
Malam itu Leo telah mengintai tempat penyekapan Arina. Leo dibantu tiga orang lainnya sedang mengendap-endap mencari titik aman untuk menolong Arina. Sesuai informasi dari orang kepercayaannya, Jimy meninggalkan tempat itu sore tadi dengan dua orang Bodyguardnya. Itu artinya Arina dijaga oleh satu atau dua orang saja. Dengan berhati-hati Leo menyisir tempat itu. Dari tempat persembunyiaannya Leo bisa melihat dua orang yang sedang tertidur. Sepertinya mereka telah menghabiskan beberapa botol minuman. Dengan cepat Leo dan beberapa orang temannya memukul tengkuk orang itu hingga akhirnya mereka terkulai dilantai.
Dua orang yang lain menyeret tubuh lelaki itu untuk disembunyikan dibagian lain dari gudang itu lantas mengikat tangan dan kakinya. Sementara Leo masih menyisir tempat tersebut mencari keberadaan Arina. Hingga sampai disudut ruangan dia melihat Arina tertidur dilantai yang dingin tak beralaskan apapun.
Leo berdecak kesal menatap wajah Arina dari jarak dekat. Menyadari Arina kini pucat pasi dengan banyak luka diwajahnya. Entah lelaki macam apa Jimy hingga tega menghajar wanita seperti ini. Leo hendak menggendong Arina namun wanita itu terbangun dan terkejut melihat beberapa pria didepannya dengan baju serba hitam.
"Si.. Siapa kalian? ". Tanya Arina gugup. Mendapati beberapa orang dengan pakaian serba hitam dengan wajah tertutup hanya menyisakan mata saja.
" Tenanglah, ini aku Leo. Aku akan membawamu pergi dari sini ". Bisik Leo sambil membuka penutup wajahnya kemudian menutupnya kembali setelah Arina meyakininnya.
" Leo.. Benarkah itu kau?". Ucap Arina tak percaya. Tangis harunya pecah. Arina memeluk Leo erat sampai-sampai Leo tak bisa bernafas.
"Singkirkan tanganmu, aku tidak bisa bernafas. Kau mau membuat kita terbunuh disini? Kita harus cepat keluar dari sini". Geram Leo kesal.
" Maafkan aku, aku terlalu bahagia ". Ucap Arina berbinar.
" Kau bisa berjalan? Atau aku perlu menggendongmu? ". Tanya Leo kemudian.
" Bisakah kau menggendongku? Aku sangat lemas. Aku belum makan ". Ucap Arina memelas.
" Baiklah ".
AKhire Leo mengggendong Arina ala bridal style. Arina melingkarkan tangan mungilnya pada leher Leo. Pria itu bergerak sangat cekatan seolah tak terusik oleh berat badan Arina. Dari jarak yang begitu dekat Arina bisa mencium aroma lelaki itu. Aroma yang sangat menenangkan. Aroma yang membuatnya nyaman. Arina lantas mengeratkan tangannya agar tidak terjatuh, hingga wajahnya tepat menempel pada ceruk leher lelaki itu. Membuat Leo sedikit hilang konsentrasi.
Leo menurunkan Arina setelah sampai dimobil. Dan menyuruhnya masuk lalu melajukan mobilnya cepat sebelum Jimy kembali datang. Terlihat Leo begitu fokus menyetir. Sedangkan Arina sudah kembali terlelap karna kelelahan. Leo yang melihat posisi tidur Arina yang tak nyaman lantas meminggirkan mobilnya sebentar. Menurunkan sandaran kursinya agar Arina tidur sedikit nyaman. Kemudian melajukan kembali mobilnya.
*******
Leo menggendong Arina yang tertidur dimobilnya. Dia terpaksa membawanya keapartemennya. Karna dia juga bingung mau membawa Arina kemana. Jika dibawa kepanti maka bibi grace akan khawatir. Jika keapartemennya Marvin maka sama saja mencari masalah. Maka disinilah akhirnya mereka. Leo membaringkan tubuh Arina yang tak terusik sama sekali.
"Dia ini mati atau apa. Kenapa bisa tidur senyenyak ini. Sedangkan tubuhku pegal semua ". Gerutu Leo. Leo menyelimuti tubuh Arina kemudian dia duduk disofa sambil merenggangkan tangan dan kakinya yang terasa pegal. Dia pikir akan sangat dramatis saat membebaskan Arina. Tapi ternyata sangat mudah sekali. Mungkin kali ini Jimy begitu lengah sehingga membiarkan Arina hanya dijaga dua orang yang malas disana.
******
Arina mengerjabkan matanya menyesuaikan penglihatannya. Setelah melihat sekelilingnya akhirnya dia lega juga. Dia sudah bisa menyimpulkan kalau ini apartemen Leo. Lelaki yang membawanya semalam. Hal itu diperkuat dengan adanya foto Leo dimeja tak jauh dari tempatnya saat ini.
Arina menuruni tempat tidur hendak keluar mencari Leo. Ternyata lelaki itu tertidur diruang tamu. Arina sedikit menggoyangkan bahu Leo agar lelaki itu terbangun.
"Leo.. Bangunlah ". Ucap Arina sambil terus menggoyang-goyangkan badan Leo. Leo sedikit menggeliat kemudian membuka matanya dengan malas.
__ADS_1
" Kau sudah bangun? ". Tanya Leo setelah kesadarannya kembali penuh. Kemudian dia mendudukkan tubuhnya.
" Sudah, apa aku boleh menumpang mandi? ". Tanya Arina.
" Tentu saja, mandilah aku akan pesanan kau sarapan ". Ucap Leo. Arina mengangguk kemudian bergegas mandi. Dia begitu gembira menemukan air. Dia merindukan mandi dan berendam beberapa hari ini.
Tiga puluh menit berlalu. Leo sudah mandi dikamar mandi satunya. Sekarang dia sedang menyiapkan sarapan yang tadi dipesannya.
"Apa yang dia lakukan? Apa dia tertidur? ". Gerutu Leo kemudian melangkahkan kaki kekamar mandi yang berada dikamarnya.
" Apa kau kembali tidur? Cepatlah! Kau mau Sarapanmu dingin? ". Teriak Leo sambil mengetuk pintu kamar mandi dengan keras.
" Iya tunggu ". Teriak Arina dari dalam sana.
" Dasar wanita, selalu saja lama ". Gerutunya lalu kembali menuju ke dapur. Tak lama Arina datang dengan menggunakan jubah mandi warna merah maroon. Dengan rambutnya yang basah seperti itu Arina terlihat manis. Leo berdehem untuk menghilangkan kecanggungan.
" Maaf, aku terpaksa memakai ini, kau tahu kan bajuku kotor dan ada beberapa bagian yang robek ". Ucap Arina pelan takut Leo marah.
"Tak apa. Aku baru saja memesankan baju untukmu. Mungkin tiga puluh menit lagi datang". Ucap Leo santai.
" Apa kau tau ukuran bajuku? Bagaimana jika terlalu lebar atau terlalu kecil? ". Ucap Arina bingung.
" Makanlah perlahan, nanti kau tersedak ". Ucap Leo terkejut melihat cara makan Arina yang seperti orang tidak makan berhari-hari.
" Aku lapar, mereka tidak memberiku makan dengan benar ". Ucapnya dengan mulut penuh. Leo menatap sedih Arina. Gadis ini sebenarnya baik. Tapi kenapa dia mengacaukan hidup Marvin.
*******
Arina dan Leo menghabiskan waktu dibalkon setelah mereka sarapan. Arina duduk dikursi yang ada disudut balkon itu sedangkan Leo berdiri menumpukan punggungnya pada sandaran besi. Sambil sesekali menghisap batang nikotin.
Arina duduk tidak nyaman karna dia masih menggunakan jubah mandi. Berulang kali dia membetulkan kain yang menutupi tubuh bagian atasnya agar tidak terbuka. Sedangkan kakinya sibuk mengapit kain bagian bawah. Leo yang menyadari itu langsung mengambil Ponsel dari saku celananya.
" Kenapa bajunya belum kau antar? Apa kau sudah bosan bekerja padaku? ". Ucap Leo tenang,kemudian mematikan ponselnya.
" Apa aku boleh bertanya sesuatu? ". Tanya Arina tiba-tiba.
" Silahkan ". Ucap Leo singkat.
" Darimana kau tau disekap? Kenapa menolongku? Siapa yang menyuruh? Tidak mungkin kak Marvin menyuruhmu. Dia sangat membenciku sejak kejadian itu ". Ucap Arina murung.
__ADS_1
" Tapi pada kenyataannya Marvin yang menyuruhku ". Jawab Leo sambil membuang asap nikotin itu keudara.
" Apa? Tapi kenapa? ". Ucap Arina sedih. Dia tak percaya setelah semua yang dilakukan ternyata Marvin masih peduli padanya.
" Aku memberitahukan padanya bahwa kau disekap. Dan dia terlihat khawatir. Dan menyuruhku membebaskanmu ".
" Sejak kapan kau tahu aku disekap? ". Tanya Arina bingung.
" Sebenarnya aku tau kau disekap sejak hari pertama kau menghilang. Aku disana saat pria itu membawamu dalam keadaan tak sadarkan diri ". Ucap Leo santai membuat Arina terperangah tak percaya.
" Kenapa tidak menolongku, kau membiarkanku tersiksa berhari-hari".kesal Arina.
" Dasar bodoh. Aku bisa mati saat itu juga. Ada sekitar enam orang yang malam itu membuntutimu ". Jelas Leo membuat Arina mencebikkan bibirnya.
" Sebenarnya apa yang membuat Jimy menyekapmu? ". Tanya Leo penasaran.
" Itu... ".
Belum sempat Arina menjawab bel berbunyi. Leo bergegas menghampiri tamu yang datang. Sejurus kemudian Leo datang kembali menyerahkan papper bag pada Arina.
" Pakailah, mungkin sedikit terlalu besar ". Ucap Leo. Arina menerima papper bag itu kemudian mengernyitkan dahinya. Kemudian menatap Leo.
" Kenapa? ". Tanya Leo heran.
" Apa kau sangat menyukai warna maroon? ". Tanya Arina sambil melipat bibirnya menahan senyum.
" Apa maksudmu? ". Tanya Leo sedikit kesal karna belum bisa menangkap pertanyaan Arina.
" Lihatlah.. ". Arina memperlihatkan papper bag itu. Baju pilihan Leo berwarna maroon. Kemudian Arina mengisyaratkan dengan telunjukknya. Arina menunjuk jubah mandi nya, kemudian T-shirt yang dipakai Leo dan beberapa benda lain dirumah itu. Keduanya akhirnya tertawa. Leo menggeleng pelan karna dia tak menyadari itu.
" Maaf, apa kau keberatan? ". Tanya Leo.
" Tidak,, aku suka,, terima kasih ". Ucap Arina tulus disertai senyum manisnya yang entah kenapa tiba-tiba menggetarkan hati Leo.
Arina beranjak dari tempat itu. Sementara Leo masih berdiri disana sambil memegangi dadanya yang tiba-tiba terasa aneh.
" Sepertinya aku harus sedikit menjaga jarak dengannya. Berdekatan dengannya membuat jantungku jadi tak normal ".
******
__ADS_1