Pilihan Terakhir

Pilihan Terakhir
26. Berusaha Menerima


__ADS_3

PLEASE LIKE YAA.... 🙏🙏😘😘😘😘


HAPPY READING


*********


"Bersihkan dirimu, lalu istirahatlah". Ucap Marvin setelah sampai diapartemennya.


"Ada dua kamar disini, tapi aku tidak mau kita tidur terpisah. Kau mengerti? ".


" Aku mengerti... ". Jawab Marinka.


Marinka dulu sering berkunjung kesini.


Hanya saja sekarang sedikit canggung, dulu dia sering datang mengganggu Marvin. Tapi kali ini memasuki ruangan ini membuat suasana sedikit berbeda.


Setelah membereskan barang masing-masing


Mereka akhirnya membersihkan dikamar mandi yang berbeda.


Marinka mandi dikamar utama dan Marvin dikamar yang satunya.


Tak butuh waktu lama Marvin sudah selesai. Dia menunggu Marinka disofa kamarnya.


"Marinka kemarilah, aku ingin bicara denganmu? ". Ucap Marvin datar setelah melihat Marinka keluar dari kamar mandi.


"Kenapa? Ada apa?". Ucap Marinka gugup. Entah apa yang ingin dibicarakan dengan wajahnya yang datar itu. Marinka masih enggan mendekat membuat Marvin tak sabar lantas menariknya. Marvin merasakan tangan Marinka sedikit basah dan dingin.


" Kenapa tanganmu dingin sekali? Apa kau sedang takut? ". Tanya Marvin tetap dengan wajah datarnya.


" Tidak.. Bukan begitu.. Aku tidak takut ". Jawabnya terbata. Marvin lalu menarik Marinka duduk bersama disofa.


" Katakan padaku, kenapa kau begitu ceroboh? Kenapa kau tidak bisa belajar dari pengalaman sebelumnya sampai Sibodoh itu bisa masuk kekamarmu dua kali". Marvin berucap tanpa basa basi.


"Maafkan aku, aku pikir dia tidak akan datang, bibi Hana bilang semua orang ikut bibi mouli. Aku pikir aku hanya sendirian dirumah. Itu pun tak berselang lama setelah kita melakukan panggilan Marvin ". Jawabnya menunduk merasa bersalah.


" Dengarkan aku, aku tidak bisa mengawasimu dua puluh empat jam. Jadi belajarlah melindungi dirimu sendiri ". Ucap Marvin tegas. Entah kenapa ucapan Marvin ini membuat sesak Marinka. Tak terasa cairan bening itu turun membasahi pipi Marinka.


" Aku tau, maafkan aku yang selalu menyusahkanmu, aku akan lebih berhati-hati lagi". Ucapnya tercekat. Marvin menghela nafas panjang.


"Apa ucapanku menyakitimu? ".


Marinka menggeleng pelan." Aku hanya takut aku__".


"Aku tau.. Tidak usah kau lanjutkan. Sejauh ini aku paham maksudmu. Aku minta maaf.. Sekali lagi maafkan kecerobohanku. Baiklah.. Jika bicaramu cukup, Aku permisi. aku mau istirahat dulu aku lelah sekali ". Ucap Marinka lalu beranjak mengambil bantal dan selimut kesayangannya dari kopernya. Marvin masih mengamati yang dilakukan Marinka, sampai kemudian istrinya itu kembali kesofa itu lagi.


" istirahatlah Marvin, apa kau tidak lelah?". Tanya Marinka.


"Aku juga lelah, tapi kau mau kemana? Tidurlah disana ". Marvin menunjuk ranjang besar diruangan itu.


" Aku tidur disini saja. Kau melarang ku tidur terpisah kamar kan?Jadi biarkan aku tidur disini saja dulu". Jawab Marinka datar. Rasanya emosinya masih belum stabil. Setelah hatinya dibuat sesak, lalu mereka harus berbagi ranjang. Rasanya malas sekali.


" Apa kau tidak mau tidur disana? Kau tidak mau berbagi ranjang denganku? ". Ucap Marvin lalu berdiri didepan Marinka. Berusaha memahami dengan apa yang ada dipikiran wanita yang telah menjadi istrinya itu.


" Tidak... ". Jawab Marinka singkat lalu mulai merebahkan dirinya disofa membelakangi Marvin.


Marvin hanya mampu mengusap wajahnya.

__ADS_1


" Apa aku salah bicara ". Gumam Marvin samar terdengar oleh Marinka.


" Aku mencoba berusaha membuka hatiku. Tapi mungkin benar kata David, ada seseorang yang mengisi hatimu yang tak ku ketahui ".


Batin Marinka seraya memejamkan matanya sebutir airmatanya ikut jatuh bersamaan dengan itu.


*****


Pagi ini Marvin dan Marinka tengah bersiap berangkat ke kantor masing-masing.


" Kenapa berangkat pagi sekali ".


" Aku akan bertemu klien. Ini proyek yang sangat penting untukku. Ini adalah proyek pertamaku".ucapnya dengan seulas senyum.


"Kau tidak sarapan dulu? ".


" Aku sudah minum susu".


" Baiklah, aku akan mengantarmu ". Marvin menawarkan.


" Tidak usah Marvin, aku naik taksi saja. Kau juga sibuk kan akhir-akhir ini. Aku tak mau merepotkanmu terus ". Ucap Marinka hendak pergi meninggalkan meja makan itu, namun Marvin meraih tangannya.


" Marinka, apa kau marah dengan ucapanku semalam? ". Tanya Marvin lembut.Marinka menghela nafas pelan setengah berfikir.


" Entahlah.. Aku hanya bingung. Beberapa waktu lalu kau bilang aku boleh bergantung padamu sesukaku selama kau mampu. Tapi semalam kau bilang aku sudah harus bisa menjaga diriku sendiri. Jadi aku putuskan untuk tidak terlalu bergantung padamu". Marinka lalu melepas pelan tangan Marvin.


"Jangan keras kepala, aku tak mau berdebat. Ini masih pagi ". Marvin bergegas menghabiskan sarapannya agar bisa mengantar Marinka kekantor.


Akhirnya Marinka pun menuruti Marvin. Dia juga sudah malas berdebat. Tak sampai satu jam mereka sudah sampai.


" Kau tidak turun? ". Tanya Marinka.


"Baiklah, sampai jumpa nanti dirumah ". Kata Marinka berbinar. Membuat Marvin menghangat.


Dasar wanita cepat sekali marah tapi cepat sekali mereda.


*****


Sudah tiga bulan semenjak kejadian itu. Hubungan Marvin dan Marinka sudah mulai menghangat. Marinka sudah bisa diandalkan dikantornya. Dia berusaha keras agar tidak dipandang sebelah mata. Perusahaannya pun mulai mendapat kepercayaan dari investor.


Hari ini karna akhir pekan, mereka sengaja bangun lebih siang. Marinka sudah tidak berdebat lagi soal berbagi ranjang. Saat masih terlelap tiba-tiba ponsel Marvin berdering.


Drtttt.... Drtttt.....


Marvin berusaha meraih ponselnya diatas nakas.


"Ya Leo...... ".


"..............".


" Astaga, aku melupakannya. Baiklah satu jam lagi aku berangkat".


Tut... Tut... Tut...


Marvin merenggangkan otot tangannya. Kemudian menatap lekat wajah Marinka yang sedang damai terlelap. Mengusap lembut rambutnya yang tergerai. Gerakan Marvin membuat Marinka terusik dan menggeliat.


"Marvin, kau sudah bangun ". Ucap Marinka parau.

__ADS_1


" Hmmm.. Maaf membangunkanmu ". Ucapnya sambil terus memainkan rambut panjang Marinka.


" Apa kau butuh sesuatu, kau mau sarapan apa. Biar aku buatkan ".


" hmmm... Nanti saja. Hari ini aku mau ke panti. Apa kau mau ikut? Ada acara amal disana. Banyak juga orang penting yang datang ".


" Jika aku tidak ikut apa kau akan marah? ". Tanya Marinka hati-hati sambil menatap Marvin disebelahnya.


" Tidak.. Kenapa aku harus marah, aku tau kau lelah. Istirahatlah hari ini. Besok aku ajak kau jalan-jalan ". Ucap Marvin sambil mengecup puncak kepala Marinka.


" Aku mau membersihkan diri dulu ". Lanjutnya lalu beranjak meninggalkan Marinka.


Akhirnya mau tak mau dia pun bangkit kemudian membersihkan diri juga dikamar mandi satunya.


Saat sampai didapur Marvin mendapati Marinka yang sedang membuat omelet sayur untuknya. Marvin mengamati Marinka yang terlihat manis dengan dress rumahan diatas lutut berwarna fanta, sangat kontras dengan kulitnya yang putih.


Marvin memeluknya dari belakang membuat Marinka terkejut sampai-sampai dia hampir menjatuhkan omelet ditangannya.


"Marvin kau mengejutkanku ". Ucapnya kesal.


" Kau ini,, kenapa mudah sekali terkejut ". Ucap Marvin sambil terus memeluk Marinka.


" Sarapanmu sudah siap, ayo kita makan". Ajak Marinka tapi Marvin rasanya enggan sekali melepas pelukan itu. Lalu Marvin membalikkan tubuh Marinka berhadapan dengannya.


"Bolehkah aku sarapan yang lain?".ucap Marvin penuh arti. Marinka menatapnya bingung.


"Apa Kau mau sandwich tuna? ". Tanyanya polos membuat Marvin terkekeh. Marvin lalu menuntun ibu jarinya kebibir Marinka, seketika membuat Marinka membeku. Selama kurang lebih tiga bulan ini mereka berusaha menerima keberadaan masing-masing. Meskipun belum ada kontak fisik yang berarti.


"Bolehkah aku...... ". Ucap Marvin lembut meminta izin. Marinka paham maksudnya. Mungkin ini saatnya. Tidak mungkin dia membiarkan Marvin menunggu lama. Karna pada kenyataannya Marvin adalah suaminya.


Marinka mengangguk tipis, disambut senyuman Marvin.


Akhirnya bibir mereka pun bertemu untuk pertama kalinya. Membuat mereka sama-sama sedikit gemetar. Tak ada penolakan ataupun bantahan dari Marinka. Dimulai dari kecupan kecupan ringan. Marvin memulai dengan lembut dan hati-hati. Tangan Marinka mulai meremas ujung kemeja Marvin.


Semakin lama Marvin semakin dalam dan menuntut sampai hampir membuat Marinka kehabisan nafas dan nyaris limbung.


Marinka lalu menepuk pelan dada Marvin agar berhenti. Marvin lalu menyudahinya dengan tatapan sedikit kecewa.


"Maaf.. Tapi nanti kau terlambat. Waktumu tinggal tigapuluh menit lagi ". Ucap Marinka dengan senyum simpul.


" Baiklah... ". Jawab Marvin malas.


" Hey... Kita masih punya banyak waktu. Aku tidak akan kemana-mana ". Kata Marinka membuat Marvin berbinar.


" Trimakasih.. Aku akan berangkat sekarang ". Ucapnya sambil memeluk Marinka.


" Sarapanmu? ".


" Aku sudah mendapatkannya ". Jawab Marvin lembut. Lalu mendaratkan ciuman singkat dibibir Marinka,membuatnya bersemu merah.


" Berhati-hatilah.. Aku menunggumu ". Ucap Marinka lalu berjinjit memberikan satu kecupan dipipi Marvin. Marvin tersenyum mengangguk lalu pergi menghilang dibalik pintu.


" Mulai sekarang aku tidak akan menyia-nyiakan hubungan ini ". Gumam Marinka berbinar.


******


Jangan lupa LIKE & KOMEN ya....

__ADS_1


Ga VOTE ga papa...


Yang penting LIKE..... Komen....


__ADS_2