron. Hal pertama yang Hal pertama yang Ayhner lakukan tentu mencari putri kesayangan Sebastian yaitu Valeri. Jika Valeri ditemukan, maka Sebastian pasti akan muncul.


“Sudah. Mungkin saat ini orang-orangku sedang menghajar ayah dan anak itu. Kurang ajar! Bisa-bisanya mereka menggigit tangan orang yang memberinya makan!” ucap Ayhner geram.


“Aku harap Sebastian dihukum mati serta putrinya dikirim ke tempat pelac*r*n. Agar dia bisa mengingat betapa dendamku padanya.” Ucapan Shelia sontak membuat Ayhner merenggangkan pelukannya.


“Itu terlalu kejam, Shelia. Aku tidak sekejam itu,” ucap Ayhner membelai lembut rambut istrinya.


“Aku marah. Akibat perbuatan ayahnya, kita hampir menderita. Beberapa benda peninggalan almarhum orangtuamu juga hampir disita oleh bank. Bagaimana aku bisa bersabar sementara orang-orang itu menyulitkanmu!”


“Biar itu menjadi urusanku saja. Kau tidak perlu ikut memikirkan ini. Jaga kesehatanmu, itu sudah cukup bagiku.”


Saat tengah berbicara dengan Shelia, Ayhner dikejutkan dengan panggilan dari anak buahnya.

__ADS_1


“Ya, kenapa?”


“Mereka sudah saya temukan, Tuan.”


“Beri dia pelajaran. Seret Sebastian ke kantor polisi. Dan biarkan putrinya itu tersiksa dan kelaparan.”


“Baik, Tuan.” Ayhner menutup panggilannya.


“Sudah benar-benar ditemukan?” tanya Shelia lega.


“Sudah. Kita tunggu saja kabar selanjutnya.”


 


*****


 


“Seret dia keluar! Dia sudah tidak berhak menempati rumah ini!” teriak seorang pria bertubuh tinggi besar dengan wajah yang sangat mengerikan.


Valeri yang masih jatuh tersungkur di lantai, mencoba mencerna apa yang terjadi dengan dirinya beberapa waktu belakangan ini. Ayahnya diburu karena dianggap merugikan keluarga Ayhner Hamilton.


Dan saat ini, semua aset miliknya disita oleh pihak keluarga Hamilton. Rumah, kendaraan dan beberapa surat berharga, pun ikut diambil paksa oleh orang-orang suruhan Ayhner Hamilton.


“Dasar kurang ajar! Bilang pada bosmu kalau aku akan membuat perhitungan dengannya!” teriak Valeri marah.


“Tutup mulutmu, Nona. Jika saja bukan karena belas kasihan Tuan Muda, aku yakin kau dan ayahmu sudah menjadi mayat!”


“Berani sekali kau! Apa buktinya jika ayahku mencuri? Hah? Ini hanya ulah wanita sialan itu kan yang sudah menyebar cerita penuh kebohongan!”


Plakk...!


Pria berwajah menakutkan itu pun menampar keras wajah Valeri. Kali ini sangat keras, hingga membuat Valeri benar-benar jatuh dan pusing. Bau amis seketika terasa di indra penciumannya.


Valeri tertawa getir. Bisa-bisanya anak buah Ayhner memperlakukannya seperti ini. Padahal dulu Valeri adalah kesayangan Tuan Besar.


“Jangan sembarang menyebutnya wanita sialan. Dia adalah istri dari Tuan Muda yang kami hormati. Berbeda denganmu yang hanya orang miskin rendahan!”

__ADS_1


“Jika suatu hari nanti ayahku terbukti tidak bersalah, orang pertama yang aku cari adalah kau. Akan aku patahkan tanganmu karena berani menyakiti ayahku!” ucap Valeri geram.


Valeri masih berada di dalam rumahnya. Sedangkan ayahnya sudah berada di mobil orang suruhan Ayhner. Tangan kakinya diikat. Mata ditutup dan mulut disumpal. Bukankah ini terlalu berlebihan.


“Silahkan saja, Nona. Sebab setelah ini ayahmu akan ditembak mati oleh Tuan Ayhner sendiri.”


“Omong kosong!”


Pria itu tertawa keras begitu juga dengan beberapa temannya.


“Kau boleh berharap sesukamu. Tapi yang jelas, ayahmu akan tetap ditembak mati, Nona Valeri.” Pria itu mendekati Valeri dan mencengkeram kuat rahang Valeri.


“Kau sangat cantik tapi sayangnya kau sangat berisik!”


Valeri berontak tapi pria itu justru semakin mendekapnya erat.


“Lepaskan!”


“Kau tahu kalau kau itu cantik. Kenapa kau tidak membuat kesepakatan dengan Tuan Ayhner. Kau tahu istrinya lumpuh, bukan? Bisa saja dia membutuhkan pelampiasan pada wanita secantik dirimu. Kenapa kau tidak mencoba merayunya?”


Valeri tertegun di tempatnya. Mungkin ucapan orang ini ada benarnya. Setelah ini, Valeri mungkin bisa datang ke rumah Ayhner dan meminta kebebasan ayahnya.


“Kenapa? Kau tertarik menggoda Tuan Ayhner?” tanya orang itu.


Gadis berambut panjang itu pun terdiam. Mana mungkin dia bisa bernegosiasi dengan Ayhner. Pria itu sangat dingin dan kejam. Mana dia berani mendatangi rumah Ayhner dan meminta kebebasan ayahnya.


“Aku akan datang meminta kebebasan ayahku. Ayahku tidak bersalah dalam hal ini. Ini murni jebakan!” ucap Valeri sedikit putus asa.


Apapun itu akan Valeri lakukan untuk membebaskan ayahnya. Meskipun seumur hidup harus menjadi budak Ayhner.


“Lakukan saja, Nona. Jika kau yakin ayahmu tidak bersalah, maka kau pasti akan menang.” Valeri terdiam.


Orang ini benar. Bukankah Tuhan selalu berpihak pada orang yang benar?


“Tunggu apa lagi, Nona. Aku sudah memberimu saran. Aku pastikan hidupmu tidak akan mudah setelah hari ini. Tuan Ayhner bukan orang yang bisa ditebak. Ayahmu bisa mati kapan saja dan hidupmu tidak akan pernah tenang karena berhubungan dengan rentenir!”


“Aku akan datang kerumahnya saat ini juga!”

__ADS_1


***


Ramaikan ya... Di lapak satunya... 🥰 🥰 Jangan lupa komennya ya...


__ADS_2