
Pagi ini Marinka berangkat lebih awal guna menghindari Marvin. Dia meninggalkan rumah saat lelaki itu masih terlelap. Meninggalkan sandwich tuna kesukaan Marvin. Lalu pergi begitu saja. Dengan mengendarai taksi akhirnya tidak sampai satu jam dia tiba dikantor papanya. Berusaha mengesampingnya perasaannya yang masih terluka karna kebohongan Marvin.
Namun saat memasuki area kantor dia bingung banyak mata pegawai yang menatapnya dengan tatapan tidak biasanya. Entah apa yang salah dengan dirinya. Hingga sampai diruangannya catty menyambutnya dengan tatapan yang sama seperti pegawainya .
"Catty,, kenapa kau menatapku seperti itu? Pegawai yang lain juga sama. Aku jadi tidak nyaman".ucap Marinka resah.
" Aku biasa saja, nona kan hanya ditatap biarkan saja, jangan dihiraukan". Jawab sekretarisnya itu mencoba santai.
" Kau bilang jangan dihiraukan, tapi tatapanmu juga sama dengan mereka ". Ucap Marinka kesal.
" Sudahlah jangan dipikirkan ".
" Apa ada yang salah dengan baju atau riasanku? ".
" Tidak nona, semua terlihat baik". Jawab catty tersenyum.
Tiba-tiba Ponsel catty bergetar. Ada pesan masuk dari Leo, asisten dari suami atasanya itu.
" Jangan biarkan Marinka membaca surat kabar, melihat televisi atau media massa apapun ".
" Baiklah Leo..".
Setelah membalas pesan Leo, catty menyimpan kembali ponselnya.
"Ada apa catty? Siapa yang menghubungimu? Apa kekasihmu? ".
" Ah kau bercanda nona, jika kekasihku seperti orang ini maka akan aku masukan dalam karung dan kulempar keujung dunia ".
" Jahat sekali kau, memangnya siapa dia, aku jadi penasaran".goda Marinka.
"Jangan penasaran nona, nanti kau pasti terkena serangan jantung ". Ucapan catty membuat Marinka tertawa lepas, melupakan masalah yang sedang mengganggu pikirannya.
Tiba-tiba Ponsel Marinka bergetar tanda notifikasi sebuah portal berita online. Marinka terkejut lalu membuka Headline satu per satu.
Hatinya berdenyut membaca beberapa Headline itu.
"Skandal putra mahkota Sanders...... ".
" Marvin Sanders bertemu dengan wanita.. ".
Dan banyak lagi judul Headline yang Marinka baca. Dari beberapa ulasannya banyak yang kasihan padanya. Banyak pula yang bersyukur atas kejadian itu. Dan mulai menghubung hubungkan dengan pernikahan Balas budi yang Marvin dan Marinka lakukan.
Mata Marinka berkaca-kaca.
"Sejak kapan berita ini muncul?".
Ekspresinya datar. Catty gugup menjawabnya.
" se.. Sejak.. Se.. Semalam nona ".
" Pantas beberapa orang menatapku aneh pagi ini. Aku seperti istri yang ditinggal selingkuh dan aku tidak tau apa-apa sedangkan orang lain tau semuanya". Ucap Marinka bergetar mengingat dua hari ini Marvin sangat berbeda padanya semenjak kembali dari panti.
Marinka kembali menatap beberapa foto yang tercetak disana. Beberapa diambil saat dipanti. Mereka terlihat berbicara didekat kolam, lalu saat makan bersama dan tunggu..
Ada satu foto dengan latar Rumah Sakit.
Sesuai keterangannya ini diambil kemarin siang. Berarti ini yang membuat Marvin berbohong padanya. Dadanya semakin sesak memikirkan ini.
"Siapa wanita ini.... ". Gumam Marinka putus asa. Berkali-kali dia menggigit bibir bawahnya agar tidak menangis lagi. Dia sungguh sudah lelah.
" Nona.. Apa pertemuan hari ini akan dilanjutkan? ". Catty bertanya sangat hati-hati.
Marinka mengangguk.
" ini pertemuan penting, aku tidak mau mengecewakan siapapun. Siapkan berkasnya, kau ikut denganku ". Ucap Marinka tegas. Dia sudah tidak mau ambil pusing dengan berita itu.
__ADS_1
Marinka dan catty tampak sedang memasuki restoran untuk membicarakan pekerjaan. Dia akan bertemu dengan beberapa orang penting disana.
" Tuan James, maaf membuat anda menunggu ". Ucap Marinka sopan.
" Tidak apa nona Marinka, kami belum lama ". Jawab lelaki itu.
Marinka mendudukkan tubuhnya dikursi itu.
" Bisa kita mulai sekarang? ".
" Sebentar, satu temanku lagi belum datang. Tanpa dia kita tidak bisa menjalankan proyek ini dengan baik. Kami sudah lama bekerja sama". Jelas Tuan James.
"Baiklah kita bisa menunggunya ". Ucap Marinka setuju. Mereka mulai pembicaraan ringan dulu sebelum memulai pada topik pekerjaan. Sampai akhirnya orang yang ditunggu tiba juga.
" Maaf, membuat kalian menunggu lama ".
Marinka mengenali suara itu. Ternyata Thomas yang datang.
" Thomas,, kau disini? ".
" Ah Iya Nona, aku lupa kalau kalian saling mengenal. Apa ini akan mengganggumu? Tapi kuharap kau profesional ". Ucap Tuan James.
" Tidak apa-apa, aku bisa profesional ". Kata Marinka tersenyum. Thomas mengulurkan tangan pada Marinka. Marinka pun membalas. Akhirnya mereka membicarakan masalah pekerjaan dengan santai.
Tak butuh waktu lama dua jam cukup untuk membicarakan kesepakatan kerja. Hingga akhirnya Tuan James undur diri terlebih dahulu. Dan kini tinggal Marinka dan Thomas dimeja itu. Catty memilih berada dimeja lain.
" Bagaimana kabarmu Marinka? Lama tidak berjumpa ". Sapa Thomas sambil menyesap kopinya.
" Aku baik Thomas, terima kasih. Bagaimana kabar Emily? ".
" Dia baik tapi dia sekarang lebih senang dirumah. Dia sudah jarang kekantor. Jadi aku yang menyelesaikan semua pekerjaannya ".
" Bukankah itu tujuan awalmu? ". Ucap Marinka sinis.
" Jangan membuatku bersalah padamu Marinka. Bagaimana aku harus membayar rasa bersalahku padamu? ". Tanya Thomas tulus.
" Ya.. Aku bersungguh-sungguh ". Jawab Thomas mantap.
" Baiklah.. Jika itu maumu maka aku mohon jangan sakiti hati Emily. Perlakukan dia dengan baik, jangan melukainya". Suara Marinka bergetar.
"Aku mengerti, aku juga minta maaf atas perlakuanku padamu waktu itu. Aku hanya sedikit tidak bisa melepasmu saja. Aku lepas kendali dan sungguh aku menyesalinya sampai saat ini. ".
" hmmm.. Lupakan saja. Kita bisa menata hidup kita masing-masing setelah ini. Kita juga bisa berteman".
"Maaf tapi.. Bolehkah aku bertanya? ". Ucap Thomas hati-hati.
" Tentang apa? ". Marinka mendelik.
" Tentang kabar suamimu. Apa berita itu benar? Bagaimana dia memperlakukanmu? ". Thomas berkata serius.
" Sudahlah,, jangan dibahas lagi. Aku harus kembali kekantor". Marinka mencoba menghindar.
"Baiklah.. Jika kau tidak mau berbicara padaku. Bolehkah aku mengantarmu? ". Thomas menawarkan.
" Tidak perlu. Aku bersama catty ".
" Baiklah berhati-hatilah ". Setelah itu mereka memisahkan diri.
******
Marinka berjalan menuju ruangannya. Terlihat Leo ada disana. Berdiri tepat didepan pintu ruamgannya. Sudah pasti Marvin ada didalam sana. Marinka menghembuskan nafas berat.
Sesungguhnya dia sedang tidak ingin berdebat. Tapi sepertinya takdir berkata lain. Dengan langkah gontai Marinka memasuki ruangannya setelah Leo membukakan pintu.
Leo pun memilih diam tak mengatakan apapun. Karna dia mengetahui sedikit banyak yang terjadi.
__ADS_1
Saat memasuki ruangan Marinka ditatap tajam oleh Marvin.
"Dari mana saja kau? ".
" Aku ada pertemuan dengan Tuan James hari ini ". Jawab Marinka singkat.
" Bukankah Tuan James sudah kembali beberapa jam lalu. Kenapa kau tak kembali? ".
" Aku masih berbicara sebentar dengan Thomas tadi". Marinka berucap dingin.
"Apa jika aku tidak bertanya kau tidak akan mengatakan pertemuanmu dengannya? ". Ucap Marvin sedikit meninggi.
" Ini hanya masalah pekerjaan. Bukankah ini wajar? ". Marinka mulai tak terima perlakuan Marvin.
" Tidak wajar jika menelisik dari masa lalu kalian ". Marvin menajam.
" Tapi kami hanya mengobrol saja, tidak lebih. Catty ada bersamaku ". Marinka membela diri.
" Apa begini caramu bersikap? Keluar dari rumah tanpa berbicara padaku. Lalu kau berani bertemu dengan Thomas. Kau lupa perlakuannya padamu beberapa waktu lalu, hah? ". Marvin semakin gusar.
Marinka terdiam. Mengingat tadi pagi dia Buru-buru pergi tanpa berpamitan pada Marvin, itu juga tidak benar.
" Lalu bagaimana denganmu? Aku pikir kau kesini untuk membicarakan alasanmu berbohong padaku kemarin ". Marinka memberanikan diri menatap Marvin.
Apa...?
Marvin melupakan tujuan utamanya mendatangi Marinka. Marvin mengusap kasar wajahnya.
" Kemarilah... ". Suara Marvin melembut sambil menepuk-nepuk sofa mengisyaratkan pada Marinka untuk duduk bersamanya. Marinka sebenarnya enggan tapi dia juga tidak mau memperkeruh keadaan. Akhirnya Marinka mendudukkan tubuhnya disofa yang sama.
" Katakanlah... ". Ucap Marinka dingin.
" Dia sahabatku dipanti. Kami terpisah lama. Kebetulan kemarin kami bertemu jadi kami sedikit melepas rindu saja ". Ucap Marvin sedikit berbohong.
" Lalu kemarin? Kau pergi tergesa-gesa karna menemuinya dirumah sakit kan? ".
" Dia dilarikan kerumah sakit tiba-tiba. Itu membuatku sedikit khawatir.
" Kau bisa mengatakannya padaku, jika kau jujur aku tidak akan berfikiran buruk padamu. Dan juga berita yang keluar sangat berlebihan sekali. Aku sampai kehilangan mukaku ". Ucap Marinka kesal.
" Baiklah maafkan aku ".
" Apa kau tidak melupakan sesuatu? ". Marinka mendelik.
" Melupakan apa? ".
" Ceritamu. Jika sampai kau berbohong mengenai Ceritamu ini, aku tidak akan memaafkanmu. Kau tau, kau orang yang selalu kupercaya. Jangan sampai mengkhianati kepercayaanku ".
" Aku mengerti ". Ucap Marvin lirih. Dalam hatinya kini sungguh sedang berperang tentang perasaannya sendiri. Dia tidak mau mengkhianati Marinka. Tapi perasaannya pada Arina yang sempat hilang mendadak muncul kembali seiring kedatangannya.
Dan itu sungguh membuatnya bingung.
Marvin memeluk Marinka erat. Dia merasa menjadi pecundang saat ini. Menyakiti dua wanita sekaligus.
"Marvin...".
"Hmmm... ".
" Jika suatu hari nanti kau ingin meninggalkanku, katakanlah jauh-jauh hari agar aku bisa mempersiapkan hatiku". Suara Marinka tercekat.
"Tidak akan, aku tidak akan meninggalkanmu. Kau bisa pegang janjiku. Kau bisa menagihnya jika aku melupakannya". Ucap Marvin sedikit bergetar sambil mencium puncak kepala Marinka . Marinka mengurai pelukannya dan menatap suami didepannya itu. Mata keduanya sama-sama menyimpan kepedihan.
" Aku tidak akan menagihnya. Jika kau berkhianat maka aku akan pergi darimu tanpa menagihnya ". Mata Marinka berkaca-kaca , Marvin membingkai wajah Marinka dengan kedua tangannya. Lalu mengecup bibir Marinka lembut.
" Itu tidak akan terjadi".
__ADS_1
*********