
Marinka duduk diranjang rumah sakit dengan tatapan kosong. Berkali-kali paman, bibi, dan Marvin membujuknya untuk makan. Tapi tak ada sepatah katapun keluar dari mulutnya. Dia masih tidak percaya kehilangan bayinya.
Tiba-tiba Marinka menutup wajahnya kemudian menangis histeris. Mulai memukuli dirinya sendiri. Membuat tiga orang itu kewalahan.
"Jangan menyakiti dirimu sendiri. Aku mohon padamu ". Ucap Marvin pilu.
" Aku mau anakku, kembalikan ". Teriak Marinka memukul bahkan mencakar Marvin.
" Aku mohon jangan seperti ini, kendalikan dirimu ". Marvin lalu memeluk Marinka erat.
" Aku tahu aku salah, mari kita mulai lagi dari awal. Maafkan aku ".
" Lepaskan aku, tinggalkan aku, pergilah ". Marinka memberontak. Berusaha terlepas dari Marvin.
" Sayang jangan seperti ini, ". Paman Mike menasihati.
" Paman aku ingin pulang,, aku ingin bersama bibi elly. Aku ingin pulang ". Ucapnya sambil menangis memeluk pamannya.
Marvin menatap getir pada istrinya. Dia bahkan tidak mau lagi berbicara padanya. Marinka benar-benar membencinya. Harus dengan cara apa dia meminta maaf.
Saat sedang kalut itulah datang Thomas juga Emily. Marvin hendak mengusirnya. Tapi diurungkan karna tidak mau membuat semuanya semakin kacau. Terlihat Emily menghampiri Marinka. Emily tak kuasa menahan airmatanya. Kemudian memeluk Marinka. Membuat Marvin terkejut. Sedangkan Thomas hanya menatap tajam Marvin.
"Ada apa denganmu? Kenapa jadi seperti ini? Kau berjanji akan selalu menemaniku memakan cotton candy kan. Kenapa kau berbohong? ".Emily menangis tergugu sambil memeluk Marinka.
" Maafkan aku Emily, aku tidak bisa menepati janjiku. Maafkan aku ". Marinka semakin tergugu.
" Tenanglah semua akan baik-baik saja. Aku bersamamu ". Ucap Emily sambil mengusap punggung Emily.
" Tidak Emily, semua tidak baik-baik saja. Aku kehilangan anakku. Aku sudah bersamanya tiga bulan ini ". Marinka semakin tergugu.
Thomas tak kuasa melihat Marinka terpukul seperti itu. Sepanjang wanita itu bersamanya dia tidak pernah bersedih apa lagi menangis. Wanita itu selalu ceria dan selalu menghantarkan keceriaan pada orang-orang yang ada didekatnya.
Thomas kembali menatap Marvin. Tatapan mereka beradu. Kemudian secepat kilat Thomas menarik kasar Marvin membawanya keluar ruangan. Lalu menghempaskannya kedinding dengan kasar.
"Apa maksudmu? ". Ucap Marvin tertahan.
" Kau masih bertanya apa maksudku? Apa yang telah kau lakukan padanya sampai-sampai dia kehilangan bayinya? Hah? ". Thomas mencengkeram kerah kemeja Marvin.
" Tidak ada yang kulakukan, memangnya kau pikir apa? Kau pikir aku menyiksanya? Apa aku orang seperti itu? ". Ucap Marvin menepis kasar tangan Thomas.
" Memang benar kau tidak menyiksa tubuhnya, tapi kau menyiksa batin dan pikirannya".
"Apa pedulimu? Siapa kau? Kau tidak berhak mencampuri urusanku! ". Hardik Marvin.
" Aku memang tidak berhak. Tapi selama itu dengan ada hubungannya dengan Marinka, aku akan menjadi orang pertama yang melindunginya ". Ucap Thomas penuh penekanan.
__ADS_1
" menjauhlah dari bayang-bayang Marinka. Dia istriku ".
" Dan kau suami yang tidak bisa menjaga istrinya. Dan bahkan kau tidak tahu dia sedang mengandung anakmu ". Ucapan Thomas memukulnya telak.
" Kau juga tahu dia sedang hamil? Bahkan dia memberitahumu ". Ucap Marvin getir lalu menyadarkan tubuhnya pada dinding. Kemudian dia membungkuk bertumpu pada kedua lututnya.
" Dia tidak pernah memberitahuku. Tapi aku tahu saat Emily dan Marinka secara bersamaan mendatangi dokter Amelia ". Jelas Thomas.
Marvin menggeleng tak percaya. Dari semua orang terdekat Marinka hanya dirinya yang tidak menyadari perubahan itu.
" Jadi benar semalam Emily bersama kalian? Juga kemarin? ". Tanya Marvin lirih. Thomas berusaha mencerna.
" Apa kau sungguh tidak percaya pada Marinka? Jadi kau pikir dia berbohong padamu? ".
" Entahlah.... Aku tak ingin percaya. Tapi jika kau berada diposisiku mungkin kau juga akan marah ". Ucap Marvin sambil menyodorkan ponselnya. Thomas menerima dengan ragu.
" Apa ini? ".
" Lihatlah.. ". Jawab Marvin datar.
" Ini... Dari mana kau mendapatkannya? ". Tanya Thomas tak percaya dengan yang dilihatnya.
" Aku tidak tahu. Seseorang mengirimkannya padaku ". Jawab Marvin sambil mendudukkan tubuhnya dikursi yang tersedia dilorong itu.
" Astaga... Pasti ini yang membuat Marinka tertekan ". Gumam Thomas. Kemudian Thomas mengeluarkan ponselnya lalu berbicara dengan seseorang disebrang.
********
Ruangan serba putih itu hanya tinggal menyisakan dua orang saja, Marvin dan Marinka. Beberapa waktu lalu paman, bibi, Thomas dan Emily berpamitan. Marvin duduk dikursi sedikit menjauh dari ranjang Marinka.
Sementara Marinka duduk bersandar sambil sesekali mengusap airmatanya yang terkadang masih keluar. Sesaat mata Marinka menatap wajah Marvin yang terpejam dengan posisi duduk. Kedua tangannya bersedekap. Ada beberapa bekas cakaran diwajah dan lengan pria itu.
Sejenak wanita itu merasa bersalah. Mungkin Marvin sangat lelah. Sejak kemarin dia juga belum istirahat dan belum makan dengan benar. Saat sedang menatap suaminya itu,tiba-tiba manik coklat itu terbuka dan langsung tertuju pada Marinka. Marvin terkejut Marinka menatapnya dalam sambil berurai airmata.
"Kau tak apa? Apa ada yang sakit? ". Ucap Marvin lalu mendekati Marinka. Marvin menggenggam tangannya. Marinka tak lagi menolak ataupun histeris seperti sebelumnya.
" Tidak... ". Jawab Marinka singkat." Apa kau sudah makan? Makanlah nanti kau sakit ". Lanjut Marinka. Marvin menggeleng.
" Jika kau mau menemaniku makan, maka aku akan makan ". Ucap Marvin.
" Tapi aku tidak lapar ". Ucap Marinka sambil memilin kedua tangannya yang berada dipahanya.
" Apa kau tidak bekerja? ".
" Apa perlu aku jawab pertanyaan konyolmu itu? ". Ucap Marvin datar.
__ADS_1
" Makanlah, Nanti kau sakit Marvin ".
" Aku sudah terbiasa lapar dan sakit bersamaan sejak aku kecil. Jadi jangan khawatir ". Ucap Marvin datar membuat Marinka sedikit bersalah.
" Aku tidak ingin kau sakit gara-gara aku. Makanlah ". Ucap Marinka pelan.
" Kau disini juga gara-gara aku. Jadi biar aku yang membayarnya ". Ucap Marvin tercekat. Tak terasa sebutir airmata Marvin jatuh. Pria itu menangis untuk pertama kalinya setelah dia dewasa.
" Maafkan aku karna tak jujur padamu ". Ucap Marinka pilu. Marvin lantas memeluk wanita itu.
" Apa yang kau katakan, aku yang harusnya minta maaf. Aku tak melihat perubahanmu. Mari kita mulai lagi dari awal. Mari kita saling terbuka ". Ucap Marvin. Marinka hanya mengangguk. Berulang kali Marvin mencium puncak kepala Marinka. Dia sangat bersyukur Marinka mau berbicara lagi dengannya.
Marvin lantas mengambil sepiring nasi lengkap dengan lauk pauknya kemudian mulai menyuapkan pada istrinya itu. Tak lupa dia juga menyuapkan pada dirinya. Dia tidak menyinyiakan kesempatan itu.
Dia khawatir nanti Marinka berubah pikiran dan tidak mau makan lagi. Sesekali Marvin merapikan rambut Marinka dan menjepitkannya dibelakang telinga. Mereka terlihat seperti seorang kakak yang sedang menyuapi adiknya.
Marinka kadang bersikap seperti anak kecil dan selalu manja pada Marvin. Seperti itulah mereka dari dulu. Namun semenjak pernikahan itu Marinka lebih tertutup dan lebih menahan diri. Dan Marvin memilih mengikuti alur yang diciptakan Marinka. Sama-sama tidak terbuka dan akhirnya berujung ditempat ini.
Tiba-tiba pintu terbuka. Marvin pikir itu perawat yang datang namun saat melihat perubahan diwajah Marinka lelaki itu langsung berbalik menatap kearah pintu. Marvin lantas menghela nafas berat.
"Bagaimana kabarmu kak, aku mencarimu dikantor ternyata kau disini ". Ucap Arina yang datang ternyata hanya untuk mengetahui keberadaan Marvin. Marvin tak menyahuti ingin rasanya dia mengusir wanita itu.
Marinka menolak suapan dari Marvin.
" Aku sudah kenyang ". Ucap Marinka lirih.
" Kau baru makan lima suap. Ayo buka mulutmu sekali lagi ". Ucap Marvin memaksa, tapi Marinka menggeleng. Marvin menyerah, setidaknya Marinka sudah makan sedikit. Marvin lalu menyodorkan minuman untuk Marinka. Marvin benar-benar mengabaikan Arina. Dan itu membuat Arina kesal.
" kakak, aku bicara padamu, kenapa mendiamkanku?". Tanya Arina sedikit merajuk. Marvin memijit pangkal hidungnya. Dia benar-benar kewalahan menghadapi Arina.
"Arina pulanglah... Dan jangan pernah mencariku ". Ucap Marvin tegas. Marinka kemudian berbaring membelakangi mereka. Dan menarik selimutnya sampai menutupi telinganya.
" Aku mengkhawatirkanmu, sejak kemarin kau tak menghiraukanku ". Ucapan Arina membuat Marinka menggigit bibirnya agar tangisnya tak keluar.
" Aku sedang menjaga istriku, jadi pulanglah. Dia butuh istirahat ". Ucap Marvin tajam.
Membuat Arina merasa marah.
" Baiklah.. Aku akan pulang. Aku turut prihatin atas bayimu ". Ucap Arina santai tak terlihat keprihatinan dari nada bicaranya.
" Dari mana kau tau Marinka kehilangan bayinya? ". Tanya Marvin penuh selidik. Dia tidak membiarkan berita ini tersebar mengingat namanya didunia bisnis sangatlah dikenal orang banyak. Dia tidak ingin banyak orang mengucapkan simpati berlebihan karna tidak mau semakin menyakiti Marinka.
Arina tersenyum lalu mendekat pada Marvin.
" Aku selalu tau apapun tentang kalian". Bisik Arina tepat didepan wajah Marvin.
__ADS_1
********