
Bantu like ya temen-temen, pembacanya ini diatas 150 perhari. Tapi like nya tidak sampai 15 orang.
Sedih akutuuu...
************
Sejak pagi itu Arina selalu datang kekantor Marvin. Sekedar mampir atau bahkan membawakan makan siang untuk Marvin. Terkadang mereka juga makan bersama. Ini sudah berlaku lebih dari sebulan.
Tentu saja itu tanpa sepengetahuan Marinka.Dan Leo mempunyai andil besar untuk itu agar semuanya tidak terbongkar.
Bukan karna Marvin suka, tapi lebih kepada tidak ingin memperkeruh keadaan. Dia tidak ingin Marinka terganggu. Dan dia juga tidak bisa melarang Arina. Gadis itu sudah dewasa dan sangat keras kepala. Tidak seperti Arina yang dikenalnya dulu. Mungkin karna statusnya saat ini membuatnya lebih berani dan tidak bisa dilarang. Dia seperti sedang merasa menjadi seorang putri yang segala keinginannya harus terpenuhi.
Seperti siang ini, Arina datang kembali membawa banyak makan siang. Ditatanya semua makanan kesukaan Marvin diatas meja. Sementara Marvin berkali-kali menggelengkan kepalanya dan memijat pangkal hidungnya begitu pusing memikirkan cara agar Arina tidak selalu datang.
"Cepatlah kak nanti keburu dingin ". Ucap Arina riang seperti tak bersalah sama sekali mendatangi suami orang.
" Arina.. Seharusnya kau tidak perlu datang lagi. Sudah ada yang menyiapkan makan siangku ". Ucap Marvin dari balik meja kerjanya.
" Siapa? Bahkan istrimu saja tidak melakukannya. Biarkan aku yang melakukan ini untukmu ". Ucapnya manis.
" Aku harap ini terakhir kalinya. Aku tidak mau semua pegawai disini membicarakanmu". Ucap Marvin sedikit memohon.
"Aku tidak janji kak, atau kau takut istrimu tau tentang kedatanganku yang hampir tiap hari? Jika kau takut padanya aku bisa meminta izin padanya sekarang juga ". Ucap Arina dengan nada sedikit mengancam. Arina mulai mendekati meja Marvin dan menyadarkan tubuhnya dimeja itu sehingga mereka bisa saling berhadapan.
" Hentikan.... Jangan macam-macam. Aku tidak mau Marinka salah paham". Marvin mulai gusar. Arina bisa saja berbuat nekat.
"Bukankah itu baik. Jika dia tau dia bisa meninggalkanmu dan kita bisa menikah. Bukankah kau pernah berjanji akan membahagiakanku? ". Arina menagih janji.
" Itu dulu sebelum kau menghilang. Sekarang sudah berbeda Arina. Jangan mengungkitnya. Keadaannya sudah sangat jauh berbeda. Kumohon mengertilah ". Suara Marvin tertahan.
" Aku mengerti kak, aku hanya ingin membebaskanmu dari pernikahan yang tak benar ini. Mereka hanya mementingkan diri mereka sendiri. Membuatmu seolah-olah harus membalas budi mereka ".
Bersamaan dengan kalimat terakhir itu pintu terbuka. Betapa terkejutnya Marvin mendapati istrinya berdiri diambang pintu.
" Ma..Marinka... ". Marvin tercekat. Sedangkan Marinka menatap nanar pada dua orang didepannya. Menurutnya pemandangan yang sedang dilihatnya itu sangat kurang pantas.
Marvin yang sedang duduk dikursinya sedangkan ada seorang wanita dihadapannya bersandar pada meja kerjanya.
"Ah apa kabar kakak ipar, senang bertemu denganmu. Sudah lama aku ingin mememuimu tapi kak Marvin melarangku ". Arina lalu berjalan mendekati Marinka dengan gayanya yang sok akrab.
" Apa kau Arina? Akhirnya kita bertemu ". Ucap Marinka mencoba tersenyum tapi terlihat kaku sekali.
" Tepat sekali, aku Arina. Untung kakak datang, kita bisa makan siang bersama, lihatlah aku membawa banyak makanan pedas kesukaan kak Marvin. Kau bisa ikut mencicipi masakanku ". Ucapnya sambil menunjuk hidangan dimeja yang ada diantara sofa itu.
" Ah.. Kau pandai memasak rupanya... ". Ucap Marinka sambil melihat kearah Marvin yang sudah mulai gusar.
__ADS_1
" Tentu saja aku hampir tiap hari kesini sudah sebulan ini, apa kak Marvin tidak menceritakan padamu? ". Arina mulai memprovokasi.
" Benarkah? Tapi dia tidak pernah memberitahuku..... ".
******
Mereka bertiga menghabiskan makanannya dengan canggung. Marinka rasanya ingin memuntahkan semua makanan itu jika dia tidak berfikir itu sangat tidak sopan. Apapun yang terjadi didalam hatinya saat ini dia berusaha menahannya sekuat tenaga.
" Baiklah kak aku permisi dulu,, terima kasih sudah mau mencicipi masakannku ". Ucap Arina manis namun sarat keangkuhan ditiap kata yang keluar dari mulutnya.
" Aku yang berterima kasih, kau sudah mau repot memperhatikan suamiku, bahkan sampai sebulan ini ". Sarkas Marinka.
" Tak masalah, aku tidak keberatan jika kau juga tak keberatan, Baiklah aku pergi ". Arina lalu berjalan dan menghilang dibalik pintu.
Marvin menghembuskan nafas panjang. Rasanya dia seperti susah bernafas beberapa menit lalu.
" Marinka.. Aku bisa jelaskan ".
" Aku sudah pernah mengatakan kepadamu, aku tidak suka dibohongi. Kenapa kau berbohong? ". Marinka mulai berkaca-kaca.
" Sayang.. Aku tidak bermaksud begitu, percayalah aku sudah berkali-kali menyuruhnya untuk tak datang tapi dia keras kepala ". Jelas Marvin.
" Tadinya aku ingin memberimu kejutan tapi kenapa aku yang terkejut ". Marinka tertawa getir.
" Apa saja yang kalian lakukan disini? ". Marinka menajam.
" Apa kau bisa dipercaya setelah semua yang terjadi, kau sengaja berbohong padaku sebulan ini Marvin ".
" Aku bersumpah Marinka, percayalah ". Marvin berusaha menggapai tangan Marinka namun Marinka menepisnya.
" Aku akan pulang... ". Marinka lalu beranjak pergi. Namun saat pintu terbuka dia bertabrakan dengan Leo disana. Marinka menatap tajam Leo dengan wajah berurai airmata.
" Kau sama saja.... ". Ucap Marinka lalu pergi. Sedangkan Leo mematung tak mengerti yang terjadi. Namun saat melihat atasannya yang kacau dia mengambil kesimpulan bahwa telah terjadi sesuatu disini.
" Ada apa dengan Marinka? Apa terjadi sesuatu dengan kalian? ". Tanya Leo tanpa berbasa basi.
" Dia kesini saat Arina juga datang ". Jawab Marvin cepat.
" Astaga... Lalu apa yang terjadi? Apa terjadi keributan? ". Tanya Leo penasaran.
" Tidak selama Arina disini, tapi kau pasti tau yang terjadi setelah Arina pulang. Dia mencurigaiku berbuat macam-macam ". Ucap Marvin frustrasi.
" Lalu apa yang kau tunggu, kejarlah ". Ucap Leo kesal.
*****
__ADS_1
Marinka duduk dikursi taman, entahlah dia bingung harus melakukan apa. Airmatanya pun tak henti turun sampai-sampai dia lelah mengusapnya. Dia menjadi pusat perhatian orang yang lalu lalang disitu.
Saat sedang larut dalam kesedihan tiba-tiba ada seseorang yang memberinya tisu. Marinka terkejut dan menoleh kearah si pemberi tisu.
"Thomas...".
"Apa yang kau lakukan disini? Apa kau ada masalah? ". Tanya Thomas khawatir.
" Tidak... Aku baik-baik saja. Terima kasih ".ucap Marinka sambil menerima tisu tersebut.
" Jangan berbohong kau sedang tidak baik Marinka ".
" Jangan hiraukan, sedang apa kau disini? ".
" Aku bersama Emily, dia sedang berbelanja di mini market itu ". Jawabnya sambil menunjuk mini market diujung jalan. Marinka hanya mengangguk.
" Apa kau sakit? Kau terlihat lebih kurus dari terakhir kali kita bertemu, kau pucat sekali".
"Aku tidak apa - apa, terima kasih sudah mengkhawatirkanku. Kembalilah pada Emily. Jangan sampai membuatnya menunggu ". Ucap Marinka.
" Apa kau mau kupesankan taksi untuk pulang? ".
" Tidak perlu, aku membawa mobil, trimakasih Thomas ". Tolak Marinka halus.
" Tapi aku khawatir terjadi sesuatu, kau benar-benar terlihat pucat. Tidak baik jika kau menyetir marinka".
"Jangan berlebihan Thomas. Pergilah aku baik-baik saja ". Ucapnya tersenyum.
" Baiklah jika begitu, aku akan pergi, maaf tidak bisa menemanimu ". Sesal Thomas.
" Aku mengerti, Kembalilah Pada Emily, dia pasti mencarimu ". Thomas mengangguk lalu pergi meninggalkan Marinka. Sesekali dia menengok kebelakang memastikan Marinka tidak apa-apa, seolah tidak tega meninggalkan wanita itu sendiri. Marinka hanya tersenyum dengan bibir pucatnya sambil melambai hingga Thomas menghilang kedalam mini market itu.
Seketika dada Marinka sesak. Airmatanya kembali menetes. Dulu dia sangat memimpikan bisa hidup bersama dengan lelaki itu, tapi takdir berkata lain. Dan kenyataannya sekarang Marvin sudah mulai membohonginya.
Drtt..Drtt
Panggilan dari bibi mouli. Tidak biasanya bibi mouli menelepon.
"Ya bibi.. Ada apa ".
" Dimana kau? bisakah kau kerumah sekarang?".
"Iya bibi.. Aku sedang arah pulang. Aku akan kesana ".
" Baiklah,, aku menunggumu. Ada hal penting yang harus aku katakan".
__ADS_1
*********