
Beberapa dokter dan perawat terlihat tergesa-gesa menuju kamar perawatan Emily dan putrinya. Beberapa waktu lalu Marvin dan Marinka sempat melihat Emily dan putrinya . Namun Emily belum juga siuman. Sedangkan putrinya yang malang masih berada diinkubator dengan beberapa alat yang menempel ditubuh mungilnya. Marinka rasanya sulit bernafas menyaksikan pemandangan itu. Bagaimana bisa bayi sekecil itu sudah menderita bahkan sejak dia lahir.
Berkali-kali Marinka menyusutkan airmata yang menggenang disudut matanya. Sementara Marvin hanya mampu mengusap pundak Marinka menguatkannya. Meskipun Marvin tidak begitu dekat dengan orangtua sibayi, setidaknya dia juga akan menjadi seorang ayah. Sedikit banyak dia juga merasakan kesedihan yang dialami Thomas saat ini. Marvin mencoba menurunkan egonya disini.
"Aku takut sekali Marvin, aku takut akan terjadi sesuatu yang buruk pada putri Emily". Ucap Marinka disela isaknya yang tertahan.
"Jangan berpikir macam-macam. Dokter akan melakukan yang terbaik. Kita hanya bisa berdoa saja. Jangan terlalu bersedih. Pikirkan bayi kita didalam sini juga. Jangan sampai mereka ikut bersedih". Ucap Marvin lembut sambil mengusap perut Marinka yang masih rata. Marinka hanya mengangguk perlahan.
"Aku pikir Emily melakukan operasi karna ada yang salah dengan dirinya, bukan putrinya. Kenapa bayi Malang itu bisa punya penyakit jantung bawaan? Aku rasa semua keluarga mereka sangat sehat. Begitu juga Emily dan Thomas. Seingatku mereka tak punya riwayat penyakit serius".
"Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi Marinka. Terkadang kita sudah berusaha sekuat tenaga agar semua baik-baik saja. Tapi kadang Tuhan berkata lain. Kita kembalikan kepada Tuhan saja. Dia pemilik segalanya. Kita tidak bisa menyalahkan siapapun atas kemalangan yang menimpa kita ". Ucap Marvin lembut. Sejenak Marinka menatap penuh selidik.
" Kenapa mendadak bicaramu benar? Dasar aneh. Kau adalah orang yang tidak pernah peduli pada sekitarmu. Kecuali..... Wanita itu". Marinka menurunkan nada suaranya saat mengucap kalimat terakhir. Membuat Marvin menundukkan wajahnya demi melihat wajah Marinka yang menggemaskan. Marvin lalu tersenyum.
"Jangan memulai sayang, kita sedang menata perasaan kita masing-masing bukan? Jika kau bertanya sejak kapan aku lebih peduli? Maka jawabannya adalah saat aku kehilangan anak kita, kemudian kehilangan papa Louis. Bagiku itu pukulan terberat meskipun aku terlihat biasa saja". Ucap Marvin yang tiba-tiba tercekat. Marinka yang menyadari itu lantas memeluk Marvin erat.
"Aku tidak ingin kehilangan apapun lagi Marinka. Aku terlahir tidak punya siapapun. Aku harus fokus pada apa yang aku miliki, bukan pada apa yang tidak kita miliki. Itu akan memudahkanku untuk bersyukur. Sekarang aku punya kau dan anak-anak kita". Ucap Marvin sambil mencium puncak kepala Marinka. Entah kenapa sejak melihat Emily dan putrinya yang tak berdaya membuat hatinya melemah. Terlebih lagi saat melihat rival abadinya terduduk lesu menunduk sambil menggenggam tangan istrinya yang masih belum sadar. Dan terkadang pandangannya pun tak lepas pada putrinya yang berada diruangan itu pula. Perhatiannya terbagi, pikirannya pun bercabang. Thomas sangat terlihat begitu terpukul saat ini. Tidak ada lagi wajah arogannya disana. Wajah angkuh dan sombongnya pun tidak terlihat. Hanya tatapan sendu yang berhasil Marvin tangkap saat mereka bertemu sekilas tadi. Tanpa saling menyapa pun keduanya tahu keadaan masing-masing dari mereka. Hanya tatapan penuh simpati yang bisa Marvin tunjukkan.
__ADS_1
"Kau punya kita Daddy, kau tidak sendiri lagi". Ucap Marinka membuyarkan lamunan Marvin.
Tiba-tiba terdengar tangis pilu dari kamar Emily. Tangisan dari orangtua Emily dan Thomas. Seketika Marinka gemetar. Dia sangat ketakutan sekali. Rasanya dia ingin ikut masuk kedalam ruangan itu.
"Marvin, apa yang terjadi? Kenapa bibi Julia menangis? Apa yang terjadi pada Emily? ". Marinka berucap gugup.
" Tenanglah sayang, mari kita cari tahu". Marvin menuntun Marinka memasuki ruangan itu. Terlihat beberapa perawat melepas semua alat bantu yang menempel pada tubuh mungil bayi Emily. Sedangkan Emily sendiri belum sadar. Terlihat Thomas berdiri dengan tatapan kosong. Seolah tak percaya dia kehilangan putrinya. Lama Thomas mencoba menelaah yang terjadi. Kemudian Marinka memberanikan dirinya mendekati Thomas. Seketika Thomas menyadari kehadiran Marinka dan seketika itu pula Thomas memeluk erat Marinka. Hingga hampir membuat Marinka jatuh tak seimbang.
Tentu saja Marvin menahan rasa kesalnya. Bisa jadi ini akan mengganggu kehamilan Marinka jika mereka tidak hati-hati. Marvin mencoba menahan punggung Marinka agar Marinka tidak terjatuh karna menahan tubuh Thomas yang sedang memeluknya dalam tangis.
"Aku kehilangan putriku Marinka". Thomas meratap pilu. Marinka hanya bisa mengusap punggung Thomas menenangkannya.
"Aku hanya tidak tahu bagaimana caraku menjelaskan pada Emily jika dia siuman nanti. Aku tidak tahu harus bicara apa jika dia menanyakan putrinya". Thomas makin terisak.
"Aku pernah berada diposisimu, dan itu tak mudah untuk Emily. Kita hanya bisa membantunya mengerti Thomas. Memang tidak ada yang baik-baik saja saat kita kehilangan. Tapi setidaknya kehadiran kita akan sedikit menghiburnya. Jangan meninggalkannya ". Ucap Marvin sambil menepuk bahu Thomas pelan.
Pelukan Thomas berpindah pada Marvin. Tubuhnya bergetar seiring tangis yang semakin mengiris. Marvin pun tak mampu membendung airmatanya. Kesombongan dua orang ini akhirnya terpatahkan saat harus dihadapkan pada sebuah kehilangan.
__ADS_1
Marvin menepuk-nepuk punggung Thomas. Akhirnya mereka mengurai pelukan itu saat dokter harus segera mengurus jenazah putri Thomas. Dengan berat hati Thomas harus merelakan putrinya segera dikebumikan.
Thomas mendekati tubuh Emily yang masih tertidur diranjang pasien. Thomas memberikan beberapa kecupan diwajah wanita itu. Wanita yang awalnya tidak pernah dia inginkan. Wanita yang dia cintai setengah hati namun rela bertaruh nyawa demi memberikan keturunan untuknya. Seketika Thomas sesak mengingat beberapa perlakuan buruknya pada Emily saat awal menikah. Tidak ada yang tahu bagaimana persisnya kehidupan pernikahan mereka hingga sampai pada titik ini.
"Aku meminta maaf padamu Emily. Aku tidak bisa menjaga putri kita. Aku akan mengambil gambarnya untukmu. Agar kau bisa melihatnya saat kau siuman. Kau bisa mengenangnya. Dia sangat cantik sepertimu. Sekali lagi maafkan aku Emily". Thomas mengakhiri ucapannya lalu pergi dari ruangan itu untuk mengurus jenazah putrinya.
"Bahkan kau pun belum sempat melihat wajah putrimu". Ucap Thomas dalam hati.
Marvin dan Marinka masih disana. Mereka juga merasa kehilangan.
"Marvin apakah mungkin mereka sudah bertemu dialam sana?".
Marvin masih mencerna pertanyaan Marinka. Seketika pandangan mereka bertemu.
"Anak kita dan Emily. Apa menurutmu mereka sudah Merencanakan ini? Mereka bersama saat masih berada dalam kandungan kan?". Ucap Marinka dengan tatapan kosong.
"Jangan konyol, sudahlah jangan dipikirkan".
__ADS_1
********