Pilihan Terakhir

Pilihan Terakhir
38. Kehilangan


__ADS_3

"Apa kau puas seharian berjalan-jalan dengan mantan kekasihmu. Lalu dengan tak tahu malunya kalian masih melanjutkannya hingga malam ". Ucap Marvin dengan nada tinggi. Membuat Marinka tersentak. Matanya sudah berkaca-kaca.


" Marvin, apa yang kau katakan? ". Ucap Marinka bergetar.


" Aku sudah pernah mengatakan, jangan temui laki-laki itu. Kenapa kau tidak mengerti. Apa kau sengaja ". Ucap Marvin sambil mengguncang bahu Marinka.


" Apa maksudmu sengaja? Kau menuduhku yang bukan-bukan? Tega sekali kau Marvin ". Airmatanya sudah menetes.


" Dari mana kau dapat es krim ini? Juga kue jahe ini. Seingatku kau tidak menyukainya. Apa dia juga yang membelikan untukmu ". Marvin merebutnya lalu melemparnya hingga es krim dan kue itu berantakan. Marinka berlari memunguti kue jahe yang berserakan. Hatinya sakit melihat es krim yang sedari tadi ia nikmati berceceran dilantai.


Marvin seketika tercubit hatinya. Ada apa dengan Marinka? Sampai seperti itu emosionalnya hanya karna kue jahe.


"Kenapa kau membuangnya? Tidak tahukah kau aku begitu ingin memakanya? Hingga aku harus mencoba mencarinya sendiri ". Teriak Marinka.


Bibi Hana hanya mampu menatap iba pada Marinka. Tidakkah Marvin sadar bahwa istrinya itu sedang mengandung. Sudut mata bibi Hana pun terlihat basah. Ia buru-buru menyekanya.


" Jangan berteriak Marinka! ". Ucap Marvin geram.


" Kenapa aku tidak boleh berteriak? Apa hanya kau yang boleh berteriak? Dan ya, kenapa aku tidak boleh bertemu Thomas? Bahkan aku tidak pernah melarangmu bertemu wanita manapun. Bahkan aku juga tak masalah kau makan siang dengan wanita yang kau suka. Apa aku pernah marah padamu? ". Ucap Marinka getir.


" Masalahnya aku tidak pernah menyukai lelaki itu. Apa lagi jika dia berdekatan denganmu ". Ucap Marvin masih dengan amarah. Marinka masih terduduk ditempat yang sama sambil memunguti potongan kue jahe itu.Marvin ikut duduk hendak membawa istrinya berdiri tapi Marinka menepisnya.


" Bahkan aku tidak pernah melarangmu berdekatan dengan Arina". Ucap Marinka pilu dia menangkup wajahnya.


Tak lama pintu rumah utama terbuka. Bibi Mouli dan paman Mike terkejut melihat kue dan es krim berantakan dilantai.


"Apa yang terjadi? ". Bibi Mouli panik lalu menghampiri Marinka.


" Bibi jangan berlebihan dia tidak sedang terluka ". Jawab Marvin malas.


" Apa Maksudmu Marvin? ". Bibi Mouli menatap Marvin tajam.


" Dia baru saja bertemu dengan Thomas. Dan aku kesal akan hal itu ".


" Tapi kau juga tidak dibenarkan melakukan semua itu Marvin. Kau yang membuang makanan itu? ". Hardik paman Mike.


" Ya.. Aku membuang barang pemberian lelaki itu". Jawab Marvin yakin.


" Aku hanya ingin es krim dan kue jahe. Berulang kali aku menghubungimu tapi kau mengabaikan pesanku. Aku akhirnya keluar sendiri dan bertemu Thomas. Ada Emily juga disana ". Ucap Marinka terbata. Berkali-kali dia mengusap kasar airmatanya. Dia merasakan perut bawahnya kram. Sesaat dia mendesis.


" Sejak kapan kau pandai berbohong. Sudah jelas kau hanya berdua. Tadi pagi dan malam ini. Kau jangan mengelak. Aku punya buktinya". Marvin membuka ponselnya dan memperlihatkan foto-foto Marinka dan Thomas.


"Aku bersumpah Marvin ada Emily disana ". Ucap Marinka sambil meringis menahan sakit.


" Jangan berbohong! ". Sentak Marvin sambil mengguncang bahu Marinka.

__ADS_1


" Apa yang kau lakukan! ". Bibi Mouli menepis kasar tangan Marvin. Marinka menggenggam erat tangan bibi Mouli. Tangan Marinka gemetar dan dingin sekali.


" Sayang, kau tak apa-apa? Ada apa denganmu? ". Bibi Mouli khawatir juga dengan paman Mike.


" Apa yang kau lakukan Marvin? Kau menyakiti mereka". Ucap paman Mike lalu mendorong Marvin menjauh. Marvin masih bingung mencerna kalimat paman Mike kali ini. Paman dan bibi memegangi Marinka.


"Ada apa sebenarnya? ". Tanya Marvin ikut panik melihat kepanikan orang didepannya.


"Bibi, perutku sakit. Aku tidak tahan bibi. Rasanya sakit sekali. .. Tolong aku". Marinka mulai meracau tidak jelas. Kepala pusing, lemas, perutnya sakit. Marvin seketika panik.


"Kau kenapa Marinka? Kau sakit apa? ". Marvin hendak mengangkat tubuh Marinka,tapi dia merasakan bagian bawah Marinka lembab.


" Apa ini? Kenapa ada darah? ". Marvin berteriak panik.


"Ayo kita bawa kerumah sakit".


*******


Marvin terduduk lesu dikursi ruang tunggu. Berusaha mencerna yang baru saja terjadi. Kepala tertumpu pada kedua tangannya.


Sementara bibi Mouli hanya mampu menangis terisak dipelukan suaminya. Dia baru mengetahui kehamilan Marinka. Terasa ada batu besar yang menimpa dadanya. Seharusnya dia tidak semarah itu. Seharusnya dia bisa bersama. Toh selama ini Marinka tidak pernah macam-macam. Malah dirinya yang sering membohongi Marinka. Seketika dia membenci dirinya sendiri.


Marvin membuka galeri ponselnya, rahangnya seketika mengeras melihat foto Marinka dan Thomas. Siapa sebenarnya yang mengirim foto itu. Dia membuka kembali beberapa pesan masuk disana. Memang benar Marinka mencoba menghubunginya dan mengirimkan pesan padanya. Tapi pesan itu tenggelam oleh banyak pesan yang lain. Pesan dari Arina tentu lebih banyak.


Wanita itu mencoba menghubunginya namun tak sekalipun Marvin membalasnya. Seketika dia tersulut emosi. Mengingat kenekatan Arina beberapa waktu terakhir.


Pintu ruang tindakan terbuka. Marvin memasang wajah cemas.


" Bagaimana keadaannya? ". Tanya Bibi Mouli.


" Kami harus melakukan kuretase. Nona Marinka mengalami perdarahan ". Jelas dokter Amelia penuh sesal.


" Sejak awal kandungannya memang bermasalah. Tekanan darahnya tidak stabil. Kadang dia juga mengalami stress dan kurang istirahat. Asupan makanannya pun tidak diperhatikan sama sekali. Saya sering memperingatkannya untuk jangan terlalu lelah. Tapi Nona Marinka tidak mengindahkan". Penjelasan dokter Amelia benar-benar memukul telak Marvin. Selama ini dia mengira Marinka baik-baik saja. Pekerjaan yang menumpuk membuatnya sering pulang terlambat.


"Sebenarnya sejak kapan itu terjadi? Kenapa aku tidak tahu? ". Tanya Marvin benar-benar terpukul.


" kehamilannya memasuki usia tiga bulan ".


" Apa..? Tiga bulan dan selama itu aku tidak tau ". Marvin meremas Jantungnya yang terasa nyeri. Suami macam apa dia.


Terlihat dokter Briyan berlari menuju ruang Marinka diperiksa.


" Amelia apa yang terjadi dengan Marinka? ". Ucap Briyan panik.


" Maafkan aku Briyan, aku tak mampu menyelamatkan keponakanmu. Kami harus melakukan kuretase ". Ucap dokter Amelia tercekat sambil mengusap lengan sahabatnya.

__ADS_1


" Keponakanku yang malang ". Lirih Briyan.


" Jadi kau juga tahu Marinka hamil? Dan hanya aku yang tidak tahu? ". Ucap Marvin getir.


" Ya.. Hanya kau yang tidak tahu. Apa saja yang kau lakukan sampai kau tak memperhatikan perubahan pada istrimu. Kemana saja kau? Suami macam apa kau? ".ucap Briyan penuh amarah.


" Dia juga tidak pernah mengatakan apapun padaku. Dia tidak pernah terbuka padaku semenjak kami menikah dan kau tahu itu. Kenapa kau tahu sedangkan dia tidak memberitahukan perihal kehamilannya padaku. Aku ayahnya Briyan, aku ayahnya ". Teriak Marvin sambil mengguncang tubuh Briyan. Suaranya bergetar menahan air matanya.


" Lalu aku harus apa Marvin. Dihari yang sama dia melihat calon anaknya, Dihari itu pula dia melihatmu bersama dengan seorang wanita. Disini dirumah sakit ini. Bahkan kalian tertawa bersama. Cih... Memalukan. Kau bilang kau akan mengadakan pertemuan. Tapi nyatanya kau bersama wanita itu". Ucapan Briyan memukulnya telak.


" Kenapa kau tak mencoba memberitahuku? ". Marvin terduduk lemas.


" Marinka melarangnya, kau puas! Dia mulai menyukaimu, dia mencintaimu. Tapi dia tidak pernah tahu bagaimana perasaanmu kepadanya ". Briyan benar-benar kesal saat ini.


" Sudahlah,, kalian tenanglah. Jangan berdebat ". Tuan Mike melerai.


******


Waktu sudah hampir pagi. Marvin masih menunggu Marinka yang tak sadarkan diri. Dia duduk disamping ranjang istrinya. Dipandanginya wajah Marinka yang masih terlelap. Wajahnya masih pucat.


Kini dia bingung apa yang harus dikatakan pada Marinka saat dia nanti terbangun. Dan perlahan Marinka mulai terbangun. Matanya mengerjab menyesuaikan cahaya ruangan.


"Kau sudah sadar? ". Ucap Marvin lembut sambil terus menciumi puncak kepala Marinka. Marinka hanya mengangguk dia merasakan tubuhnya sakit luar biasa.


" Jangan banyak bergerak berbaringlah ".


Tak lama paman, bibi dan dokter Amelia pun memasuki ruangan itu.


" Bagaimana keadaanmu sayang? ".


" Aku baik bibi hanya saja perutku rasanya seperti ditusuk-tusuk. Apa semuanya baik-baik saja? ". Tanya Marinka. Mereka hanya saling memandang. Marvin lalu memeluk Marinka. Tapi Marinka kemudian mendorong pelan Marvin.


" Ada apa sebenarnya? Katakanlah bibi, aku sudah tak masalah jika Marvin tahu kehamilanku ". Ucap Marinka.


" Maaf nona,kami terpaksa mengatakan ini. semalam kami telah melakukan kuretase. Anda mengalami syok dan pendarahan hebat". Ucap dokter Amelia penuh sesal. Wajah Marinka berubah pias. Tubuhnya mematung.


" Sayang,, semua akan baik-baik saja ". Tuan Mike membawa Marinka yang mematung dalam dekapannya.


" Dokter pasti berbohong,, aku.. Aku hanya sedikit lelah waktu itu. Dia tidak mungkin sudah tidak ada. Katakan ini tidak benar. Kemarin aku masih makan es krim bersamanya. Aku merawatnya dengan baik tiga bulan ini. Ini tidak benar". Marinka mulai histeris. Pandangan Marinka tertuju pada Marvin yang duduk disebelahnya.


" Kau membunuhnya,, kau menyakiti anakku. Kau membunuhnya... ". Marinka histeris sambil terus memukuli Marvin. Marinka mulai tak terkendali. Akhirnya dokter Amelia terpaksa memberinya obat penenang. Perlahan racauan Marinka mulai berhenti. Mereka akhirnya memilih meninggalkan ruangan itu, hanya tersisa Marvin disana.


Marvin pun sama hancurnya, kehilangan putranya disaat dia baru mengetahui keberadaan. Semua terjadi begitu cepat. Belum sempat dia membelai anaknya didalam perut Marinka. Tapi anak itu harus terpaksa dikeluarkan.


"Aku akan menebus semuanya,, aku juga mencintaimu. Kelak jangan menyembunyikan apapun dari lelaki bodoh sepertiku ".

__ADS_1


************


__ADS_2